
Kesungguhan Marcel untuk meminang Sindi membuatnya sampai ke tanah Garut yang berada di pelosok gunung. Menemui bapak ibu Sindi didampingi pak Marlon dan tante Henny.
Kabar kedatangan keluarga calon mantunya sudah ia dengar jauh hari. Untuk itu ia sudah menyiapkan sesuatu yang terbaik, baik itu makanan, pakaian, dan mengecat kembali tembok rumah yang awalnya usang tercoret sejak terakhir ditinggal Sindi.
Perbincangan antara kedua orang tua menjadi serius. Sementara yang terlibat dalam rencana pernikahan cuma mendengar dan menerima keputusan. Tepat satu bulan dari sekarang, akan diadakan pesta pernikahan besar-besaran di Batam. Seluruh keluarga Sindi akan dibiayai, mulai dari keberangkatan hingga acara resepsi selesai.
Setelah keluarga Marcel undur diri, Sindi masih di rumah orang tuanya untuk dipingit. Sebab persiapan nikah sudah dilakukan oleh pihak profesional dari tante Henny.
Wajah Sindi muram seiring berjalannya waktu. Dan semakin muram ketika ia mendapat kabar sukacita dari Dhika melalui chat. Pria itu tidak mengatakan apapun selain 'Selamat atas pernikahanmu.' Dengan suara lirih dan tampang yang bikin pedih hati.
"Pak, sebaiknya kita batalkan aja pernikahan ini." tutur Sindi takut-takut ke bapak yang sedang menghitung sisa uang mahar yang sudah ia gunakan sebagian untuk membeli peralatan rumah.
Pak Ujang berhenti menghitung, dan membanting seikat uang yang ia pegang ke atas meja. Lalu ia menampar pipi Sindi. Begitulah gadis itu dibesarkan.
"Kamu lihat itu." tunjuknya ke uang yang tadi dibanting. "Bisa kamu kembalikan secara utuh?" sentak Pak Ujang.
Sindi meringis kesakitan. Mengelus pipi nya yang berbecak lima jari milik sang bapak.
"Kalau kamu berbakti sama orang tua, lakukan pernikahan ini! Angkat derajat bapak sama ibu mu! Biar gak ada yang permalukan bapak ibumu!" toyor Pak Ujang ke kepala Sindi yang tertunduk pasrah. "Anak gak tau diri. Pergi kamu! Kompres pipimu itu sebelum kita berangkat ke Batam besok."
Pak Ujang kembali menghitung uangnya. Sedih, Sindi kembali ke kamarnya. Tiba-tiba ia teringat pada Dhika. Yang selalu ia lihat sebagai laki-laki dewasa. Laki-laki dewasa yang mampu melindungi dirinya dari orang gila yang ia terpaksa sebut orang tua.
"Mas." sahut Sindi terisak saat Dhika cukup lama menjawab panggilan video dari Sindi.
Melihat dari balik layar Sindi menangis tersedu-sedu, Dhika panik.
"Kamu kenapa? Siapa yang bikin nangis? Marcel?" tanya Dhika diburu rasa penasaran tinggi.
"Bukan, mas. Bukan. Ini bukan salah Marcel. Hiks.. Hiks.." tangis Sindi tak mampu lagi ia berucap.
Gambaran wajah sedih Sindi mengganggu kehidupan Dhika di negeri orang. Sambil bertanya-tanya apa yang membuat gadis itu menangis. Padahal ia sudah berjanji pada diri sendiri untuk melupakan sejenak perasaan nya pada Sindi. Tapi tak bisa. Tidak bisa.
Secara impulsif, alhasil Dhika pulang ke Tanjungpinang begitu Sindi juga berangkat ke Batam. Mereka pun bertemu di Tanjungpinang, saat Sindi hendak mengunjungi Marcel ke hotel nya.
Wajah sedih tak bisa Sindi sembunyikan.
__ADS_1
"Apa yang kamu tangisi? Bentar lagi kamu akan jadi perempuan paling cantik yang akan menikah." tutur Dhika ikut bersedih.
Mereka bertemu di sebuah cafe pinggir laut, tempat biasa Marcel membawanya ketika Sindi main ke Tanjungpinang.
"Aku gak tahu. Perasaan ku gak enak." Jawab Sindi terisak.
"Memang begitulah orang yang mau menikah. Makanya komunikasi mu ke Marcel perlu dijaga saat-saat begini. Jangan sampai jadi salah paham." Dhika memberi nasihat dengan kantung udara yang sudah menipis di paru-paru nya hingga menyesakkan dadanya.
"Kenapa kamu menangis seperti itu waktu video call-an sama ku?" tanya Dhika lirih, mengingat waktu itu benar-benar ia tidak dapat tidur dengan baik memikirkan wajah Sindi.
"Gak. Itu karena aku bertengkar dengan bapak. Gak ada masalah." elak Sindi tak berani terus terang.
"Baguslah kalau begitu."
***
Dan setiap hari setiap Sindi menunggu Marcel selesai bekerja, ia selalu menyempatkan diri untuk bertemu Dhika dan mengobrol banyak hal. Membuat hubungan mereka semakin intens dan mengkhawatirkan.
"Bro, dah mau nikah tapi masih sibuk sama kerjaan?" sahut Dem memasuki ruangan Marcel.
"Hm.." dehem Dem ragu. Ada yang ingin dikatakannya, tapi bingung bagaimana cara penyampaiannya. "Sindi gak sering ngunjungi lo bro?"
"Sering, nanti juga ke sini." Jawab Marcel lagi.
"Oh, gitu ya. Baiklah." pungkas Dem tertahan.
Marcel terdiam sejenak. Menatap lembaran kertas di atas mejanya. Ia juga ingin mengucapkan sesuatu ke sahabat nya itu, tapi tertahan di kerongkongan pula.
"Dem."
"Bro."
Serempak keduanya bersuara di waktu yang sama.
"Dem, apa pun yang lo lihat di luar sana tentang Sindi, please, biarkan. Gue gak mau nge rusak kepercayaan gue ke dia. Dan dia juga pasti menjaga kepercayaan gue. Yang lo lihat, anggap aja karena tidak ada orang yang bisa dia ajak bicara ketika dirinya sedang diterpa gundah gulana sebelum menikah." imbuh Marcel yang ternyata sudah tahu sesuatu tentang Sindi. Pasti soal ketemu dengan Dhika yang semakin intens.
__ADS_1
"Lo tau bro?" Dem kaget tak percaya. Tak percaya bila sahabatnya adalah orang yang tak berdaya dalam percintaan. "Dan lo diem?"
"Semua demi kebaikan bersama. Lagi pula gue bentar lagi menikah dengannya. Gak ada alasan buat gue khawatir." senyum Marcel penuh arti.
"Bro, menikah sama mencintai itu beda. Oke gue buka semua di depan lo. Inilah yang dulu gue pernah bilang ke lo. Sindi itu gak tulus."
"Dem." panggil Marcel. "Gue mohon." tunduk Marcel membuat Dem berhenti menasihati sahabatnya. Sebab sudah sangat terlambat.
"Baiklah. Itu pilihan lo."
Setelah Dem keluar, Marcel seolah bisa bernafas lega. Ya, dia tahu apa yang Sindi lakukan sebelum bertemu dengannya. Kerap kali ia memergoki Sindi duduk berduaan di cafe. Tapi urung ia menegur karena Sindi terlihat nyaman dan mungkin sedang mengeluarkan keluh kesahnya ke Dhika yang sudah dianggap kakak pula oleh Marcel.
***
"Saya terima nikahnya Sindi Sarsastika binti Ujang Dayana dengan mas kawin sebesar 50 juta rupiah dibayar tunai." ucap Marcel lancar setelah menghafal ijab kabul semalaman.
"Sah." teriak para hadirin dan pak Ujang yang paling kuat.
Seluruh hadirin antusias. Kecuali Dhika yang memandang dari kejauhan. Sembari mengepalkan tangannya tanda tak berdaya.
Selesai acara, keduanya dibawa ke rumah utama pak Marlon untuk beristirahat karena besok baru akan diadakan resepsi yang sangat melelahkan.
"Kamu gak mandi?" tanya Sindi yang baru selesai mandi.
Mata Marcel terlihat berbinar. Lebih berbinar lagi saat ia melihat wanita yang selama ini ia jaga jaga pandangan dan nafsunya ada di depan mata. Memakai pakaian tidur berbahan tipis. Sedikit basah karena terkena cipratan rambut nya yang pula sama basah. Membangunkan gairah kelelakian Marcel.
Cepat pria itu melancarkan aksinya namun ditolak oleh Sindi. "Kamu mandi dulu sana. Lengket banget karena kita seharian keringetan." Dalih Sindi agar Marcel tak marah.
"Yaudah. Tunggu ya." goda Marcel.
Marcel mandi, dan Sindi memilih untuk pura-pura tidur. Dirinya belum siap jika harus melakukan kewajibannya sebagai seorang istri karena hatinya bukan milik suaminya.
"Babe, kamu tidur?" tanya Marcel begitu keluar dari kamar mandi dan juga berpakaian tipis.
Tak ada jawaban dari Sindi yang memilih tidur dengan posisi memunggunginya. "Capek, ya? Selamat tidur." Kecup Marcel ke kening Sindi.
__ADS_1
Dan Sindi semakin merasa terbebani dengan sikap baik Marcel. Ia memilih membenam tangisannya di bawah bantal.