Terjerat Cinta Kalila

Terjerat Cinta Kalila
Titik Awal


__ADS_3

"Lil!" teriak Nana membangkitkan lamunan Lila yang masih menerawang sosok bidadara berhati baik yang sudah repot-repot membantunya membawakan barang saat di bandara.


"Apa?" jawabnya malas.


"Eh kenapa tuh muka?" tanya Nana yang bingung dengan perubahan raut wajah Lila. Biasanya ceria, tapi kini melempem seperti kue apem bantet.


"Gak ada," jawab Lila ketus hingga membuat kulit wajahnya terlipat. "Ada apa?"


"Besok kita mau diving. Ikut? Minnie dkk nyariin, katanya kangen sama kamu."


"Gak suka berenang," jawab Lila masih ketus.


"Serius tuh? Jadi badan tinggi ini dapat dari mana?"


"Makan tiang."


"Canda aja deh. Jadi ikut ya? Biar aku kasih tau yang lain di grup the ceweks nih."


"Hm. Yaudah."


"Btw, kita nginap ya. Minggu sore pulang. Biar aku bilang ke mama."


Setelah itu Nana secara heboh menuruni anak tangga dari kamar Lila ke dapur menyambangi mamanya demi meminta ijin membawa keponakannya menginap.


Tak seperti Nana yang sibuk dan bersemangat menghadapi kegiatan klubnya, membawa segala macam peralatan yang dibutuhkan untuk diving hingga membawa perbekalan yang tak kalah meriah saat Lila baru saja menginjakkan kaki ke kota Batam. Lila hanya membawa sebuah tas ransel lucu berwarna pink, dan beberapa potong baju tipis yang cocok ia gunakan di tengah laut mengingat betapa panasnya kota Tanjungpinang.


Tepat Sabtu siang, beberapa anggota klub berkumpul di pelabuhan. Hanya saja sedikit membingungkan bagi Lila karena orang-orang yang sudah berkumpul tidak seramai saat perhelatan tanpa tema yang pernah ia datangi pertama kali.

__ADS_1


"Gak usah heran, Lil. Memang yang serius sama kegiatan ya cuma segini. Dihitung jari gak habis. Yang lain cuma bunga-bunga dan antek-antek si Marcel dkk," jawab Minnie ketika Lila bertanya melalui mata herannya.


Tak lama muncul gerombolan Marcel yang disambut hangat oleh cewek-cewek di sana. Kemunculan mereka tuh seperti kemunculan Goo Jun Pyo and the gank, tau gak. Mencolok dan super meriah.


"Duh, mataku ternoda," celetuk gerombolan anti Gujunpyo lokal alias Nana, Minnie dan yang lainnya.


Sebuah kapal yacht menghampiri tepian. Kalau dari cerita Nana, kapal itu milik seluruh anggota klub yang mereka beli dari hasil pengumpulan uang kas setiap bulannya. Jumlah kasnya aja gak main-main. Setara uang jajan sebulan pemberian mama Lila saat masih kuliah dulu. Gila! Intinya this is anti kaleng-kaleng club.


"Tapi, siapa tuh di samping Marcel?" seorang perempuan menarik perhatian semua orang termasuk Lila.


Pastinya desas desus tentang perempuan itu menggema di kelompok itu. Ada yang iri, ada yang sekedar kepo, dan bersikap bodo amat.


"Martha. Itu Martha. Katanya sih emang lagi dekat sama Marcel. Baru jadian bulan lalu," bisik Tania, member the ceweks bikinan Nana dan Minnie.


Mereka ini, katanya mau bersikap bodo amat, dan gak mengurusi urusan Marcel dkk, tapi kenapa selalu tau hal-hal pribadi begini. Pikir Lila yang bingung dengan kelakuan teman-teman Nana yang ternyata sama anehnya seperti Nana.


Selesai meletakkan tas dan bawaan ke kamar masing-masing, tak lupa Marcel beserta sponsornya dengan cekatan menyediakan kudapan sebagai ritual penting sebelum meluncur ke laut biru. Sontak Lila jadi tergoda melihat jernihnya laut.


"Gak masalah nih, Kak, aku ikut dan makan begini?" tanya Lila ke Minnie yang masih merasa segan dengan keikutsertaan dirinya.


"Udah gak masalah. Buktinya tuh, dia bisa di sini!" tunjuk Minnie ke arah Martha yang duduk menggeliat di samping Marcel yang sedang asyik bercengkerama dengan Fandi, Aji, Carlos, dan Lea.


"Demian mana sih?" tanya Lea di tengah-tengah kegiatan makan mereka.


"Berisik! Dari kemarin nanya Demian mulu. Peliharaannya lo ya?" kesal Fandi yang tak nyaman dengan rengekan Lea.


"Masih dihukum tuh anak. Gak usah heboh. Minggu depan dah balik kok," jawab Carlos.

__ADS_1


Barulah Lea tenang mendengar jawaban Carlos. Sebagai wanita yang memiliki kepekaan dan intuisi yang tinggi, Lea menyadari ada yang terus memperhatikan gerak geriknya dari kejauhan. Siapa lagi? Kelompok Minnie, entah mengapa saat itu Nana sedang tidak ada. Dan menitipkan Lila bersama Minnie.


"Itu cewek-cewek kenapa sih? Sensi banget kalau lihat kita?" celetuk Lea yang menarik perhatian para pria untuk menoleh ke arah yang dituju.


Begitu kagetnya Marcel saat ia mendapati Lila di tengah gerombolan cewek yang dimaksud Lea. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Sesuatu yang tidak disangka datang bahkan tanpa diundang. Sekali lagi, Marcel tersenyum.


Tatapan mata Marcel kembali melekat ke arah Lila. Walaupun sebenarnya Lila merasakan tatapan itu seperti sebelumnya, tapi ia mencoba untuk bersikap cuek daripada harus beradu mata lagi ke pria itu.


"Guys, silahkan nikmati liburan ini. Yang mau langsung diving silahkan, yang mau tidur juga silahkan. Sebab semua ini adalah milik kita!" seru Marcel setelah semua orang di ruang makan selesai dengan acara makannya.


Seolah kalimatnya barusan merupakan kalimat pembuka, semua orang bersorak dan bertepuk tangan untuknya. Inikah sebab mengapa Nana tak ada di sini? Menghindari sikap dominan Marcel terhadap klub ini, sementara ia sangat membenci pria itu. Alhasil, timbullah rasa penasaran yang berlebihan mengenai alasan kebencian terhadap Marcel.


"Kak, aku pernah lihat, wajah Nana waktu memandangi dia," tunjuk Lila menggunakan mulutnya ke arah Marcel tanpa disadari pira itu. "Ada aura pembunuhan di sana. Kenapa sih, kok sepupuku benci banget ke dia? Mereka pernah punya hubungan kah?" bisik Lila ke Tania tepat berada di sampingnya.


"Gak, mereka gak pernah punya hubungan apapun kok. Alasan Nana benci ke Marcel itu kurang lebih sama lah seperti kita. Ya karena dia sering gonta ganti cewek dan tukang selingkuh," jawab Tania.


"Bukannya dia sudah menikah, Kak?"


"Justru karena dia sudah menikah dan berselingkuh. Menjijikan."


Masih mau menelaah kata-kata Tania, mereka semua dibuat kaget dengan kedatangan Nana yang berisik.


"Weks, ayo nyelam. Aku udah kangen lautan," ucapnya.


Bukannya merasa terganggu dengan suara petir Nana, Minnie, Tania, dkk justru semangat menanggapi ajakan Nana. Sangking antusiasnya, mereka lupa bahwa ada Lila di sana, dan tentu saja ia tertinggal.


"Kampret, aku ditinggalin."

__ADS_1


Dari lubuk hatinya ingin segera ia loncat ke lautan. Tapi mengingat niat awalnya yang tak ingin berurusan dengan baju renang, ia pun tak membawanya. Yasudah, dilihatin sajalah.


__ADS_2