
Lila lagi lagi datang ke ruang kerja Marcel, seperti biasa mengganggu dan menggodanya. Padahal pria itu sedang fokus bekerja. Maksudnya pura-pura fokus sih, daripada tergoda sama Lila, kan lebih baik ia bekerja. Pikirnya.
"Setiap hari ke sini, keluarga mu gak curiga?"
Wajah Lila berubah masam begitu Marcel menanyakan keluarganya. Pastinya mereka tidak menerima. Terutama Nana yang menentang keras hubungan itu. Lila jadi teringat sebelumnya ia bertengkar hebat dengan Nana karena meributkan lelaki yang sekarang di depannya.
"Kalau kamu dah gak tau malu lagi terang-terangan dengan pria beristri, lebih baik kamu pulang ke Jakarta, Lila!" usir Nana yang kesal karena Lila bersikap keras kepala dan tetap pergi menemui Marcel.
Tak terima dirinya diusir, Lila menyentak pula tak malu kalah, "Gak usah urusin masalah pribadiku. Sekarang aku tanya, kalau Marcel sudah beristri, mana dia? Aku tak pernah melihatnya. Jadi jangan menuduhku sebagai selingkuhan atau pelakor!" bentak Lila. Nana tertegun kesal menyadari dirinya dibentak oleh sepupu yang usianya jauh lebih muda darinya.
"Kurang ajar kamu!" Nana refleks menampar Lila.
Om Jo dan bu Mis yang mengamati dari jauh dibuat kalang kabut untuk memisahkan keduanya begitu tamparan itu dilayangkan.
"Nana, Nana, sabar sayang, kamu gak boleh begitu." bujuk bu Mis.
"Sindi itu perempuan baik-baik, kalau Marcel tak bertingkah, dia tak akan pergi dari si bodoh itu." pungkas Nana membela Sindi, sahabatnya.
Bu Mis dan om Jo saling memandang dan tersenyum kikuk. Sebentar bu Mis melihat Lila dan memberi isyarat agar Lila tak membongkar rahasia yang selama ini ditutupi.
"Yang bodoh kamu!" cibir Lila.
"Apa?" Nana meringis sebal. Ia ingin menampar wajah Lila lagi tapi ditahan oleh om Jo.
"Kalau kamu mengagungkan persahabatanmu dengan Sindi, apa kamu tahu dimana dia sekarang?" cerca Lila lagi mendiamkan mulut Nana. "Harusnya kamu cari tahu dulu dong sebelum menilai orang lain bersalah atau tidak." sambung Lila.
Om Jo terlihat santai menghadapi situasi sembari ia menenangkan Lila. Justru wajah khawatir terpampang dari bu Mis.
"Kenapa sih cuma dia yang gak tau faktanya? Apa karena sahabatnya? Atau karena..." Lila menggantung kalimatnya begitu bu Mis menggelengkan kepala pertanda jangan. "Hah, dia jadi terlihat sangat bodoh karena pemikirannya yang cetek." cibir Lila lagi pada Nana sembari mengejek ketidak tahuan nya terkait masalah Sindi.
"Sudahlah, om, tante, aku mau main ke hotel Marcel dan meyakinkan pria itu untuk mengubur masa lalu nya. Permisi." Lila melenggang kan dirinya keluar pintu rumah. Meninggalkan Nana dengan emosi yang masih tertahan di dadanya.
__ADS_1
"Heh!" panggil Marcel membuyarkan lamunan Lila tentang keluarga nya.
"Aku malas membicarakan mereka. Bisakah aku menginap di sini beberapa hari, kak? Aku gak mau pulang." ujar Lila bergelayut manja di sofa milik Marcel.
"Tidak." tegas Marcel menolak. Lila di depannya saja ia berusaha mati-matian menetralkan hati dan pikirannya. Mana bisa ia membiarkan Lila terus-menerus di hadapannya dan menggoda ke sana ke mari. Walau cuek, namanya juga tubuh lelaki ya kan. Mana tahan jika terus digoda.
"Gak kemana-mana hari ini?" tanya Lila.
"Gak." Marcel menjawab cepat. Secepat ia membalik kertas yang sedang ia baca.
"Aku ingin makan di restoran pinggir laut. Ayo ke sana." paksa Lila.
"Kamu tuli? Aku bilang aku gak kemana-mana. Dan gak mau kemana-mana." Jawab Marcel lagi sambil melotot tajam ke Lila.
"Yaudah aku pergi sendiri. Kenapa semua orang marah-marah terus padaku sih?" gumam Lila menghentakkan satu kakinya begitu ia bangkit dari sofa.
Lila berjalan keluar. Membanting pintu begitu keras hingga Marcel terperanjat dan menghamburkan kertas yang ia pegang, kaget bukan main. "Kalila!!!" teriaknya.
"Nah, berubah pikiran?" tanya Lila yang ternyata menunggunya di depan pintu.
"Astaga!!" Marcel terkesiap kaget melihat Lila yang berdiri tepat setelah ia membuka pintu.
"Ayuk," Lila menggandeng lengan Marcel dan membawanya pergi menuju parkiran.
Tanpa banyak bertanya, Marcel melajukan kendaraannya dengan kecepatan normal. Membiarkan Lila melakukan apapun yang ia suka di dalam mobilnya. Entah itu menyetel musik, berbicara apapun, bahkan menggeliat lasak karena tak nyaman dengan kursi nya.
Setelah sampai, Lila kembali menggandeng lengan Marcel seolah mereka adalah pasangan di mabuk asmara. Restoran yang pernah ia kunjungi dan secara kebetulan bertemu Marcel tetap sama. Masih bernuansa romantis dan private.
Mengambil tempat yang biasa ditempati Marcel, mereka memesan menu makanan yang diinginkan. Lila memesan apapun.
"Wah, suasana yang sama dengan konsep pertemuan yang berbeda." gumam Lila menatap intens wajah Marcel yang terus membuang pandangan jauh dari dirinya.
__ADS_1
Ya, Lila ingat betul waktu pertama kali bertemu di sini, dia diam saja sementara Marcel terus nyerocos membuka obrolan. Sekarang malah kebalik. Lila lah yang harus membuka obrolan agar Marcel mau bersuara walau menjawab dengan sekenanya.
"Kata kak Dem dulu kamu sering ke sini kan sama mantan istrimu?" tanya Lila dengan penekanan di kata 'mantan'. "Dan selalu duduk di tempat ini. Pantas saja kamu marah ketika tempat kalian aku duduki waktu itu." lanjut Lila tersenyum masam mengamati tak ada alur perubahan pada ekspresi wajah Marcel.
"Belum ada kata mantan. Dia masih istriku." tatap Marcel mencekam ke arah Lila sembari menyeruput kopi panas yang sudah tersaji. "Apa saja yang sudah diceritakan Dem padamu?"
"Semua." celetuk Lila bersemangat. "Bahkan aku baru tahu kalau kalian masih muda pernah datang ke rumah ku. Hah, jadi ingat kata kakak juga. Takdir." senyum Lila. Kakinya yang ada di bawah meja tak tinggal diam. Pelan ia mengelus paha Marcel. Awalnya pria itu menunjukkan wajah kagetnya. Namun, berhenti ketika ia tepis kaki Lila dan menjauh dari jangkauannya.
"Bisa kah kamu bersikap normal? Jika tidak aku akan pergi." ancam Marcel yang sebenarnya bukan ngambek karena digoda. Tapi takut gak kuat.
"Yah, baiklah." Lila menjawab pasrah.
Lila menelan makanan yang ada di depannya. Bersungut kesal karena penolakan Marcel. Tak sampai hati sebenarnya Marcel, hanya saja harus ia lakukan untuk menghentikan semua yang sudah terlanjur.
"Apa yang kamu sukai dari Kak Sindi sih? Sampai gak bisa move on gitu?" tanya Lila kepo mendengus kesal sembari mengunyah makanan.
Mata nanar Marcel menatap tajam Lila yang tampak tak peduli dan hanya butuh jawaban.
"Banyak." Jawab Marcel pasrah begitu hati kecil nya yang keras kalah pada pesona Lila.
"Banyak itu, ya apa?" Lila mulai kesal. Matanya melotot ke Marcel. Kini ia mulai berani menatap pria yang sebelumnya menakutkan baginya.
"Yah, banyak. Semuanya. Dia cantik, pintar, baik, pengertian, dan mandiri."
"Hmm.. Baik, tapi dia meninggalkan mu." celetuk Lila keceplosan.
Mendengar celetuk an Lila, Marcel terlihat menahan amarah. Sebentar ia memicingkan mata seraya mengancam Lila, jika ia berbicara seperti itu lagi tidak ada pilihan lain, selain pergi.
"Ah baiklah." angguk Lila setuju. "Lalu, kakak pernah bertanya mengapa ia bersedia menikah dengan mu padahal hatinya sudah milik orang lain?"
"Aku tak pernah berjumpa dengannya lagi dan tak pernah menanyakan hal itu. Selagi ia menikah denganku, sudah cukup." Jawab Marcel. Lila lantas menggelengkan kepalanya.
__ADS_1