
"Haus..." celetuk Lila ditengah malam saat kegalauan melanda dirinya. Ia turun ke dapur untuk mengambil air. Tapi ia melihat ruang tamu yang lampunya masih menyala. Mendekat, dan dilihatnya bu Mis sedang berada di depan laptop. Dibilang lagi kerja, tapi tak sedang mengetik. Apa iya tantenya lagi marathon nonton drakor?
Lila yang penasaran, lalu ikut bergabung ke sebelah tantenya.
"Tante ngapain? Nonton Liminho?" canda Lila.
Sempat kaget karena keponakannya itu belum tidur. Tapi tak sempat menjawab pertanyaan Lila, seseorang dari layar laptop memanggilnya.
"Itu Lila?" Lila mencari sumber suara yang memanggil namanya. Sempat bergidik ngeri. Sampai akhirnya bu Mis menunjuk layar laptopnya ke Lila.
"Eh, itu.. Mas Dika!!!" seru nya heboh.
"Ssst.." perintah bu Mis kompak dengan sang anak.
"Oh maaf, apa kabar, mas?"
"Sehat. Kamu? Betah gak di rumah?" tanya Dika sembari menggendong seorang bayi yang usianya sekitar 1 tahun.
"Betah lah, kalau gak dah pulang aku, mas." Fokus Lila pun terbagi, dari melihat bapaknya, kini tertuju pada anaknya. "Itu anak mas Dika?"
"Iya, lah."
"Kok gak bule?" tanya Lila lagi heran membuat ibu dan anak itu cekikikan.
"Aku gak nikah sama bule loh, Lil." Jawabnya sambil memainkan putra kecilnya.
"Kok ganteng banget?" tanyanya lagi semakin membuat cekikikan. Bu Mis yang tak tahan sampai permisi ke toilet.
"Kamu itu gimana sih? Gak lihat bapaknya?" pamer Dika mendekatkan wajahnya ke kamera.
"Ah, mataku!" teriak Lila bercanda. "Tapi tetap aja. Gantengnya anak mu bukan darimu, mas. Pasti dari ibunya. Yakin deh."
"Sembarangan kamu kalau ngomong! Mas loh ya yang nurunin kegantengan ini. Coba lihat istri mas ya., kamu lihat lebih mirip siapa anak ini!" lalu ia menarik tangan istrinya yang sedari tadi berdiri dan tak menampakkan diri di kamera. "Sini, yang!" serunya pada sang istri.
__ADS_1
Hingga sang istri terduduk di sampingnya dan kelihatan di kamera. Deg. Begitu melihat sosok istri Dika, wajah Lila muram. Seperti pernah lihat, tapi entah dimana. Tidak asing.
Sementara perempuan itu masih tersenyum getir. "Kamu jangan gitu sama Lila!" bisiknya yang terdengar hingga ke speaker laptop.
Saat itu juga bu Mis bergabung kembali dari toiletnya. Ia juga mendengar suara istri Dika untuk tak menyinggung Lila yang mungkin saja iri dengan mesranya sebuah pernikahan.
"Maaf Lil, mas gak maksud pamer." kata Dika yang juga terlihat sungkan. Ia lalu memberikan anaknya pada sang istri lalu fokus pada wajah Lila yang tampak bersedih. "Andai saja kejadian itu gak ada, pasti kamu udah bahagia jadi istri orang ya, dek!"
"Eh kamu jangan salah, justru adanya kejadian itu kita semua tau laki-laki itu tak baik untuk Lila. Makanya kita doakan, semoga Lila bisa ketemu orang yang baik yang akan jadi jodohnya."
Kompak semua orang mengaminkan termasuk istri Dika. Dari balik Lila, bu Mis memberi isyarat agar tak lagi membahas masa lalunya agar anak itu tak kepikiran.
"Oh ya Sindi, cucu mama dah bisa apa sekarang?" bu Mis mengalihkan pembicaraan ke istri Dika.
Ha? Tadi tante manggil siapa? Sindi? Batin Lila bergulat dengan pikirannya. Sosok tak asing yang sedari tadi ia ingat-ingat akhirnya terjawab. Tentu saja ia merasa istri Dika sangat cantik. Sebelumnya Lila juga pernah melihat foto orang cantik lainnya yang bernama sama. Tunggu. Bernama sama? Foto?
Terperanjat Lila. Kaget bukan main saat ia sadar, istri Dika ini adalah istrinya Marcel yang pernah ia lihat fotonya di kamar Marcel.
Lila terduduk kaku. Menutup mulutnya dan meminta ijin untuk kembali ke kamar dengan perasaan syok yang berat. Menangisi takdirnya yang terjebak oleh Marcel.
Lila duduk di pinggir ranjang, mengamati ponsel nya yang tertampak foto Marcel saat mereka selfie di pantai. "Dasar orang bodoh! Istri yang kamu cintai adalah kakak iparku. Selingkuhan istrimu yang kamu maksud juga adalah kakakku. Mereka udah hidup bahagia dan punya anak. Sementara kamu masih mengharapkan nya? Bodoh!" umpat Lila kepada layar ponselnya.
Hati Lila menjadi sesak ketika memikirkan benang merah yang menjerat dirinya dengan kehidupan Marcel. Tapi ia tak bisa membenci itu. Perasaannya ke Marcel sudah bulat dan tak bisa diubah lagi.
Tersentak dari lamunannya, Lila bergegas ke kamar mandi dan membersihkan diri. Lalu ia mengeluarkan sepeda motor dan melaju ke jalanan menuju hotel Marcel. Kali ini ia akan mencoba bicara lagi pada Marcel. Siapa tau pria itu sudah berubah pikiran.
Namun nyatanya, sampai di sana, tepat di ruangan pribadinya, Marcel ditemani seorang wanita sexy yang bergelayutan di pangkuannya. Seolah sengaja melakukan itu karena ia tahu Lila akan datang lagi sampai ia merasa lelah sendiri.
Lila kaget. Matanya bergetar memandang wanita itu yang menjelajahi tubuh Marcel dengan tangannya. Hatinya terbakar. Cemburu? Pasti.
"Kamu sungguh bosan denganku?" tanya Lila seakan suaranya terhimpit batu besar yang menghalangi.
"Bukannya aku udah bilang dengan jelas? Jadi sekarang pergilah, aku sibuk." usir Marcel sembari membopong wanita yang tadi ia pangku menuju tempat tidurnya.
__ADS_1
Bukannya pergi, Lila malah mengikuti. Dengan kasar ia membuka pintu kamar Marcel. Kamar yang biasa menjadi miliknya ketika ia melakukan ritual bersama Marcel. Kini harus dikotori oleh wanita asing yang sudah berani merenggut singgasananya.
"Aku masih bicara!" teriak Lila sambil menarik selimut.
Marcel tampak tak peduli. Ia tetap melanjutkan pemanasan yang biasa ia lakukan pada Lila.
"Kak Marcel!" teriak Lila lagi. Emosinya tak tertahankan. Hatinya yang sesak lalu mengirim pesan ke otaknya dan disampaikan melalui mulutnya. Sembari ia berkata, "Kamu mengenal Dika Armadi?" teriaknya lagi hingga membuat Marcel terdiam dan menghentikan aktivitas pemanasan nya.
Marcel lalu duduk di kasurnya. Membelakangi Lila dan menatap wanita yang sedang kepalang tanggung di bawahnya.
"Apa karena aku sepupunya Dika maka kamu begitu? Bukankah dari awal kamu sudah tau maka menargetkanku? Tapi kenapa kamu mencampakanku begitu aja? Setelah semua udah kamu lakukan padaku?" tangis Lila pecah. Entah mengapa wanita itu sering kali menangis sejak hubungannya dengan Marcel tak baik-baik saja.
"Jangan sebut nama si berengsek itu di depanku!" perintah Marcel mulai marah. Membuat Lila dan wanita tadi ketakutan.
"Baik. Bagaimana kalau aku menyebut Sindi?" tantang Lila lagi menghalau rasa takutnya demi perasaannya.
"Beraninya kamu..." sosor Marcel mendekat ke Lila dan menyudutkan tubuh wanita itu ke tembok dan menguncinya.
"Aku ke sini cuma mau bilang ke kamu, baik Dika ataupun Sindi, mereka hidup sangat bahagia sekarang. Sementara kamu.. Kamu tampak menyedihkan." Ucap Lila.
Deg. Jantung Marcel berpacu. Emosinya kian memuncak saat ia mendengar kabar tentang Sindi yang selama ini ia tutup kenyataannya.
"Mereka sudah memiliki anak lelaki yang tampan seperti Dika. Dan kamu masih menyedihkan dan tak memiliki arah." Sambung Lila menatap intens ke Marcel.
Pelan Marcel melepas kunciannya dari Lila hingga wanita itu kabur dan bergeser dari depannya.
Lila mendekat ke Marcel. Menjulurkan tangannya ke pipi pria itu dan mengelus pelan. Baru ia raih tengkuk leher Marcel dan memeluknya. Bersandar mesra di bahu Marcel seraya menghiburnya.
"Aku tahu rasa sakit itu, kak. Tapi kamu harus bahagia. Hargai hidupmu!" Pelan Lila melepas pelukannya dan kembali mentapa Marcel yang mulai berkaca-kaca. "Dia yang kamu cintai, bukan berarti baik untuk hidupmu."
Marcel menoleh ke Lila. Saling menatap ke dalam mata masing-masing. Sembari menebak apa yang ingin disampaikan oleh wanita itu.
"Aku tak memaksa hati mu, aku hanya ingin kamu bahagia dan lupakan sindi!" peluk Lila kembali dan menangis di pundak Marcel.
__ADS_1
Marcel tak menyambut pelukan itu seperti biasa. Ia menunduk kaku. Menelaah setiap doa yang Lila panjatkan untuknya.