Terjerat Cinta Kalila

Terjerat Cinta Kalila
Dem Curiga


__ADS_3

"Gimana?" tanya Marcel ke Lila ketika mamanya sudah pergi.


"Apanya yang gimana?" tanya Lila balik.


"Mama itu sebenarnya ngundang kamu yang ke rumah, bukan aku. Udah tiga tahun aku di sini gak pernah disuruh pulang tuh, malah mereka yang datang ke tempatku." jelas Marcel soal maksud tersirat mamanya.


"Jadi?" Lila ragu ingin menjawab apa.


"Jadi kamu setuju gak ikut aku ke Batam minggu depan?"


Lila masih berdehem kecil, jawaban 'tidak' sudah ada di pikirannya, tapi entah mengapa tak kunjung keluar melalui pita suaranya. Seakan hati dan otaknya tak sinkron untuk menjawab pertanyaan Marcel.


"Tapi om dan Nana?" suara lirih Lila kembali bertanya. Takut jika Marcel marah karena tak kunjung ada jawaban dari bibir Lila.


"Kalau Om Jhony aku yang akan ngomong."


Deg. Kata-kata Marcel barusan sepertinya bukan main-main, terlihat dari matanya yang tampak serius dan berapi-api. Apa kata Om Jo jika ia tahu Lila akan pergi berkunjung ke orangtua Marcel. Kalau saja berita ini tersebar, sudah pasti yang rugi adalah om nya yang harus menahan malu karena perbuatannya.


Sepanjang perjalanan menuju rumah, Lila terus berpikir. Sepertinya ia telah melangkah terlalu jauh ke dalam kehidupan Marcel. Dan entah akan sebesar apalagi perasaannya kepada Marcel. Pula kemungkinan sakit hati yang akan ia rasakan begitu dahsyat apabila pria itu kembali ke sisi istrinya.


Sampailah mereka di depan rumah om Jo. Untungnya Om Jo yang menyambut kedatangan Marcel. Seperti biasa wajah kaget diperlihatkan om Jo. Pria tua itu mungkin begitu kaget. Bukankah dirinya sudah memberi peringatan halus ke Marcel soal Lila dan traumanya.


"Oh iya om, saya ijin minggu depan akan membawa Lila ke Batam. Kemungkinan dua atau tiga hari jika saya tidak sibuk." buka Marcel saat ketiganya terdiam sambil mengamati gelagat masing-masing lawan bicaranya.


"Ha? Kenapa?" tentu saja om Jo kaget bukan kepalang. Dirinya yang mengenal Marcel sejak ia masih SMA, tau persis siapa yang ada di Batam, hingga ia membawa Lila ke sana.


"Mama saya mengundang Lila secara khusus." Jawab Marcel santai.


"Tapi..." Om Jo masih terbata menerima kenyataan.


"Saya tidak memaksa. Jika om ijinkan saya akan membawa Lila dan menjaganya selama di sana. Jadi om tidak perlu khawatir. Tapi jika om tidak mengijinkan, dengan terpaksa saya harus menolak undangan ibu saya." Jelas Marcel lagi dengan maksud tersembunyi dalam kalimatnya.


"Tapi nak Marcel, bagaimana jika...."


Lila yang penasaran dengan kalimat lanjutan om Jo harus kecewa ketika Marcel menyergap pembicaraan itu dengan sigap.

__ADS_1


"Tak akan ada yang terjadi. Saya janji. Saya akan melindungi Lila. Om tidak perlu khawatir."


Om Jo tak menjawab. Bola matanya ia putar sembari memikirkan jawaban yang pas. Jujur, dalam hati tentu saja dia menolak. Tapi wajah Lila terlihat antusias.


"Soal Nana..." sambung Marcel lagi.


"Baiklah, Lila pergilah dan jaga diri. Katakan pada Nana dan tantemu kamu mengunjungi teman selama di sana."


Dengan kata lain om Jo menyetujui jika Lila pergi ke Batam bersama Marcel. Ia juga membantu memberikan alasan yang bisa dipakai jika Nana dan tantenya menanyakan.


Kekhawatiran om Jo seketika lenyap begitu melihat wajah Lila yang lega nan bahagia. Sebagai orang tua yang pernah muda ia tahu, keponakannya sedang dilanda virus cinta. Dan penilaiannya terhadap Marcel juga tidak selalu negatif. Ia tau anak itu baik dan sopan, karena dulu pernah menjadi teman terdekat Nana. Tapi karena suatu hal, semua berubah. Bagaimana kelakuannya yang menyebabkan Nana berubah haluan menjadi musuh, putusnya hubungan mereka karena suatu hal itu pula. Dan reaksi om Jo begitu melihat sosok Marcel pun karena suatu hal yang sama juga.


Begitu melihat Marcel bersanding dengan Lila, entah mengapa om Jo sedikit lega.


***


Beberapa hari kemudian.


"Ngapain bro?" tanya Carlos begitu ia lihat Dem sibuk dengan hpnya.


"Kita lagi ngumpul, please ya jangan nge hp kalau lagi kumpul. Lo tau waktu yang udah gue luangkan untuk ketemu sama kalian!" sentak Fandi bercanda.


"Mata lo pengangguran! Saham gue dimana mana ada ya. Di hotel Marcel, klub ini, restoran lo ******!" pongah Fandi menunjuk-nunjuk Aji menggunakan botol minuman yang ia pegang.


"Bersyukur lah lo lahir dari keluarga kaya yang gak perlu susah-susah. Paling yang susah bokap lo, punya anak gak bisa dipake gini!" balas Aji.


"An**r lu!" hampir saja baku hantam terjadi antara kedua sohib itu sampai akhirnya Dem buka suara.


"Btw, Marcel kemana?" tanya Dem ikut ke dalam pembicaraan setelah sohibnya menyindir perihal hp.


"Pulang ke Batam. Kemarin keciduk tante Henny lagi jalan sama L....." Jawab Aji enteng.


Segera Fandi membekap mulut Aji yang memang terkenal sedikit ember.


"Sama siapa?" tanya Dem penasaran.

__ADS_1


"Sama cewek. Gatau siapa. Baru kali." Jawab Carlos tak kalah entengnya.


"Lo lagi nelponin siapa dari tadi bro?" tanya Fandi mengalihkan pembicaraan.


"Oh, ini si Lila. Nomornya gak aktif, udah beberapa hari gak bisa dihubungi terus."


Mendengar nama Lila, kompak ketiganya menelan ludah penuh kesusahan. Bagaimana tidak, mereka semua tau Marcel pergi ke Batam bersama Lila.


"Mu.. M.. Mung... Kin.. Lagi sibuk bro. Iya sibuk. Atau lagi liburan bareng keluarga." Jawab Fandi terbata-bata takut salah berucap.


Awalnya Dem berniat menanyakan kenapa sikap temannya itu aneh, hanya saja diurungkan ketika suara wanita memekakkan kegugupan mereka.


"Demmmmm!!!" panggil Lea di tengah kerumunan para pria dan langsung bergelayut manja pada Dem.


"Oh, Le!" balas Dem yang sudah biasa dijadiin alat bergelayutan bagi perempuan itu. Ia tak merasa risih. Justru sohib Dem yang risih.


"Centil lo!" maki Fandi tak kuasa melihat pemandangan membagongkan di depannya.


"Marcel mana nih? Pantes ada yang kurang di mata gue." cari Lea di antara keempat pria di sana.


"Balik ke Batam katanya, gue juga baru tau." Jawab Dem polos polos aja.


"Oh," Lea bangkit dari pangkuan Dem dan duduk di kursi sebelah, ikut nimbrung dalam pembicaraan.


"Btw Martha balik ke Bali ya?" inisiatif Lea membuka obrolan.


"Heem," jawab keempatnya kompak.


"Ha, benar-benar Marcel. Ada mainan baru yang lama dihempas gitu aja. Padahal baru aja gue mulai cocok sama Martha. Bisa-bisanya demi cewek sepolos kain kafan gitu, Marcel membuang Martha."


Fandi dan yang lain agak panik dengan obrolan itu. Mereka takut jika nama Lila tersebut oleh Lea. Alih-alih menyembunyikan fakta soal Lila yang sudah dimiliki Marcel, mereka lebih takut jika Dem dan Marcel bertengkar hanya gara-gara wanita.


"Cewek polos?" tanya Dem bingung.


Dengan cepat Fandi yang posisinya berhadapan ke Lea menyenggol kaki wanita itu sebagai isyarat untuk tidak membahas soal gundik Marcel. Untung ia mengerti. Sebab sedikit banyaknya ia pula yang mengantar Lila ke kandang Marcel.

__ADS_1


"Iya itulah.. Gue ke teman-teman gue dulu ya!" ijin Lea langsung ngacir begitu aja.


Keanehan sikap Lea yang tak seperti biasa serta senyum masam para sohib membuat Dem yang tadinya bersikap acuh menjadi curiga. Ada yang disembunyikan darinya soal Marcel. Tapi ia tak tau apa itu.


__ADS_2