Terjerat Cinta Kalila

Terjerat Cinta Kalila
Pertemuan Dua Keluarga


__ADS_3

"Bagaimana bisa terjadi?" tanya tante Henny lagi masih kepo karena dia mendengar sedikit informasi dari Fandi yang langsung mengabari mereka setelah kejadian itu.


"Laki-laki itu mantan pacar Kalila, ma. Dia menculik Kalila di rumah nya dan membawa nya ke hotel Dem."


"Mantan pacar?" tanya tante Henny heran.


"Hmm. Seseorang yang tak ingin dilihat Lila. Makanya dia kabur ke sini, eh malah tetap dihantui oleh laki-laki berengsek itu. Dan parahnya, dia menculik Lila cuma untuk memperkosa nya." jelas Marcel yang masih dihantui emosi karena belum puas mengajar wajah Aldo. Kalau bukan karena ditimpuk lampu yang beratnya minta ampun itu, dia pasti tak kehilangan tenaga dan bisa menghabisi Aldo sampai babak belur.


Tante Henny kaget mendengarnya. Menutup mulutnya dengan tangan dan terlihat matanya juga bergetar iba. Termasuk pak Marlon yang menunduk mendengar cerita itu.


"Dari dulu sejak pacaran, laki-laki itu selalu kasar sama Kalila. Dia selalu dipukulin dan ditampar." Sambung Marcel.


"Pantes, mukanya yang cantik itu lebam. Tega banget laki-laki kayak gitu. Jadi gimana dia sekarang?" Tante Henny masih khawatir.


"Papa nya Kalila sudah memenjarakannya." Jawab Marcel cepat. "Papanya polisi." Marcel menambahkan keterangan lanjutan setelah wajah tante Henny bertanya di tengah kebingungan nya.


"Kasihan sekali, Lila. Syukurlah, tidak terjadi apa-apa." lega tante Henny. Pak Marlon masih setia menonton.


"Aku merasa bersalah, ma."


"Kenapa sayang?"


"Akhir-akhir ini aku menghindari dia dan menjauhi dia. Semua itu aku lakukan juga demi kebaikan dia. Kalau saja aku perhatian ke dia, gak akan ada kejadian ini, ma." sesal Marcel menunduk dalam.


Tante Henny mengiba melihat anaknya uring-uringan. "Sudah nak, sudah. Semua udah terjadi dan Kalila baik-baik aja. Yang penting sekarang perlakukan dia dengan baik."


"Papa tuh." tunjuk Marcel bak anak kecil mengadu karena gak dikasih permen.


"Kok papa?" Tante Henny bingung.


"Iya, papa yang nyuruh aku jauhin Kalila."


Tak tahan dengan amukan istrinya yang bisa saja memecah belah rumah sakit itu, pak Marlon buru-buru menjelaskan.


"Aku bukan nyuruh jauhin Kalila. Aku cuma mengingatkan, anak mu ini harus tegas sama perasaannya. Aku gak mau dia mempermainkan anak orang karena bayang-bayang mantan istrinya yang masih membekas. Gitu loh." Bujuk pak Marlon agak panik.


Tante Henny mendengus kesal. Belum sempat ia bertindak dengan alibi sang suami, pintu rumah sakit kembali didobrak kasar oleh seorang dari luar.

__ADS_1


Dear pintu: salah mu apa sih? Kok dikasarin terus? Capek ya? Sama, aku juga. -_-'


Kali ini tamu nya adalah tante Jasmin dan om Rudi yang berjalan beriringan. Om Rudi terlihat membawa kotak bekal besar yang mungkin adalah makanan buat untuk putrinya.


Karena kaget dengan kelakuan sang tamu, Marcel, pak Marlon, dan tante Henny mendadak hening memperhatikan tamu mereka.


Marcel dan tante Henny lalu saling memandang.


👩‍🦳 Jadi ini yang bikin kamu ketawa sama Kalila tadi?


🧑 Hooh, ma. 🙈


Seperti itulah mungkin isi percakapan ibu dan anak itu melalui mata mereka.


"Eh maaf, saya pikir tidak ada tamu." tutur tante Jasmin malu-malu.


"Iya, gak apa-apa, tante. Tante, om, kenalin, ini mama sama papa saya." kata Marcel memperkenalkan dua pasangan paruh baya itu.


Dan mereka berkenalan dengan suka cita. Kekaguman tergambar dari raut dua wanita paruh baya itu.


"Oh jadi ini mama Kalila yang menurunkan bakat masak hingga Kalila menjadi menantu-able banget? Luar biasa didikannya." batin tante Henny.


Sementara kedua pria paruh baya yang duduk bersebelahan di kasur Marcel cuma bisa bergumam, "Dasar perempuan. Eh?" Keduanya kompak menggerutu, kompak pula mengatakan eh.


"Kalila mana Cel? Tante udah nyiapkan makanan untuk kita di sini!" sahut tante Jasmin memecah kecanggungan.


"Lagi cari sarapan sama adik saya, tante."


"Loh, gak sabaran tuh anak. Kamu udah sarapan?" tanya tante Jasmin lagi.


"Udah tante. Saya gak dibolehin Kalila makan yang lain selain dari rumah sakit. Gak tahu lah, anak tante cerewet." Jawab Marcel yang seketika sudah merasa akrab pada tante Jasmin yang pernah dia temui sewaktu muda dan masih labil dulu.


"Maaf ya, turunan." celetuk om Rudi juga ikut mencairkan suasana.


"Kalau begitu kita aja jeng yang tua tua ini sarapan. Sini jeng." ajak tante Jasmin tak lagi sungkan dan menggandeng tangan tante Henny ke meja satu lagi yang ada di bawah tv.


Begitu menghidangkan segala lauk pauk dan nasi putih yang asapnya bahkan masih mengepul, membangkitkan nafsu makan pak Marlon.

__ADS_1


Secepat kilat para istri mengambilkan makanan untuk para suaminya yang juga tampaknya sudah akrab dan membicarakan hal-hal ala bapack-bapack.


"Astaga. Enaknya." celetuk tante Henny memuji.


"Ah, jeng ini, jangan gitu. Aku malu." ungkap tante Jasmin yang malu-malu.


"Aku pikir masakan Kalila udah yang paling enak, tapi mamanya lebih enak. Ya kan pa?" tanya tante Henny meminta persetujuan suami yang dibalas anggukan oleh pak Marlon. Maklum, mulutnya masih sibuk mengecap dan mengunyah makanan enak yang dihidangkan.


"Loh, Kalila pernah masak jeng? Anak itu gak pernah mau masak kalau gak aku suruh bantuin." Tante Jasmin mengerjap heran mengingat Kalila memang malas masak kalau bukan karena dipaksa.


"Iya jeng, waktu dia ke rumah utama kami di Batam, dia masak. Duh, aku jatuh cinta sama sup jamur bikinan dia." senyum lebar tak henti tersungging dari tante Henny untuk memuji Kalila yang sekali lagi saya tekan kan, menantu-able.


"Ma, aku boleh makan gak? Wangi banget." kata Marcel yang tak tahan godaan aroma sambal goreng yang menyebar ke seluruh ruangan.


"Kalau Kalila marah mama gak tanggung jawab loh." ucap tante Henny bermaksud mengancam Marcel dengan menyebut nama Kalila.


Marcel jengah, lalu ia merebahkan tubuhnya di sofa sambil mencium aroma yang kembali menggugah seleranya.


"Keluarkan aku dari situasi ini!!!" batin Marcel teriak mendengar sana sini bercengkerama sambil menikmati menu sarapan mereka.


Setelah sarapan, lalu para orangtua merapat dan saling berbincang-bincang. Marcel dipaksa kembali ke tempat tidur untuk istirahat, sementara para ayah bergabung ke kumpulan para ibu untuk bercerita.


Tak lama Lila kembali bersama Hera dan Herly dari sarapan mereka. Terkejut Lila ketika ia melihat mama dan papanya sudah akrab dengan orang tua Marcel.


"Loh ma? Pa?" Lila mengabsen kedua nya sembari menunjukkan wajah bingung.


"Apanya yang loh." pungkas tante Jasmin.


"Jeng, kenalin, ini anak-anak aku. Adiknya Marcel. Hera dan Herly. Ada satu lagi adik nya Marcel yang paling tua, tapi gak ikut karena kerja." Tante Henny lalu memberi isyarat agar kedua putrinya memberi salam dengan mencium tangan tante Jasmin.


"Duh, sopan nya." puji tante Jasmin.


"Nah sama om itu juga. Mereka ini papa mama nya kak Kalila." perintah tante Henny selanjutnya dan tetap diikuti kedua putrinya dengan senang hati.


Sementara Lila yang masih bingung, duduk di samping kasur Marcel yang mengerjap ngerjapkan matanya.


"Kok kompak?" bisik Lila ke Marcel dan dibalas oleh Marcel sebatas mengendikan bahu. Dia sudah kesal karena tak diperbolehkan menyicip sambal goreng bikinan tante Jasmin yang wangi nya menyeruak ke seluruh ruangan.

__ADS_1


__ADS_2