
Lila sudah sadar dari siuman. Ia melihat Marcel menunggunya sembari menunduk sedih. Sesimpul senyum tersungging di bibirnya. Ternyata masih ada kepedulian dari pria itu, pikir Lila.
Lila menjulurkan tangannya, membelai puncak kepala Marcel yang menunduk. Pria itu kaget ada sesuatu di kepalanya. Ia raba dan memegang tangan Lila yang masih dipasang infus.
"Kamu sudah sadar?" tanya Marcel langsung bangkit, ia panik dan hendak memanggil dokter.
Lila menahan lengan Marcel dengan tangannya, hingga membuat langkah Marcel tercekat. Lalu ia kembali duduk di samping kasur Lila dan menatap intens wajah lemah yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
"Apa yang membuatmu begitu? Padahal sebelumnya masih baik-baik saja menggodaku." Marcel bertanya dingin. Ia masih konsisten dengan sikap yang ia tunjukkan pada Lila. Padahal sesungguhnya jika ia ingin jujur pun, dirinya sangat khawatir pada gadis itu.
"Aku melihat seseorang yang tak seharusnya ku lihat di tempat ku mengasingkan diri." Jawab Lila menerawang langit-langit rumah sakit.
Ada yang nyeri dirasa Marcel. Tapi tak tahu di bagian mana begitu ia menebak Aldo, klien nya. Karena begitu Aldo masuk ke ruangannya, Lila berubah menjadi aneh, gemetaran dan ketakutan.
"Siapa dia?" mata Marcel seolah menyembur bara api ke Lila.
"Dia Aldo. Mantan ku." Lila menoleh ke arah Marcel karena menyebut mantan padanya. Gak masalah sih, cuma Lila takut saja jika Marcel salah paham padanya dan menganggap Lila tak serius soal kata-katanya yang menyukai Marcel. "Dia lukaku. Trauma ku. Kesalahan ku."
Marcel diam. Dalam diam pula, ia mengepalkan tangannya geram. Geram mendegar Lila menceritakan Aldo.
"Yasudah lah, jangan bicara lagi. Aku pergi beli makanan dulu untukmu. Tunggu!" sahut Marcel beranjak pergi, tak ingin Lila melihatnya yang sepertinya sih cemburu, ya.
Lila tahu pria itu menyembunyikan emosinya. Ia tersenyum kekeh memandangi punggung Marcel yang menghilang karena pintu yang tertutup. Tapi tak berapa lama, pintu kamarnya terbuka kembali. Antusias menyambut Marcel, Lila malah dikagetkan dengan sosok yang mendekati kasurnya. Orang itu berjalan pelan dan tersenyum licik pada Lila. Seolah ada yang ia rencanakan.
"Mau apa kamu?" Lila panik. Ia bangkit dari tidurnya dan tak peduli pada selang infus yang sudah semrawut.
"Wah, ternyata benar Lila. Kamu makin cantik. Apa karena Marcel menghidupi mu? Berapa banyak yang ia berikan? Pantas kamu tak ingin balik ke Jakarta, sudah bertemu sugar daddy mu di sini?" ledek Aldo yang terus berjalan memojokkan Lila hingga ia terseruduk ke sofa sebelah kasur.
"Jangan macam-macam! Pergi kamu dari sini. Atau aku adukan ke kak Marcel!" ancam Lila.
__ADS_1
"Hahahaha." Aldo tertawa keras. Ia menepuk jidatnya begitu Lila bilang ingin mengadu ke Marcel. "Uh, takut. Dah hebat banget kamu ya?" sindir Aldo lagi.
Lila diam dan mengalihkan pandangan ke arah lain. Ia merasa jijik melihat Aldo ada di depannya. Jijik lihat wajah orang yang pernah menyakiti hati dan perasaannya.
"Aku ke sini mau lamar pacarku. Sebelum itu terjadi, diam lah di tempat mu dan jangan muncul di hadapanku dan mengacau!" ancam Aldo.
"Kamu tau Sherly kan? Aku akan melamarnya. Dan tak ingin kehilangan nya. Tau sendiri kamu bagaimana kayanya keluarga dia. Jadi aku tak ingin kehilangan sumber dana ku. Kamu paham kan?" ucap Aldo lagi sembari mengulurkan tangan nya ke kepala Lila. Hendak membelai kepala Lila namun sudah ditangkis secepat kilat oleh gadis yang tampak sangat ketakutan itu.
"Kamu boleh aja muncul dan mengacau kan rencanaku. Tapi Marcel..... Ah sudahlah." ancam Aldo penuh seringai licik lalu ia melihat selang infus Lila penuh warna merah karena posisi yang tidak pas.
Tak lama Aldo keluar, Marcel muncul membawa sekantung plastik berisi makanan. Dibuat kaget karena Lila yang bersimpuh di lantai padahal sebelum ia tinggal membeli makanan, gadis itu masih ada di kasur. Mata Marcel lalu mengerjap pada selang Lila yang dialiri darah. Spontan Marcel berlari ke suster dan memanggil mereka dengan heboh.
Para suster yang dipanggil Marcel langsung meluncur ke ruang VIP. Lalu memperbaiki infus yang sudah tercemar dengan darah Lila.
"Sebenarnya ada apa?" tanya Marcel begitu rombongan suster keluar dari ruangan.
"Aldo ke mari dan mengancam ku."
"Kak, dia mau melamar pacarnya kan. Tolong urus cepat agar ia bisa pergi dari sini. Tolong. Tolooong kak." pinta Lila panik dan menangis sembari mencengkeram baju Marcel.
Sesaat ia mengangguk. "Sebenarnya apa yang terjadi antara Lila dan Aldo. Mengapa anak ini gemetaran?" Benak Marcel terus memikirkan hal itu.
***
Atas permintaan Lila, Marcel menyetujui penggunaan ballroom yang akan digunakan Aldo untuk melamar pacarnya sekaligus mengadakan party di sana.
Di tanggal yang mepet sesuai dengan kesepakatan, Marcel secara sukarela memerintahkan staff hotelnya untuk menyiapkan acara mulai dari dekorasi, makanan, hingga musik. Semua ia lakukan agar Aldo menuntaskan keinginan nya dan pergi dari hadapan Lila. Secepat mungkin.
Lila yang berada di rumah om Jo, mendekat ke kamar Nana. Karena pertengkaran yang waktu itu, Nana masih mendiamkan Lila, begitu pula Lila. Tahan ia untuk tak bicara selama apapun pada sepupunya itu. Tapi tidak untuk masalah ini.
__ADS_1
"Na." panggil Lila di depan pintu kamar Nana yang sengaja ia buka.
"Apa?" bangkit Nana. Awalnya ia bersantai ria sembari membolak-balik novel romantis kesukaannya, namun kini dihempaskan. Wajahnya sih masih kelihatan kesal. Tapi ia punya etika untuk mempersilahkan Lila memasuki kamarnya.
Gadis itu duduk dengan sedikit ragu. Nana memperhatikan gerak gerik Lila yang terus memainkan ujung bajunya.
"Apa sih? Kalau diam aja, mending keluar!" usir Nana yang kesal. Ia ingin anak itu meminta maaf. Namun tak jua ia dengar kata-kata itu dari Lila.
"Aku ketemu Aldo di sini." celetuk Lila terisak.
Nana terkesiap. Seluruh keluarga mereka tahu siapa Aldo dan perangai nya saat masih berpacaran dengan Lila. Mereka semua tak setuju, tapi Lila yang keras kepala memaksa restu dari mereka semua.
"Di sini?" teriak Nana kaget. Lila mengangguk. "Dia menemui kamu?" Lagi-lagi Lila mengangguk. "Kamu baik-baik aja?"
"Dia mengancam aku." tangis Lila.
"Apa??" sentak Nana.
"Dia ke sini mau melamar pacarnya. Dia mengancam aku untuk jangan mengacau dan muncul di depannya." jelas Lila menyeka air mata yang menetes di sudut matanya.
"Kurang ajar banget."
"Dia juga tau aku ada hubungan dengan Marcel. Dia menggunakan Marcel untuk mengancam aku. Aku takut, Na." isak Lila.
Nana mengelus punggung Lila dan memeluknya, guna menenangkan anak itu. Urusan Marcel nanti aja dibahas. Sekarang masalah Aldo jauh lebih penting.
"Na, jangan bilang ke mama. Aku gak mau dia panik. Sebisa mungkin aku akan menghindar dari dia sebelum dia pergi dari kota ini." tutur Lila.
"Kapan acara itu?" tanya Nana.
__ADS_1
"Kata Marcel tanggal 14. Tiga hari lagi. Jadi please, jangan kasih tau mama atau om ya." ujar Lila lagi tak ingin menambah beban ke keluarga besarnya.
"Baiklah. Aku gak akan bilang tante." Nana kembali memeluk sepupunya.