
Pagi-pagi sekali Marcel sudah keluar dari kamar nya dan ngeloyor ke ruang gym yang ada satu lantai di bawah lantai kamarnya. Masih tak sanggup baginya melihat Lila yang bebal dibilangin. Masih terus menemui nya, masuk sesuka hatinya, dan lebih sering menggodanya.
"Hah..." Marcel menghela nafas karena mengingat kesusahan yang ia alami saat mengendalikan diri dari godaan Lila.
"Belum keluar keringat sudah capek, pak?" seringai seorang pria mengagetkan Marcel. Menghamburkan bayangan Lila ke segala arah.
"Oh, pak Aldo." sapa Marcel setelah ia menoleh siapa orang yang menyindir nya itu. Secara tak langsung ia mengatakan Marcel lemah tuh.
"Sedang ada masalah, pak? Treadmill itu bisa nangis kalau pak Marcel injak sekasar itu." seloroh Aldo sok akrab.
Marcel baru pertama kali bertemu Aldo, itupun saat meeting pertama kali. Hanya melihatnya di sini, ada rasa yang mengganjal di dekatnya. Rasa seperti tak aman, dan gak suka gitu.
"Oh iya, pak Aldo ingin melamar pacar bapak kan? Kenapa milih Tanjungpinang? Jakarta juga punya Pulau Seribu yang kaya akan lautan?" celetuk Marcel yang hatinya tergelitik untuk menanyakan hal pribadi ke klien nya.
"Gak ada alasan khusus sih, hanya ingin melihat mutiara laut yang tak pernah lagi kulihat." Jawab asal Aldo menimbulkan benak Marcel memiliki pertanyaan lanjutan. Tapi ia enggan menanyakan. Aldo menyunggingkan senyum sinis padanya. Atau cuma perasaannya saja.
"Baik lah, saya akan meninjau proposal lanjutan dari pak Aldo."
"Bisa kah dipercepat, pak? Saya benar-benar tidak sabaran membayangkan senyum cerah pacar saya." pinta Aldo sebelum Marcel beralih darinya.
Berpikir sejenak, namun Marcel menyetujui permintaan klien nya tersebut.
"Iya. Bapak bisa datang ke ruang kerja saya. Dan kita akan membicarakan di sana." Jawab Marcel lalu ia kembali ke ruang kerja nya yang sudah disulap seperti kamar. Ada kamar mandi dan beberapa baju kerja. Marcel benar-benar tak ingin bertemu Lila.
***
"Kamu abis olahraga?" tanya Lila antusias begitu melihat Marcel datang ke ruang kerja. Pasalnya ia sudah menunggu hampir setengah jam dengan bosan.
Langkah Marcel tercekat. Terkejut bahwa Lila sudah ada di depannya sepagi ini. Tiduran di sofa lagi. Lebih buat kaget lagi ketika Lila secara spontan berlari dan melompat ke arahnya. Melingkarkan kedua tangannya lalu memeluknya.
"Apa sih, aku keringetan." usir Marcel mendorong tubuh Lila dengan lengannya. Wajah Marcel memerah bagai kepiting rebus ketika lengan tadi tak sengaja mendorong gundukan empuk Lila. "Sabar sobat. Sabar. Ini ujian berat!" bujuk nya dalam hati kepada Mister.
"Biarin." Lila keras kepala. Bukannya melepas tangannya, Lila semakin menjelajah. Ia mengendus-endus leher Marcel yang penuh keringat. "Keringatan juga masih harum kok. Hah.."
__ADS_1
"Awas ah. Aku mau mandi." Takut Mister menggila, cepat Marcel menepis tangan Lila dan segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Marcel membuka pintu kamar mandi dan mengintip Lila yang memainkan ponsel nya di atas sofa sambil tiduran.
"Pergilah dari sini sekarang! Klienku akan datang dan aku ingin bekerja." usir Marcel teriak, takut Lila tak mendengar suaranya yang berbaur dengan suara keran air. Tapi Lila diam tak bergeming dan memilih ponsel sebagai fokusnya.
Butuh waktu lama untuk menuntaskan hasratnya di kamar mandi, Marcel lagi lagi dibuat terkejut karena gadis itu belum juga pergi.
"Udah selesai? Mau makan?" tanya Lila dengan senyum cerah secerah matahari.
"Gak perlu." pungkas Marcel ketus.
"Ih, gimana sih cara supaya kamu baik-baik lagi ke aku, kak?" pekik Lila kesal yang terus mendapat cetusan dari Marcel.
"Kan aku udah bilang aku bosan padamu. Kamu aja yang keras kepala terus begini." Jawab Marcel tanpa melihat ke arah Lila. Ia takut goyah.
"Gak. Kalau bosan kenapa Mister bereaksi begitu aku goda?" polos Lila menanyakan nya.
Astaga anak ini. Pekik Marcel dalam hati sembari melotot keras ke Lila.
"Awas, aku lagi pakai baju!" usir Marcel yang tengah sibuk memakai baju dan celananya dengan susah payah karena dilendotin Lila.
"Gak mau." ucap Lila lirih. Hatinya sedih. Ditolak memang menyedihkan, tapi sedih lagi jika perasaan yang sama harus tertahan karena suatu alasan.
"Kalila, dengarkan aku baik-baik." Lila melepas pelukannya dan beralih ke depan Marcel. Mereka bertatapan. Lagi dan lagi Lila selalu melihat mata sayu Marcel yang berkaca-kaca itu.
"Apapun yang sudah kamu dengar tentang Sindi dari orang lain, di mataku ia tak begitu. Dia masih labil dan suatu saat dia bisa saja kembali ke sisi ku. Kumohon, kamu berhenti sekarang, sebelum kamu merasakan sakit nantinya."
Marcel tertunduk. Mengalihkan pandangannya ke arah kemeja yang akan ia pakai, takut memandang mata Lila dan hatinya tiba-tiba goyah menyerang wanita itu.
"Selama ini apa aku pernah menuntut mu ketika tahu statusku yang tak jelas di samping mu?" Lila jengkel. Ingin ia memukul kepala Marcel dan menghantamnya ke dinding sambil mengatakan bahwa Sindi sudah sangat bahagia dengan pilihan hidupnya bahkan memiliki anak tampan.
Diurungkan. Karena jika ia lakukan, Marcel akan terluka. Lila menjulurkan tangannya, mengelus pipi Marcel yang terasa kasar.
__ADS_1
"Biarlah semua berjalan semestinya. Aku ingin kamu cepat memahami semua keadaan. Baik tentang perasaan Sindi, atau perasaan ku." ucap Lila mengecup sebentar bibir Marcel.
Hati Marcel hanya berteriak meminta pertolongan. Baru saja pelepasan masa iya harus ke kamar mandi lagi.
"Btw, janggut mu mulai tumbuh. Cukuran dulu sana!" perintah Lila yang entah kenapa Marcel menurut. Tanpa banyak tanya, Marcel kembali ke kamar mandi dan mencukur janggutnya.
Sembari menunggu, Lila membereskan sedikit sofa bekas ia duduki tadi karena akan ada tamu yang datang.
Ceklek. Seseorang memasuki ruangan. Lila menoleh gugup karena Marcel masih berada di kamar mandi.
"Maaf, pak Marcel nya..." Lila mematung menggantungkan kalimatnya. Terperanjat melihat sosok yang ada di depannya. Tubuhnya tak bisa berbohong. Gemetaran dan ketakutan. Sementara orang yang ada di depannya menatap penuh ejekan dan seringai jahat di bibirnya.
Mundur perlahan, Lila terseruduk ke lantai dan memecahkan vas bunga yang ada di atas meja. Mengagetkan Marcel yang berhamburan keluar dari kamar mandi.
Tak peduli akan kehadiran Aldo, Marcel terfokus pada Lila yang terlihat aneh.
"Kamu kenapa? Kalila?" tanya Marcel panik. Ia melihat Lila, namun bola mata wanita itu bergetar menatap ke satu arah. Marcel ikutin arah itu dan melihat sosok Aldo di depan mereka, berdiri mendominasi keadaan. "Pak Aldo?" herannya.
Dan kembali lagi Marcel alihkan pandangannya ke Lila, menangkup wajah wanita itu ke arahnya agar tak melihat ke arah lain. Hanya melihatnya.
"Kalila, hei, ini aku. Aku, Marcel. Kalila!!" panggil Marcel semakin panik ketika Lila menghempaskan tubuh gemetarannya ke lantai dan kehilangan kesadarannya.
"Pak, pacar anda baik-baik saja?" tanya Aldo cemas. "Apa yang terjadi?" sambungnya.
"Bisakah kita tunda pembicaraan ini, pak Aldo? Saya harus membawanya ke rumah sakit." pungkas Marcel tak ingin menjawab pertanyaan Aldo.
"Baiklah."
Marcel menggendong tubuh lemas Lila ke arah parkiran diikuti Aldo yang entah mengapa terus mengikuti.
"Maaf harus melihat pemandangan ini, saya permisi dulu!"
Marcel menancap kan gas pada mobilnya berharap segera sampai ke rumah sakit dan tak terjadi apa-apa pada Lila.
__ADS_1
"Gotcha! Ternyata benar Kalila." seringai Aldo memandang mobil Marcel melaju hingga kejauhan.