Terjerat Cinta Kalila

Terjerat Cinta Kalila
Penyerahan Diri


__ADS_3

Langkah kaki yang ringan telah membawa Lila kembali ke tempat maksiat yang menjadi saksi atas hilangnya keperawanan yang ia miliki selama lebih dari 23 tahun. Ya, ruangan pribadi Marcel.


Lila sudah berada tepat di depan pintu ruangan itu. Masih berharap ada keajaiban yang datang di detik-detik ia memasuki ruang tersebut. Keajaiban apapun boleh lah, 30 juta jatuh dari langit. Atau Marcel nya yang jatuh dari langit, biar hancur tuh badan. Tapi kalau dia mati, dirinya pasti tetap akan dihantui. Mengerikan.


"Ceklek.." pintu ruangan terbuka perlahan. Sosok Marcel terbalut pakaian kasual dan celana training muncul di sela-sela pintu yang terbuka.


Lila terkejut. Bukan karena pintu itu terbuka secara tiba-tiba. Melainkan penampilan laki-laki itu yang polos, tak seperti biasanya. "Hei pikiranku, dia adalah tersangka utama dalam kasus hidupku selama berada di kota ini," gerutunya dalam hati.


"Kan aku sudah kasih tau passwordnya. Kamu lupa?" tanya Marcel membuka obrolan.


Lila menggeleng pelan pertanda tidak. Dia hafal persis password pintu itu. Hanya nomor 7 dan 8 yang diulang-ulang. Tapi berat aja gitu rasanya memencet nomor-nomor itu.


"Jadi kenapa lama berdiri di luar? Ragu?" goda Marcel.


Perempuan itu tak menjawab. Lalu Marcel mempersilahkan Lila masuk dan mengikuti di belakangnya. Mengajaknya duduk di sofa ruang tamu dan bersandar santai di samping Lila.


"Berubah pikiran? Padahal ini belum 1x24 jam setelah pertemuan sebelumnya," Marcel masih asyik menggoda Lila yang tegang.


"Kumohon, Kak. Jangan menggodaku terus!" pinta Lila.


Kak? Kata Kak yang baru saja keluar dari mulut Lila menghentakkan ke-lelakian Marcel. Lila ini memang mengundang, gimana dia gak tergoda. Apalagi Marcel, yang katanya hidung belang. Cantik, modis, bertubuh bagus. "Hah...." desah Marcel melalui helaan nafas.

__ADS_1


"Jadi kamu setuju dengan perjanjian kita sebelumnya, kan?"


"Aku gak punya pilihan."


"Apanya yang gak punya pilihan. Kembali ke aku adalah pilihan yang bagus."


Marcel mendekati tubuh Lila yang seperti patung itu.


"Lalu, sekarang bisa? Ada yang kangen sama kamu nih," bisiknya ke telinga Lila.


Perempuan itu menghindar cepat. Menjauh dari tempat duduk yang tadinya bersebelahan dengan Marcel.


"Tentu saja kita bermain di belakang. Jangan sampai ketahuan ya, sayang. Terutama sepupu dan keluargamu. Ini hanya akan menjadi rahasia kita. Karena yang aku dengar, sesuatu yang terlarang itu jauh terasa manis dan menyegarkan."


Jawaban sialan seperti itu keluar dari mulutnya. Tapi anehnya mata Marcel mencerminkan sesuatu yang lain. Walau kesal mendapati fakta bahwa statusnya hanya sebagai selingkuhan, tapi Lila yang peka akan kelembutan secara cepat mengambil kesimpulan. "Dia menyembunyikan sesuatu tentang istrinya."


"Dasar sialan!" kali ini Lila tak mengucapkan di dalam hati. Bibirnya baru saja menceploskan kata umpatan secara tidak sengaja. Bukannya marah, Marcel justru tertawa keras sambil membanting dirinya ke sandaran sofa.


"Aku fikir kamu boneka yang cuma manut-manut aja disuruh ini itu. Ternyata bibirmu itu bisa mengumpat ya," goda Marcel sambil mencubit bibir mungil Lila yang baru saja menghina dirinya.


Tangannya meraih bibir itu, mengusap pelan bibir bagian atas dan bagian bawah Lila. Meleburkan lipstik yang sudah ditata rapi sebelum ia datang ke tempat itu. Lalu dikecupnya pelan si bibir tadi. Lembut, sangat lembut hingga Lila tak memberontak.

__ADS_1


Lalu tangan itu meluncur ke bagian gundukkan yang sedari tadi menantang nafsunya. Bukan main, apapun yang dimiliki Lila, sedikit berbeda dari kebanyakan perempuan yang sudah bermain dengannya.


"Sudah berapa banyak perempuan yang kamu tiduri?" tanya Lila di sela-sela fantasi liarnya saat Marcel menyentuh tubuhnya.


"Kamu gak perlu khawatir. Mister itu pemilih. Gak sembarangan memasuki siapapun," bisik Marcel lagi di telinga Lila.


Lagi-lagi Lila tampak pasrah. Sepertinya ia bisa meramalkan masa depannya saat itu juga. Sensasi takut, gugup, dan lainnya sama seperti waktu itu.


Dan benar saja, setelah puas bermain dengan setiap inchi dari tubuh Lila, Marcel dengan segera memasuki Lila dan melakukan kegiatannya.


Lila masih heran, rasa sakit yang ia ingat dan menghantui itu masih terasa. Walau tak sesakit saat itu. Tapi yang saat itu ia rasakan justru rasa yang lain. Yang juga tak pernah terbayang sebelumnya.


Marcel tak bersuara selain deruan nafasnya yang naik turun. Sesekali Lila melihat ke arah pria itu. Sama seperti sebelumnya, wajah Marcel terlihat sendu dan sedih. Entah hanya perasaan Lila saja, tapi mata pria itu berkaca-kaca.


"Dia ini kenapa?" tanya Lila dalam hatinya yang sangat penasaran pada pria itu.


Merasa Lila melihat wajahnya dengan tatapan bingung, Marcel menuntun Lila membelakangi dirinya agar ia bisa menyembunyikan ekspresinya.


Sontak saja, Lila yang tadinya merasa sedikit memaklumi dan mempertanyakan keadaan sebenarnya dari balik topeng Marcel, kini berubah merutuki pria itu.


Dalam hati ia mengumpat ke Marcel yang membuatnya seperti pela***, menangisi nasib dan harga diri yang selalu ia banggakan selama hidupnya harus terampas begitu saja oleh orang yang muncul entah dari mana.

__ADS_1


__ADS_2