
Pagi ini Marcel terlihat lega. Karena kemarin dia bisa memastikan bahwa Lila masih hidup dan baik-baik saja. Biarpun rasa kesal masih menyelimutinya, sebab perempuan itu menghilang tiba-tiba dan muncul di hidup sahabatnya.
Jujur, beberapa hari sejak menghilangnya Lila, Marcel merasa harinya yang biasa sedikit berbeda. Jika hari biasa ada perempuan itu di ruangannya dengan tingkah randomnya, kini semua begitu sepi. Seperti ada yang kurang, tapi ia juga tak mau menyimpulkan sesuatu yang kurang itu. Terlalu dini jika ia mengakui bahwa itu cinta. Jadi mari kita anggap saja itu rasa kangen.
Marcel tetap menunggu kedatangan Lila di ruangannya karena perempuan itu sudah berjanji akan menemuinya pagi ini. Tapi sosoknya belum muncul dikala Marcel sudah gelisah dengan perasaannya.
Tak ingin diperbudak perasaan aneh yang daritadi menggerogoti karena memikirkan Lila, Marcel pun mulai menyibukkan diri. Hari ini akhir pekan menjelang libur panjang, tentu saja banyak turis yang datang, dan keadaan hotel sedang ramai-ramainya. Dia pun turun ke lobby dan memantau pekerjaan karyawan dan menyambut secara ramah pengunjung yang datang.
"Bos kenapa? Tumben di bawah?" bisik para karyawan yang merasa merinding melihat tingkah Marcel di hari itu.
Jika biasa ia hanya memantau dari ruangannya dan memberikan perintah ke manajer dan jajarannya untuk melakukan pekerjaan langsung dalam hotel, kini ia justru berdiri dan tersenyum ramah ke semua pengunjung di lobby.
Dan lebih mengagetkan lagi, Marcel saat ini sedang bercanda dengan seorang anak kecil dan mendiamkan anak itu ketika menangis.
Bisik-bisik yang dilakukan para karyawan di lorong, menimbulkan rasa penasaran Lila yang tiba-tiba sudah sampai ke hotel. Awalnya ia masuk dari lorong rahasia, cuma ketika ia lihat Marcel tak ada di ruangan, ia memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak sambil menunggu si empunya kamar kembali.
Lila yang penasaran lalu melihat tingkah konyol Marcel yang bermain dengan anak itu. Berbeda. Rasanya berbeda dari biasanya. Entah mengapa Lila lagi-lagi merasa perlakuan Marcel ke anak-anak itu begitu tulus. Kelihatan laki-laki itu juga sebenarnya mendambakan sebuah keluarga.
Saat tertawa lepas bersama anak yang ia ajak main tadi, mata Marcel tertuju pada sosok indah yang lagi mengintip di lorong hotel. Dengan cepat Marcel berpamitan ke anak itu dan mendekati Lila.
Marcel berlari kecil, ekspresi lega dan bahagia terukir di wajahnya saat melihat Lila. Tak lupa senyum yang tadi ia tunjukkan ke anak tadi, juga bisa dilihat Lila walau sebentar. Lalu wajah kakunya kembali terpasang saat mereka berpapasan.
"Ikut aku," ajak Marcel menarik tangan Lila dan membawanya ke lift dan menuju ke ruangannya.
Mereka berdua tidak saling menyahut, karena memang tidak ada kata-kata yang terucap selama di dalam lift. Marcel masih mengatur nafasnya yang berantakan karena berlari menyambangi Lila barusan. Sementara Lila masih terpikirkan Marcel dan anak tadi.
"Kemana aja kamu?"
"Ada sesuatu, dan ponselku rusak parah," jawab Lila sekenanya dan duduk santai di atas sofa setiba di ruangan Marcel.
Laki-laki itu mendekat, "Sesuatu apa? Apa yang terjadi?"
__ADS_1
Dan hal itu membuat Lila gugup bukan kepalang. Perasaannya masih beradu dengan perasaan kesal tempo hari terlebih fakta Marcel menjebak dirinya dengan dalih 30 juta. Dasar duit setan!
"Kakiku terkilir saat jatuh dari motor. Ponselku rusak terlindas. Gak nanya, mengapa aku jatuh dari motor?"
Kali ini Marcel yang tertegun, ia ingat hari itu Lila buru-buru meninggalkannya karena marah. Akibat sikapnya itu, perempuan ini menjadi tak bisa mengontrol emosinya dan mengalami hal yang tak diinginkan. Pergelangan kaki Lila masih bengkak setelah ia periksa, akan sangat egois jika dia menjerumuskan perempuan sakit untuk melampiaskan nafsunya yang tertahan selama beberapa minggu ini.
"Aku juga dilarang Nana untuk keluar secara leluasa. Sekarang ini aku bisa keluar pun karena alasan mau membeli sesuatu," jelas Lila.
Marcel mengangguk pelan. "Iya, lebih baik kamu istirahat aja di rumah sampai bengkak ini benar-benar hilang."
"Aku maksa ke sini tuh supaya kamu gak mikir aku kabur atau mati, ya!"
"Iya, aku tau," usap Marcel ke kepala Lila. Membelai rambut Lila dengan lembut dan perlahan. "Tapi..."
Lila menoleh saat Marcel mencoba melanjutkan kalimatnya. Dan wajah Marcel berubah, raut wajah yang ia tunjukkan sekarang seolah sedang marah.
"Mengapa Dem?"
"Kamu nelpon Dem lebih dulu, daripada aku?"
"Ya... Karena..." Lila menjawab dengan gugup sembari menggigit ujung bibirnya.
"Ya, coba jelaskan," pria itu tak menyerah demi mendapatkan jawaban yang ia inginkan.
"Karena hp aku dia yang beli, aku harus berterima kasih."
"Apa?? Hp kamu dibeliin dia?" Lila mengangguk ragu saat suara Marcel meninggi. Pria itu lalu berkacak pinggang kesal.
Jika tahu ini membuat marah Marcel, tak seharusnya ia berkata jujur. Tapi lebih baik, jika akhirnya takdir mempertemukan mereka bertiga dan terkuak pada akhirnya. Pria itu bisa saja berubah jadi naga karena amarahnya.
"Bukannya aku sudah memberikan kartu kredit yang bisa kamu gunakan??"
__ADS_1
"Terus aku jawab apa ke Nana, tiba-tiba aku bisa beli yang baru dengan gampangnya."
"Wah.." Marcel menghela nafas. Tak habis pikir dia dengan jawaban perempuan itu. Yang paling mengesalkan baginya saat ini adalah perempuan itu selalu punya jawaban untuk setiap pertanyaannya.
"Haruskah aku balikkan dan bilang kak Marcel gak suka aku dikasih hadiah dari Kak Dem?"
"Terus Dem ngomong ke Nana kalau kamu denganku?"
"Ah..." Lila lupa, Nana memang agak ramah ke Dem. Beda dengan Marcel dan Fandi.
"Yaudah lah, dah terlanjur. Terima aja," akhirnya Marcel mengalah. Berkeras apapun dia, publisitas hubungannya dengan Lila memang perlu dirahasiakan dari Nana. "Sekarang pulanglah, nanti Nana curiga. Hubungi aku kalau ponselmu sudah aktif."
"Pulang?" tanya Lila.
"Iya, kan kamu yang bilang gak bisa leluasa gerak."
Lila sedikit bingung. Dan wajah bingungnya itu pun dimanfaatkan oleh keusilan Marcel.
"Memangnya kamu mau apa lagi? Kangen Mister kah?"
Dengan cepat Lila berdalih dan berkata, "Enggak ya."
Tidak sampai di situ, Marcel masih terus menggoda Lila dan memojokkan wanita itu hingga ia terduduk pasrah di sofa dengan tubuh Marcel di atasnya.
"Tapi, Mister gak suka dengan perempuan yang lagi sakit. Karena dia gentle."
"Bodo amat!" Lila menepis tubuh Marcel dan terbebas darinya. Langsung ia kabur begitu saja tanpa pamit.
Menyusuri lorong keramat yang mempertemukanmya pada takdir ini. Sama seperti Marcel, ia pun juga lega setelah melihat wajah tampan Marcel. Walau dirinya tidak mendapatkan kata maaf dari pria itu sejak pertengkaran mereka tempo hari.
***
__ADS_1