Terjerat Cinta Kalila

Terjerat Cinta Kalila
Kepikiran


__ADS_3

Hari sudah malam dan Lila tak bisa tidur di kapal yang bergoyang-goyang. Membuat kepala dan perutnya mual. Makan malam yang tadi ia nikmati pun tak terasa enak di lidah karena batas dirinya di lautan sudah mencapai puncak.


"Na, aku keluar ya, cari angin bentar. Mual banget."


Setelah diberikan ijin, barulah Lila keluar. Sepanjang koridor menuju ruang bebas, masih banyak orang yang berbincang satu sama lain.


"Ramai banget," keluhnya.


Karena butuh suasana yang hening, Lila berbalik ke arah buritan kapal yang sepi. Tak ada banyak orang. Paling hanya ada dua orang pasangan dan satu orang pria yang memandang pilu lautan sambil menghisap rokok.


"Marcel? Kenapa bisa ketemu terus sih?" tanya Lila mengeluh pada takdirnya yang terus bertemu dengan Marcel.


Ya, namanya di dalam Yacht yang terbatas dan kecil dan dengan orang yang itu-itu mulu, jadi wajar kan jika ketemu terus.


Tapi tunggu, kok kesannya melihat Marcel kali ini agak berbeda dari biasanya. Yah, Lila sih gak terlalu peduli, hanya saja aura mencekam saat menatap tajam dirinya sirna disapu angin laut.


Dari kejauhan Marcel menoleh ke arahnya. Tersenyum cerah dan mendekat ke arahnya. Lila pun tak seperti biasa. Wajah cerah Marcel yang melekat saat ini menyihir dirinya untuk tidak menghindar dari pria itu. Hingga akhirnya ia berani menghadapi Marcel dengan tatapan matanya.


"Kamu ketahuan lagi memandangiku!"


Lila tak membalas. Dirinya justru mempertanyakan arti senyum di wajah Marcel sekarang.


"Sayang sekali, ya. Kenapa kamu jadi bagian keluarga orang itu?"


Orang itu? Nana maksudnya? Kan gak mungkin keluarga aku yang lain dia kenal, padahal semua di Jakarta, pikir Lila saat itu.

__ADS_1


"Paling tidak jangan salahkan aku yang tertarik untuk mendekatimu, ya."


Apa lagi ini? Tertarik? Mendekati aku? Lila masih berkecamuk dengan pertanyaan membingungkan dari dirinya untuk dirinya pula.


"Aku juga minta maaf sebelumnya untuk semua yang akan terjadi," sambung Marcel semakin membuat Lila tak berkedip bingung.


Membicarakan apa sih orang ini? Hanya itu yang terlintas di pikiran Lila saat itu. Dan tanpa perlu banyak interaksi lebih lanjut, Marcel memutuskan untuk kembali ke teman-temannya dan pergi dari hadapan Lila yang masih memandang aneh dirinya.


"Jauhin aku dong, please," hanya itu yang bisa ia gumamkan saat memikirkan maksud perkataan Marcel padanya. Hingga membuatnya susah untuk tidur di tengah lautan lepas.


Bahkan esok hari saat semua orang sibuk, Lila masih memilih menyendiri di kamarnya. Hanya bersedia keluar jika waktunya makan tiba. Setelah itu balik ke kamarnya dan menyelimuti dirinya yang dilanda perasaan tak nyaman. Tak nyaman bila bertemu Marcel lagi.


Untungnya Nana dkk percaya dengan alasan mabok laut yang dialami Lila, jadi tak perlu repot-repot untuk menolak ajakan mereka agar keluar kamar.


Dan yang dia hindari seharian justru bertemu di pelupuk matanya. Marcel bersama temannya sedang bercengkerama sambil menunggu personel lengkap turun dari kapal. Lila berusaha memalingkan pandangannya untuk tak melihat ke arah Marcel. Namun tak bisa. Kata-kata tertarik dan permintaan maaf yang diutarakan Marcel mengganggunya. Lila juga penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Setelah semua anggota turun, barulah Marcel beranjak meninggalkan pelabuhan dan pergi ke parkiran mobil. Melewati rombongan Lila yang masih terhenti karena menunggu Tania yang meninggalkan sesuatu di kapal. Lila berdiri agak jauh dari Nana dan barang-barang mereka. Jarak antara Nana dan Lila bisa dilewati untuk beberapa orang. Dengan sengaja Marcel melewati jarak itu. Saat mendekat ke Lila dia memperlambat langkahnya. Sambil berbisik ke arah Lila dan tersenyum lebar, "Sampai jumpa lagi."


Tentu saja Lila bingung. Walaupun dalam hati Lila tak menolak kenyataan bahwa dirinya tertarik dengan penampilan Marcel. Sontak wajahnya memerah. Dan buru-buru ia mendekat ke Nana. Barulah Marcel berjalan lagi secara normal bersama kelompoknya.


Walaupun tidak ada yang spesial yang terjadi selama perjalanan bersama klub diving, tapi bisa berbicara dengan Marcel sungguh sesuatu yang entah harus disenangi atau justru dikhawatirkan. Siapa sih yang tidak mau diajak ngobrol dengan pria sempurna begitu. Apalagi secara blak-blakan dia bilang tertarik pada Lila. Tapi khawatir juga karena pria itu merupakan musuh dalam hidup Nana, sepupunya.


Ingin mendoakan untuk tak lagi berjumpa, tapi dalam hatinya menjerit menolak. Membuatnya tak bisa tidur sepanjang malam bahkan ketika tubuhnya lelah dihantam ombak.


"Sampai jumpa." Lila terus terngiang pada salam perpisahan yang diucapkan Marcel. Walau dirasa agak aneh, mengapa harus dia dari sekian banyak orang yang mendapatkan salam perpisahan itu?

__ADS_1


"Ingat Lila, dia sudah menikah. Sudah menikah."


Kata-kata penguatan itu entah kenapa tak lagi mempan untuk mengusir bayangan Marcel dari otaknya. Pikiran Lila pun jadi semakin melebar. Penasaran dengan sosok istri pria sempurna itu. Bahkan berpikiran untuk membandingkan pesona istrinya yang sudah berhasil menggaet Marcel.


"Terus siapa Martha itu? Itukh istrinya?" tiba-tiba ia teringat Martha yang terus menempel pada Marcel.


Duh, jangan sampai Lila tergoda pada milik orang lain. Tidak baik. Apapun ceritanya, tidak akan baik jatuhnya.


Dan pergulatan Lila dengan bayangan Marcel terus berlanjut hingga beberapa hari ke depan. Membuatnya tak menentu, tak fokus, tak selera makan, dan uring-uringan. Berasa anak remaja yang ditembak tapi diabaikan. Galau.


Siang itu kembali ke rutinitas dimana Lila dengan kesendiriannya di rumah yang sebesar itu. Sudah hampir dua minggu ia di sini untuk liburan, tapi Nana masih belum mengajaknya jalan-jalan kemanapun. Padahal sebelumnya Nana selalu sesumbar tentang kotanya yang keren dengan pemandangan laut biru. Sekalinya dibawa jalan hanya untuk ke perkumpulan klub diving. Akhirnya Lila mulai dilanda kebosanan. Sangking bosannya, membantu Bik Nah dan Pak Abu pun sudah tak tertarik baginya.


"Jalan-jalan aja, Non. Di dekat sini ada mall kok."


Ide Bik Nah yang menyarankan untuk jalan-jalan sepertinya bagus. Kebetulan sepeda motor pemilik rumah tak pernah nampak digunakan.


"Tante, sepeda motor di garasi aku pinjem boleh? Bosan, tante. Mau jalan-jalan sebentar," sahutnya meminta izin melalui telepon pada tantenya alias Bu Mis. Izin dari tante saja dirasa sudah cukup untuk merestui rencana jalan-jalannya. Lagi pula, cuma ke tempat-tempat terdekat saja.


Mempersiapkan diri, tas kecil yang berisi KTP, Sim, dan ATM, Lila pun siap mengarungi kota yang dikelilingi lautan itu. Perasaan bahagia memenuhi dadanya. Suara ombak lautan bahkan lebih jelas terdengar daripada suara knalpot kendaraan di jalan yang sedang ia lalui. Terlintas dalam benaknya untuk memboyong orangtuanya ke sana dan menikmati masa tua di tempat yang tenang.


Melintasi jalanan yang dihimpit bangunan-bangunan tinggi, kebanyakan sih yang sudah ia lewati adalah hotel besar. Yah, maklum saja, Tanjungpinang salah satu kota terkenal di Kepulauan Riau yang sering didatangi turis mancanegara maupun domestik. Jadi tentu saja hotel menjadi prioritas pertama di sini. Bahkan mall dan hotel pun berada dalam satu bangunan. Sugoi.


Ngomong-ngomong soal mall, bukankah tempat itu tujuan awal Lila keluar di siang bolong dengan sepeda motor itu? Memerangi panas yang tak ia rasakan lagi.


Tanpa pikir panjang, ia belokkan sepeda motornya ke arah hotel atau mall, apalah itu. Bangunan itu luas sekali, Lila sampai bingung mana arah ke pintu masuk mall-nya. Karena gengsi untuk bertanya, ia memutuskan untuk mengikuti oranglain di belakang. Ada dua muda mudi yang sepertinya di mabuk kasmaran baru saja turun dari mobil. Mabuk kasmaran? Lebih tepatnya sih, perempuannya yang menggandeng lengan si pria terus.

__ADS_1


__ADS_2