Terjerat Cinta Kalila

Terjerat Cinta Kalila
First Sight


__ADS_3

"Ayo, masuk!" perintah Nana sekali lagi yang menyadarkan Lila dari lamunannya. Matanya lantas melirik keadaan sekitar parkiran. Banyak mobil yang nangkring di sana. Bahkan dipastikan tidak ada motor. Hebat, ini perkumpulan orang kaya atau diving sih? Gumamnya yang tak henti mengagumi tempat itu.


Saat memasuki pintu masuk, banyak orang ternyata yang berseliweran di sana. Cewek, cowok, dilihat dari apapun jelas, ini bukan sekedar perkumpulan hobby. "Anjir, sepupuku bisa masuk ke sini tapi gak bisa bawa satu cowok? Ku tarik kembali kata-kata ku pada tante. Kalau gini, Nana yang bego gak bisa gaet sebiji," dalam hati Lila tertawa menyadari kenyataan tentang Nana.


"Hai," sapa Nana pada sekumpulan perempuan yang sedang asyik berbincang. Lalu mereka semua kembali menyapa Nana.


Mata mereka menatap ke arah Lila yang ada di sebelah Nana, bersembunyi di balik punggung sepupunya. Menyadari keadaan itu, Nana lalu menarik tangan Lila dan mulai memperkenalkan dirinya pada teman Nana. "Kenalin, ini Kalila, sepupu aku weks (jamak dari kata Cewek)."


Satu per satu perempuan yang tadi memandanginya memperkenalkan diri secara ramah. Kelihatan dari wajah mereka yang dengan tulus menyambut kedatangan Lila. Tapi sedikit mengherankan, kok cuma ke perempuan-perempuan ini ia diperkenalkan, padahal masih banyak orang lain lagi yang terasa asing. Mata herannya lalu meninjau wajah wajah lain yang sibuk dengan kegiatan sendiri.


"Sabar, aku cuma mau ngenalin kamu ke orang yang aku percayai aja," sahut Nana yang mengerti isi hati Lila.


Benar saja, lalu muncul dua orang laki-laki yang memasuki perkumpulan. Nana langsung menarik tangan Lila dan menghampiri dua orang itu.


Lila merasa daritadi ada yang memperhatikan dia, tapi tak tau dari mana asalnya. Walau begitu, aura pandangan itu mampu membuat bulu kuduknya berdiri. Penasaran dari mana asal aura menusuk itu, Lila berupaya melihat sekeliling mencari sumber kekuatan tersebut. Lalu matanya terpatri pada sosok pria yang memandanginya secara tajam dari kejauhan. Jarak mereka kurang lebih 50 meter lah.


Sosok pria itu samar-samar di balik gemerlapnya lampu ruangan yang dihiasi bak bar exclusive. Dan seolah ada batas, dari tempatnya berdiri ke tempat pria itu berada. Namun yang bisa dipastikan Lila saat itu hanya satu. Pria itu tersenyum tipis ke arahnya sambil dan masih memandangi dirinya. Tunggu, sekali lagi dipastikan, Lila menoleh ke belakang dan melihat tidak ada orang yang sedang menatap pria itu kecuali dia sendiri. Dan kembali pria itu tersenyum sambil menggeleng pelan.


Menakutkan sih, tapi ganteng, pikir Lila saat itu. Tapi tetap saja risih. Kalau bisa bersuara, ingin rasanya ia teriak di telinga Nana dan merengek minta pulang karena rasa tidak nyaman yang amat luar biasa dari cara pria itu memandang dirinya.


Sementara Nana masih sibuk memperkenalkan sepupunya kepada orang-orang yang ada di sana. Terlihat ada yang antusias karena melihat wajah baru yang segar nan menawan, ada pula yang mencibir karena merasa tersaingi.


"Jangan ngobrol sama orang aneh kayak dia dan teman-temannya! Jauhi dan hindarin kalau kamu ketemu random sama dia di lain tempat. Dia berbahaya," bisik Nana saat ia menyadari sepupunya hanya tertuju pada satu titik fokus yang sosoknya amat ia kenali.


"Tapi pria itu tampak tak asing." Bisik Lila lagi ke Nana. Tak ada sahutan, dan ternyata Nana sudah keluyuran entah kemana. Meninggalkan Lila dalam kesendirian dan tersesat. Ia lupa dimana teman-teman wanita Nana tadi berada. Gawat. Bisa-bisa dia jadi mangsa pemburu yang haus belaian jika begini.


"Pura-pura mengerti situasi sajalah," ucapnya dalam hati sambil menenangkan diri. Alhasil, ia berlari ke arah kudapan. Mencoba beberapa makanan yang sebenarnya tidak tertelan secara leluasa.


"Eh, siapa tuh makhluk indah yang di sana?" tanya Fandi pada sekumpulan pria penyendiri di dekat bar yang remang-remang.


"Sepupu Nana katanya," jawab Aji.

__ADS_1


"Tipe gua banget tuh," sahut Fandi lagi.


"Ah, semua cewek tipe lo, kampret! Kemarin Nana, ini sepupunya. Makan tuh sekeluarga!" celetuk Carlos.


"Berisik lo, pokoknya yang ini bagian gua."


Marcel yang tadi diam, kali ini ikut nimbrung membicarakan wajah baru yang mencuri perhatian semua orang itu.


"Coba aja kenalan, kalau bisa kenalan terus melewati Nana gua kasih pinjam my Fera," kata Marcel seraya menaruh kunci mobilnya di hadapan Fandi.


Sontak Fandi terlihat berapi-api. Karena sudah lama ia ingin mengendarai Ferrari Marcel dan kesana kemari berburu cewek cantik.


"Oke."


Fandi mengeluarkan langkah berani menghadapi Lila yang berada tidak jauh dari Nana. Bagi anggota klub, Nana ini cewek barbar yang gak bisa dihadapi. Pikiran kritis dan IQ yang tinggi secara otomatis membentengi dirinya dari mata pemangsa yang cuma bermodal wajah dan tunggangan.


"Hai," sapa Fandi langsung ke Lila.


"Kamu anggota baru?"


"Enggak, Kak, aku cuma nemenin Nana di sini."


"Oh ya? Kenapa gak masuk aja, klub diving ini kekurangan oksigen. Makanya kamu diperlukan banget untuk menghidupkan kita kita."


Lila tersenyum canggung. Tak tahu harus bereaksi seperti apa. Ngakak kah atau diam aja sambil bilang garing banget lo, kan gak mungkin aja. Untung saja Nana yang tanggap dengan sirine hati pertanda meminta pertolongan itu segera datang dan membungkam mulut Fandi.


"Menghidupkan kepala lo itu! Jangan dekat dekat sama sepupu gue ya, dasar kutu air!"


Cuma dua kalimat, tapi Fandi, knock out. Nana menarik lengan Lila dan mengajaknya ke tempat aman. Menuntunnya ke tempat teman-teman kepercayaan Nana yang pertama kali ia perkenalkan.


"Kamu di sini aja deh, bahaya di sana," kata Nana.

__ADS_1


"Para player ini kalau ada yang baru dikit, radar pemangsanya langsung on gitu ya. Gila!" sahut Minnie, teman dekat Nana di klub itu.


"Halah, palingan lagi taruhan. Didonasiin Marcel." sambung yang lain.


"Mereka itu kaya, ganteng, tapi kok gak punya otak sama moral gitu ya," yang lain ikut imbuh.


Alhasil, topik tadi langsung dijadikan gibahan. Begini memang jika cewek ngumpul. Gibah adalah pemersatu mereka.


"Lil, kamu kalau didekatin sama mereka, please gak usah mau ya. Mereka itu rusak banget otaknya. Cewek itu cuma kayak ****** ***** doang, gonta ganti," Minnie mengingatkan setelah panjang lebar mereka bergosip.


"Mereka?" tanya Lila bingung.


"Iya, cowok- cowok yang duduk menyendiri di ujung ruangan sana. Salah satunya yang ngajak kamu ngobrol tadi."


"Gini deh, aku kasih tau satu-satu," cewek bernama  Dani mulai ikut campur dalam pergibahan. "Mereka ada lima orang tuh. Marcel, Fandi, Aji, Carlos, sama Demian. Ini player kelas kakap yang terkenal di kalangan cewek-cewek. Hobbynya bawa pulang cewek, besoknya dibuang. Abis itu cari lagi. Gila deh pokoknya."


"Terutama Fandi, gak ada bagus-bagusnya jadi orang. Ih, amit-amit."


"Terus yang itu, sultannya," Minnie menyambung sambil menunjuk ke arah Marcel tanpa ragu. "Walau klub ini didonasiin dia, tapi jangan tertipu dan tergoda sama hartanya. Dia itu juga buaya."


"Makanya jangan dekat dengan dia. Selain rusak, dia juga sudah menikah," celetuk Nana yang berhasil membuat Lila kaget sekaligus menyayangkan sosok indah itu sudah dimiliki orang lain.


"Beruntung sekali wanita itu," pikir Lila dalam hati.


Sementara percakapan dari sudut biru, alias para laki-laki player yang digosipkan dari sudut merah, pun juga sedang menggosipkan rombongan Nana yang secara barbar menunjuk Marcel menggunakan telunjuknya.


"Ingin rasanya gue patahin tuh telunjuk!" sahut Fandi yang sebenarnya juga sama barbar dengan Nana.


"Namanya siapa bro?" tanya Marcel sambil menenggak minuman.


"Lila. Gak sempat dapat nomor hape nya karena si nenek sihir muncul, jadi, bisa dong gue nunggangin si Fera (merujuk ke mobil milik Marcel, please jangan tersinggung)?"

__ADS_1


"Cuma sejam, karena lo cuma dapet namanya," jawab Marcel.


__ADS_2