
Sampai di lantai 5, Marcel langsung memburu kamar nomor 508. Ludah Marcel tertegun kasar melihat beberapa orang berbadan besar sedang berbincang di luar kamar.
"Mau kemana bos?" tanya pria berbadan besar yang membawa Kalila dari rumah om Jo.
"Minggir, pacar gue di dalam!" perintah Marcel tak mau memperlihatkan ketakutannya.
"Sendirian bos?" selidik pria tadi lagi.
"Iya, minggir." perintah Marcel.
Pria berbadan besar tadi tak tinggal diam. Ia menyuruh bawahannya yang bertubuh biasa menghadang Marcel. Tak terima diperlakukan begitu, Marcel melayangkan satu pukulan ke orang yang di depan nya, tepat menghalangi pintu kamar.
"Aww.." pekik orang yang terkena pukulan tadi. Kali ini si badan bongsor mencoba ikut menghadang Marcel dan ingin memukul nya sebagai balasan dari perbuatan Marcel ke orang nya.
Gawat, bisa remuk Marcel sebelum ia menghajar Aldo. Eit tunggu, Marcel melihat cincin khusus yang dipakai di jari telunjuk setiap orang.
"Kalau lo orang sini, berarti lo kelompok JackSoap?" gantian Marcel yang menyelidik. Kelompok itu memang terkenal menyediakan jasa pukul, menculik, dan melakukan hal-hal kriminal asal ada yang berani bayar mahal.
"Emang kenapa?" tantang pria tadi.
"Salah satu investor di perusahaan kalian adalah Fandi Amir. Kenal?"
Glek. Kumpulan pria tadi meneguk ludah dengan payah.
"Gue temannya. Bahkan teman kalian dari JackSoap lain dikerahkan untuk bantu nyari pacar gue. Lo yakin masih mau nahan gue?"
Fiuuh, untung si gubluk suka nanamin modal ke tempat aneh-aneh. Hobby menghabiskan uangnya ini kadang-kadang menguntungkan.
"Awas. Biarin gue masuk. Gue bakal ganti biaya suruhan dia dua kali lipat!"
Senjata utama dalam dunia adalah uang. Para pria kekar itu bergeser begitu mendengar uang double yang ditawarkan Marcel.
Akhirnya setelah bernegosiasi Marcel berjalan memburu kamar nomor 508. Menggunakan kartu sakti untuk membuka pintu.
Gubrak.... Pintu kamar ditendang paksa bak sinetron. Aldo kaget. Sekali lagi ia harus menunda kegiatannya. Penasaran siapa yang berani mengganggu keasyikannya, Aldo menoleh ke arah pintu dan melihat sosok Marcel berdiri penuh amarah padanya.
"Pak, pak Marcel?" Aldo tergagap. Kengerihan yang ia rasakan ke om Rudi entah kenapa juga menjalar ke Marcel. Mati aku, benak Aldo melepaskan gencetannya dari Lila.
__ADS_1
Mata Marcel terbelalak tajam melihat Aldo yang telah menanggalkan setengah celananya. Lebih sesak lagi ketika ia melihat Lila terkulai lemas di lantai dengan darah segar keluar dari bibirnya. Baju Lila juga sudah terkoyak ke penjuru kamar.
Emosi Marcel memuncak. Segera ia melayangkan pukulan ke pipi kiri Aldo hingga Aldo terpelanting ke lantai.
"Sialan!" Bagh, bugh, bagh, bugh. Sejumlah bogeman sudah disarangkan ke wajah Aldo hingga nyaris babak belur.
Melihat Marcel yang diterpa emosi, Lila sekuat tenaga bangkit dari lantai dan menghentikan tindakan Marcel yang ia rasa cukup untuk memberi hukuman pada Aldo yang sudah tergeletak tak berdaya di lantai.
"Kak, sudah. Sudah." isak Lila dengan suara parau. Sakit sekali rasanya ketika bersuara dengan bibir yang terluka.
"Kamu gak apa-apa?" Marcel menghentikan urusannya dengan Aldo dan beralih ke Lila yang mengambil alih fokusnya.
Memeriksa seluruh tubuh Lila dengan seksama. Hatinya terenyuh melihat gadis itu lebam akibat tamparan Aldo tadi. Juga tubuh mulusnya yang sudah lama tak ia saksikan kini merah-merah juga dipukul Aldo.
Marcel menangis melihat kondisi Lila yang menyedihkan. Air matanya tak mau berhenti keluar.
"Aku baik-baik aja, kak." peluk Lila menenangkan Marcel.
Marcel mengencangkan pelukannya pada Lila lalu ia membuka kaos yang ia pakai untuk diberikan kepada Kalila. Gadis itu perlahan memakai kaos yang tadi ada di tubuh Marcel. Tak peduli keringat yang menempel di sana, karena menutupi tubuhnya yang paling penting saat ini.
Namun tiba-tiba Aldo bangkit. Ia lihat Marcel yang kurang waspada dan cepat melayangkan sebuah lampu meja berbahan kayu ke kepala Marcel hingga terjungkal di pelukan Kalila.
"Gak apa-apa. Aku baik-baik saja." Marcel sadar, ia tak boleh pingsan di saat begini karena ia harus menjaga Kalila dan membawanya keluar dengan selamat dari Aldo. Tapi, tenaganya terkuras sejak ia berkelahi dengan Aldo.
Kedua pria itu sama-sama bangkit dari tempatnya. Hendak memulai kembali perkelahian yang tertunda. Kini posisi nya sama. Keduanya tergopoh-gopoh untuk menegakkan badannya.
Suara langkah kaki bergemuruh mendekati kamar hotel. Langkah yang sangat dinantikan Marcel untuk segera menyelamatkan Lila dan dirinya.
"Jangan bergerak kamu Aldo!" todong om Rudi mengacungkan pistolnya ke kepala Aldo. Laki-laki itu tertegun. Sosok yang ia takuti, ada di depannya sekarang.
Om Rudi menyelidiki apa yang sedang terjadi. Hatinya lega melihat putrinya baik-baik saja walau wajahnya penuh luka pukul.
"Bawa Aldo ke Polda. Saya akan segera ke sana!" perintah om Rudi ke bawahannya.
Aldo lalu didorong paksa bak tahanan keciduk keluar dari hotel.
"Kamu gak apa-apa, sayang?" tanya om Rudi lega melihat Lila. Lalu matanya mengerjap melihat Marcel lunglai di pangkuan Lila berdarah-darah. "Kenapa Marcel?"
__ADS_1
Lila diam. Tak menjawab pertanyaan papanya dan hanya fokus menangisi Marcel.
"Ko, bawa Marcel ke rumah sakit. Kabarin ibu kita ke rumah sakit. Lila juga harus dirawat." perintah om Rudi lagi.
***
Setelah mendapat perawatan yang intensif, kondisi Marcel dan Lila perlahan pulih. Walau Marcel harus mengalami penjahitan yang sangat sakit akibat luka di kepalanya.
Berada satu ruangan atas permintaan Lila, om Rudi melihat interaksi antara keduanya.
"Kamu dah baikan?" tanya Marcel mengelus pipi Lila.
Wanita itu mengangguk. Menerima belaian dari Marcel yang selama ini ia rindukan. Tak peduli ada papa nya dan yang sedang memperhatikan, Lila tak sungkan memeluk tubuh Marcel dan menangis di ceruk leher pria itu.
Marcel merasa sungkan karena tatapan om Rudi gak santai. Daritadi mereka belum menyapa sejak bertemu langsung. Dan Marcel juga bingung harus bagaimana.
"Kalila!!!!" teriak seorang wanita di luar kamar rawat Lila dan Marcel.
Brak. Pintu rumah sakit didobrak kasar oleh tante Jasmin. Bukannya mendapat sambutan, dirinya malah diomelin oleh suaminya.
"Mah, ini rumah sakit!!" sentak om Rudi.
Tak peduli perkataan suaminya, tante Jasmin ingin memburu putrinya dan ingin memeluknya. Tapi terhenti ketika Lila mencengkeram lengan Marcel dan bersembunyi di balik punggung kekar Marcel.
"Sayang?" Tante Jasmin bingung.
Marcel memegang tangan Lila yang mencengkeram lengannya. Seolah ingin memberi tahu bahwa Lila harus menyapa mamanya. Untuk sesaat mereka saling berkomunikasi dengan tatapan. Membuat kedua orang tua itu bingung dengan suasana itu.
"Mama, gak akan marah sama Kalila, kan?" tanya Lila masih enggan muncul dari balik punggung Marcel.
"Kenapa mama harus marah? Kamu gak salah sayang. Sini, peluk mama." bujuk tante Jasmin merentangkan tangannya berharap Lila akan menyambutnya dengan pelukan.
Sekali lagi Marcel memerintah lewat sorot matanya. Lila harus menyapa mamanya. Kini ia menurut. Pelan ia melepas tangannya dari Marcel dan memeluk mamanya. Sambil menangis haru melepas rindu.
"Kamu baik-baik saja, sayang. Kamu baik-baik saja. Jangan khawatir ya!" ucap tante Jasmin menenangkan sembari memberikan ciuman ke kepala Lila.
"Kamu sudah bisa pulang. Sekarang kembali lah ke rumah om kamu. Biarkan Marcel istirahat di sini." tutur Rudi yang sedikit melirik ke arah Marcel. Sementara Marcel cuma menunduk malu. Malu bertatap muka dengan papa Lila. Apalagi kondisi nya sangat menyedihkan sebagai seorang lelaki.
__ADS_1
"Gak mau, Lila mau di sini."
Tahu sifat keras kepala anaknya, om Rudi yang akhirnya membujuk istrinya untuk membiarkan Lila menginap di rumah sakit sekalian merawat Marcel. Dengan syarat, Nana juga akan menjaga Lila. Untungnya Marcel tak keberatan, asal Lila tetap berada di sampingnya.