Terjerat Cinta Kalila

Terjerat Cinta Kalila
Takdir?


__ADS_3

Dengan santai ia jalan dan mencari tempat duduk di sudut yang berbatasan langsung dengan pemandangan laut tanpa penghalang. Memesan makanan dan menunggu sambil menikmati aroma laut yang bisa langsung ia hirup. Namun ketenangan itu cuma bertahan sepersekian detik sebelum pikiran penatnya kembali secara bertubi-tubi, menyiksa hati dan kepalanya.


"Loh, mengapa ada orang di tempat duduk ku?" tanya seorang laki-laki yang diikuti seorang pelayan dengan langkah terburu-buru.


"Maaf, Mas. Kami fikir Mas gak datang ke sini, makanya tidak kami kasih tanda," sahut seorang pelayan pada pria yang suaranya mengganggu kemelutnya pikiran Lila.


"Ya kan kamu tau, setiap tanggal 7 saya ke sini buat makan," jawab si pria tadi dengan lembut.


"Maaf, Mas Marcel!" mohon seorang pelayan tadi dengan perasaan bersalah.


Lila sepertinya menyadari bahwa mereka sedang menyebutkan kursi yang sedang ia tempati itu. Tapi kaki yang sudah lemas itu tak mampu membuatnya berdiri.


Tapi, tadi pelayan itu manggil siapa? Marcel? Marcel yang itu? Sontak Lila menoleh ke arah keributan itu. Sekedar memastikan bahwa Marcel yang ia pikirkan tidak berada di sini.


"Benar!" gumamnya.


Marcel juga sama terkjutnya ketika mata mereka saling berpapasan. Menyunggingkan senyum tipisnya lalu mendekati Lila dan duduk di depan gadis yang sama sekali tidak tampak senang dengan kehadirannya.


"Pertemuan pertama itu kebetulan," tiba-tiba Marcel berceloteh. Sementara Lila yang jantungnya masih berdegub kencang. Salah satu keinginan terbesarnya saat ini adalah tak ingin menemui makhluk yang ada di depannya saat ini . "Pertemuan kedua itu juga kebetulan. Maka selanjutnya bisa dikatakan takdir," katanya menggoda gadis itu.


Lila hendak merapikan barang-barangnya dan ingin beranjak pergi. Tapi Marcel menghentikan niatnya, "Duduk dan makanlah dengan tenang. Karena aku juga sedang mencari ketenangan."


"Ketenangan kepalamu itu! Yang buat aku gak tenang itu kamu!" umpat Lila tentu saja dalam hati.


"Bukannya kamu yang tak ingin bertemu lagi denganku? Kenapa menahanku?" tanya Lila gemetaran.


"Entahlah, kalau soal pertemuan ini, tanyakan pada Tuhan. Kalau soal menahanmu, karena aku ingin melihatmu," jawab Marcel secara santai. Lalu kecanggungan menerpa keduanya. Mereka berdiam diri untuk waktu yang cukup lama.


"Sudah baikan?" tanya Marcel tiba-tiba saat suasana di antara mereka sudah hening.


Lila menoleh sejenak ke arah si penanya. Lalu ia mengangguk pelan. "Syukurlah," jawab Marcel sambil tersenyum.

__ADS_1


Tak lama, pesanan Lila datang. Disusul pesanan Marcel yang seabrek. Mata Lila terbelalak melihat ada 5 atau 6 jenis menu di atas meja.


"Makanlah yang banyak!" perintah Marcel.


"Kamu pikir aku babi?" tanya Lila ragu-ragu.


Mendengar protesan Lila, Marcel tertawa geli. Sangking gelinya, hampir saja makanan yang baru sesuap itu tersembur.


Dalam diam, mata Marcel memandangi makhluk indah yang ada di depannya. Perempuan itu tidak selera makan. Matanya hanya tertuju pada pemandangan lautan. Kelihatan sekali bahwa Lila masih shock akan kejadian yang berhubungan dengan dirinya. Pelan-pelan ia memotongkan steak dan memberikan ke depan gadis itu. Suara piring yang berdentum dengan meja menyadarkan Lila dari lamunan dan menyadarkan dirinya untuk mengalihkan pandangan dari laut.


Gadis itu tetap diam. Walau ia memakan sepiring steak yang tadi dipotong Marcel, membuat laki-laki itu tersenyum puas. Lalu Marcel juga memperhatikan pakaian Lila yang kelihatan manis dan segar. Gadis itu memakai atasan kemeja berlengan tiga perempat. Berbahan shiffon warna hitam. Baju itu dengan sengaja menampakkan bayangan dua gundukkan yang tak sempat ia nikmati karena pergerakan yang buru-buru saat itu. Lalu yang membuatnya manis, rok merah berbiku di atas lutut yang dihiasi tali pinggang kecil.


"Manis," ucap Marcel lagi secara random setelah matanya menelanjangi Lila. Tentu hal itu membuat Lila kaget. Pokoknya setiap Marcel bersuara, di jantungnya seperti ada petasan yang siap mencuat.


Pipi merah Lila menampakkan wujudnya. Biar dada dan jantung sedang berperang di dalam, namun wajah itu tak dapat disembunyikan. Itu membuat Marcel kembali tersenyum.


Marcel memang pandai menggoda. Makanya dia tak pernah kekurangan wanita. Bahkan, dia tak perlu perangkap saat ingin menjebak mangsa. Justru mangsanya sendiri yang akan mendatangi kandangnya. Tak terkecuali, mangsa yang saat ini ada di hadapannya.


Dan hari itu berakhir tanpa percakapan intens. Hingga hari berikutnya, pertemuan itu memberi kesan tersendiri di pikiran Marcel. Dia yang terus memperhatikan raut wajah Lila tak seceria sewaktu mereka bertemu pertama kali. Wajahnya menjadi pucat pasi dan tak bergairah.


"Kamu kenapa, sayang? Aku ada salah?" tanya Martha yang menyambut Marcel.


"Gak, gak apa-apa."


Seakan tergoda dengan senyum laki-laki tampan yang sedang menindihnya, wanita itu seketika menerjang leher Marcel dan mengulum kuat bibirnya dan dibalas dengan senang hati oleh Marcel.


Tak lama, bayangan Lila dengan mata yang berkaca-kaca saat sedang memandangi lelautan kembali merasuki Marcel. "Gawat!" Kali ini sudah tidak bisa ia teruskan.


Walau sedang merasuki tubuh wanita lain, Marcel takĀ  lagi menikmatinya. Kepalanya penuh dengan Lila. Bahkan seluruh memori ingatannya, dipenuhi tangisan pilu Lila saat ia mencicipi perempuan itu.


"Sepertinya cukup sampai di sini. Aku lupa ada rapat dengan klien!" kata Marcel yang kemudian melepas wanita itu dan beranjak meninggalkannya tanpa memberi penjelasan.

__ADS_1


Lalu ia berpakaian, dan keluar ke meja kerjanya. Duduk sambil merenungi dirinya yang saat ini telah diliputi rasa bersalah atau apapun itu pada Lila.


"Dia dah gila, ya?" katanya pada diri sendiri yang merujuk ke Lila.


Tiba-tiba Marcel diingatkan pada ucapannya ke Lila saat ia merenggut keperawanan gadis itu, 'Kalau kamu bersedia, aku berjanji tak akan memegang cewek lain selain kamu.'


Yah, walaupun Lila tak mengucapkan kesediaannya pada Marcel, tetap saja Marcel sudah merenggut gadis itu. Akibatnya, saat ini ia sedang diingatkan pada ucapannya sendiri. Sebagai laki-laki, wajib hukumnya untuk memegang kendali atas perkataannya. Maka jadilah, Lila menghantui dirinya bahkan saat ia bersama wanita lain.


Lalu matanya tertuju pada selembar kertas dan sebuah kartu debit yang amat ia kenal, di atas meja kerjanya. Marcel terhenyak. Menyadari ada seseorang yang masuk ke dalam ruangannya saat ia baru saja melakukan ritual intim bersama seorang wanita. Dan ia berharap orang itu bukan Lila.


Marcel mengambil secarik kertas itu dan membacanya, "Aku kembalikan kartu ini, aku cuma ambil yang aku butuhkan. Dan akan aku kembalikan dengan cicilan. Tolong bersabar ya. Kalila."


Oh, no. Surat ini dari Lila dan dia mengembalikan kartu yang sudah diberikan sebagai jaminan atas keperawanannya.


Dengan segera Marcel mengambil telepon dan menghubungi resepsionis hotel yang ada di bawah.


"Siapa yang baru saja masuk ke kamar saya?" tanya Marcel dengan nada suara tinggi.


"Seorang bernama Kalila, Pak."


"Mengapa dia bisa masuk? Kalian membiarkan dia masuk ke ruanganku?"


"Pak Fandi bilang tidak masalah membawa tamu ini ke kamar Bapak, karena Pak Marcel juga tidak akan menolak."


"Sekarang dia dimana? Sejak kapan dia datang ke sini?"


"Kira-kira 20 menit yang lalu dia masuk, Pak. Mungkin sekarang sudah pergi."


"Cari dia. Saya ingin bertemu dengannya!"


Perintah Marcel selaku bos di hotel tersebut tidak bisa diganggu gugat. Resepsionis tersebut bersama beberapa satpam langsung mencari Lila kemanapun gadis itu berada.

__ADS_1


Sementara Marcel terduduk lemas, terlihat shock dan menyesal karena kehadiran Lila yang tidak ia ketahui. Terlebih, Lila tau ia bersama wanita lain. Dan hal ini kembali mengingatkan ucapannya sebagai laki-laki pada Lila.


Sambil menunggu hasil, ia bergegas kembali ke kamarnya dan berpakaian yang layak. Tak lupa ia mengusir wanita yang ternyata sudah terlelap di tempat tidurnya.


__ADS_2