Terjerat Cinta Kalila

Terjerat Cinta Kalila
Anakku, Anakmu


__ADS_3

Pak Marlon, tante Henny, dan Lila memasuki ruangan Marcel. Ketiganya kaget melihat Marcel yang ditemani om Rudi di samping kasurnya. Mereka menelisik wajah Marcel yang kemerahan seolah baru saja menangis.


"Ah, sedang berbicara dari hati ke hati rupanya." gumam pak Marlon dalam hati.


"Kamu kenapa sayang? Kumat? Kok kelihatan gak baik?" tanya tante Henny khawatir.


"Gak apa-apa, ma." Jawab Marcel sebentar menengok ke tante Henny. Lalu ia mengalihkan pandangan ke Lila yang diam termenung di tempatnya.


Sindi. Sejak Marcel mengatakan Sindi akan kembali, entah mengapa Lila menjadi lebih banyak diam dan seakan menghindari nya.


"Obat aku mana Kalila? Aku belum makan obat selesai sarapan tadi." sahut Marcel mencairkan suasana. Menyamarkan keadaan agar orang tua nya tak berpikir yang aneh-aneh.


"Pak, keluar bentar yuk. Ngudud. Mulut ku basi gak ngerokok. Di sini gak bisa ngerokok." celetuk om Rudi memberi tanda ke pak Marlon untuk berbicara berdua.


"Daritadi juga udah ngerokok om," celetuk Marcel mencoba seloroh.


"Ssst ah," hardik om Rudi ke Marcel yang bocor.


"Papa ngerokok di sini? Ku bilangin dokter ya. Dokter!!!" teriak Lila.


"Iya maaf, maaf. Udah papa pergi nih sama om Marlon dulu." Om Rudi menggandeng bahu pak Marlon dan melangkah bersama ke luar ruangan.


"Dasar gak bisa jadi contoh masyarakat!" celetuk Lila juga mencoba seloroh di depan tante Henny.


***


Sementara kedua pria paruh baya itu memilih warung sarapan tepat di depan rumah sakit dan nongkrong ala bapack bapack di sana.


Kopi dan teh lengkap. Rokok dan korek, juga lengkap. Mantap.


"Kamu berbicara apa ke anakku?" tanya pak Marlon memulai sembari menyesap teh manis panas yang ragu ragu ia sentuh.


"Gak ada. Hanya ngasih petuah sebagai orang yang lebih tua." Jawab om Rudi juga menyesap kopinya.


"Hmm." dehem pak Marlon menyudahi.


"Aku sudah tahu cerita soal anakmu." celetuk om Rudi kembali membuka pembahasan.


Deg. Pak Marlon terdiam. Kisah Marcel menurutnya adalah kelemahan keluarganya di mata orang-orang. Apalagi om Rudi adalah orang asing dan baru beberapa hari di kota ini.

__ADS_1


"Bagaimana bisa tau?"


"Abang ipar ku yang cerita. Bang Joni tuh diam. Tapi dia memperhatikan semua yang terjadi antara anakku dan anakmu." tutur om Rudi.


Sementara pak Marlon diam mendengar cerita om Rudi.


"Aku gak masalah dengan masa lalu anakmu. Istriku juga begitu. Asalkan mereka benar-benar ada hubungan yang jelas dan Marcel mengakhiri statusnya dengan jelas pula." Om Rudi menyesap kopi lagi. Sesekali menghisap rokok yang ia jepit di antara jari telunjuk dan tengah.


"Itu lah petuah yang aku katakan pada anakmu." imbuh om Rudi menjawab kegelisahan dari raut wajah pak Marlon.


"Kamu tahu, Rud. Luka Marcel itu juga luka keluarga. Aku sampai tak berani keluar rumah karena malu."


"Jangan bilang gitu! Kalaupun yang seharusnya malu adalah anakmu. Dia jauh lebih dirugikan dari segi psikis. Dia mampu bertahan sudah baik. Hanya  belum mendapat hidayah saja." seloroh om Rudi.


"Yah begitulah. Aku juga sudah muak memberi tahunya. Sampai hubungan ku dengannya renggang." sesal pak Marlon.


"Tapi sekarang baik-baik saja kan?" tanya om Rudi menggoda.


"Yah, berkat anakmu." senyum pak Marlon kembali menyesap teh nya.


"Hah, anak-anak sekarang masih belum berpengalaman tapi seolah sudah tahu isi dunia. Heran." keluh om Rudi menerawang ke arah rumah sakit. Kalimatnya ditujukan ke Marcel dan Lila yang sama-sama pernah terluka. "Apalagi masalah cinta. Kalau ingat betapa kerasnya Lila, ingin aku pukul aja tuh bocah. Cuma kasihan, anak satu-satunya."


"Jujur saja. Aku menyukai anakmu." tutur pak Marlon menatap sendu ke arah om Rudi.


Om Rudi juga demikian. Ia merasakan rasa orangtua yang tulus dari matanya. Namun, takut terbawa perasaan, om Rudi mencoba mencairkan suasana dengan bercanda. "Hus. Kamu sudah tua masih berani main sama daun muda? Istrimu mau diapain?"


Pak Marlon malah tertawa dan bukannya marah. "Gila. Istriku masih sangat cantik mana mungkin aku hempaskan."


"Anakku juga cantik ya." puji om Rudi.


"Iya tahu. Makanya ku bilang aku menyukai anakmu. Sebagai menantu ku." jelas pak Marlon takut ada kesalah paham an yang nantinya ditangkap om Rudi lagi. "Sebenarnya bukan karena cantiknya. Tapi anakmu bisa bawa perubahan pada anakku dan keluarga ku. Kamu lihat kan, istriku sangat suka sama anakmu."


Om Rudi mengangguk setuju. Beberapa hari ia kenal keluarga Marcel, beliau begitu takjub melihat tante Henny yang tak sedetik pun melepas perhatian nya dari Lila.


"Kami tau dari awal Lila adalah keluarga Dhika. Dan awalnya pula hati kami terbakar karena amarah. Tapi seiring berjalannya waktu, kami melihat Marcel perlahan berubah, menjadi lebih baik dan baik setiap harinya sejak kenal Lila. Disitulah hati kami luluh. Apalagi sejak dibawa ke rumah kami waktu itu, anakmu sungguh menyenangkan dan menenangkan hati kami."


"Walau sedikit kusesali, aku tak menyambut baik waktu itu." kekeh pak Marlon.


Om Rudi mencerna kata-kata. Lalu ia menghela nafas panjang sebagai penghiburan dirinya yang gundah pada nasib sang putri.

__ADS_1


"Yah, marilah kita percayakan saja pada anak-anak. Toh semua ada jalannya. Aku percaya Marcel akan memilih yang terbaik untuknya, dengan tidak atau bersama anakku. Kita orang tua bisa apa kalau yang di atas sudah berkehendak." Om Rudi menunjuk ke arah awan.


"Hah... Ku harap semua baik-baik saja. Termasuk Lila juga baik-baik saja."


"Kayaknya susah. Membujuk anak itu butuh waktu lama. Setelah tahu dirinya ditolak Marcel aku harus berusaha keras membujuk nya sekuat tenaga." canda om Rudi lagi.


Dan sisa pembicaraan mereka diisi dengan canda tawa sekedarnya. Perasaan nyaman mengobrol itu entah dari mana dirasakan keduanya. Padahal masih sangat asing dan tidak pernah mengenal satu sama lain.


***


Setelah ditinggal ketiga orang tua, Lila dan Marcel kembali canggung di ruangan yang terbilang cukup luas ini.


"Kakak butuh sesuatu? Air? Atau mau cemilan?" tanya Lila dengan mata yang sendu.


Hati Marcel berdesir begitu ia menatap mata itu. Ingin rasanya ia menyelam ke dalam sana dan menikmati isinya. Pasti sudah dipenuhi dengan air mata.


"Kamu kelihatan capek. Istirahat lah." kata Marcel menangkup wajah Lila lembut dan menempelkan hidung mancung nya ke hidung Kalila yang tak kalah mancung.


"Aku gak apa-apa kok." Blush. Wajah Lila merona.


Sebuah senyum tergambar di wajah Marcel. Senyum tulus. Bukan lagi senyum kikuk yang beberapa hari ini diperlihatkan ke Lila.


"Tadi papa ngomong apa aja ke kamu?" selidik Lila. Karena sejak Marcel berbicara berdua dengan papanya, wajah Marcel menjadi muram dan lebih banyak diam.


"Mm. Kasih tau gak ya?" goda Marcel.


"Yaudah gak apa-apa. Anggap aja yang papa katakan angin lalu." ucap Lila ketus.


"Angin lalu apanya. Yang dikatakan om benar. Cuma aku butuh waktu. Kamu bisa sabar menunggu?" Marcel meraih tangan Lila lalu meremas kencang dan membawa nya ke dada bidangnya.


"Kakak jangan baik gini. Cukup perlakukan aku seperti biasa agar aku tenang menerima keputusan mu." ucap Lila lirih menunduk. Menerima Marcel yang menggenggam erat tangannya.


"Memang nya perlakuan aku gimana? Aku kan gak pernah kasar. Selain..." Marcel tertegun dan menerawang seluruh sikap nya pada Lila dulu. "Waktu pertama kali em-el." Bisik Lila.


Dih, bulu kuduk Lila merinding. Segera ia membekap mulut berbisa Marcel agar tak lebih jauh membicarakan hal vulgar di rumah sakit.


"Diam ah." sentak Lila.


Marcel menahan tangan Lila di bibirnya. Ia cium telapak tangan yang terasa dingin itu. Melengketkan tangan itu ke pipi nya untuk berbagi kehangatan.

__ADS_1


"Udah ah, aku mau isi air dulu. Bentar lagi makan siang kakak." hardik Lila yang beranjak ke luar ruangan sembari membawa tumblr minuman Marcel.


__ADS_2