
"Menyedihkan." celetuk Lila lagi-lagi.
Buru-buru ia memperbaiki kata-katanya takut jika Marcel tersinggung dan benar meninggalkan nya. Padahal untuk mendapat kesempatan berdua begini sangat langka.
"Maksudku bukan begitu.. Walau pun kamu korban, tapi cintamu yang seperti itu namanya egois. Kamu bahagia tapi dia tidak."
"Kak, menikah itu bukan akhir kisah cinta. Tapi awal. Banyak kan orang yang bercerai setelah mereka menikah. Entah itu karena kegagalan atau kesalahan."
Penjelasan Lila mampu membuat Marcel tertegun. Dia tak pernah mendapat tuduhan seperti ini. Biasanya kalimat yang ia dengar adalah dukungan. Bahkan saat ia memutuskan memilih Sindi sebagai istrinya, ia juga mendapat dukungan dari berbagai pihak. Tapi sekarang, anak bau kencur di depannya sedang menasihatinya soal cinta dan mengatakan egois padanya?
"Karena aku juga sama. Menyedihkan. Dan kesalahan ku dalam percintaan karena aku terlalu egois." celetuk Lila dengan nada suara lirih. "Kadang kita gak tau orang yang di samping baik atau jahat karena dibutakan cinta. Sebanyak apapun yang kita dengar soal pasangan, sebanyak itu pula usaha kita menutup mata, telinga, dan hati dari mereka yang berbicara negatif. Makanya aku bilang, kamu sama hal nya seperti aku, egois." tutur Lila.
Marcel menatap Lila dan memfokuskan pandangan ke Lila. Memperhatikan bibir tipis yang terus bergerak mengeluarkan kata-kata.
"Tapi setelahnya aku sadar, semua yang mereka katakan adalah benar. Dan aku bersyukur atas kejadian yang pernah kualami." Lila tersenyum masam.
"Kak." Lila menggenggam tangan Marcel. Untungnya Marcel membiarkan Lila melakukan itu dan fokus kepada apapun yang dikatakan Lila. "Dari awal aku udah bilang kan, kalau kakak orang baik. Dan orang yang baik itu bukan orang yang tak pernah melakukan kesalahan. Tapi orang yang akan memperbaiki kesalahan. Jadi aku mohon, demi kakak, lupakan masa lalu dan hadapi kenyataan dengan lapang dada."
Marcel memicingkan mata. Terlihat kesal, gadis kecil itu terus menerus menasihatinya yang udah kepala tiga.
"Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Dan kebetulan, perpisahan yang kakak hadapi, sangat tragis. Tapi ini sudah berjalan terlalu lama. Sudah saatnya kakak membuka hati dan menutup lembaran lama."
Marcel melotot tajam ke Lila, tapi gadis itu hanya mengendikan bahu tanda tak paham. Namun kemudian ia merubah haluan arah pembicaraannya. "Ah, maksudku, ada aku di sini." seru Lila bersikap manis sembari menunjukkan jari tanda peace pada Marcel.
"Semua ada alasannya. Kita tak pernah tau jalan pikiran orang lain. Sebagai korban mungkin kita menyalahkan dia. Tapi itu dari sudut pandang kakak. Bisa jadi dari sudut pandang Sindi, dia juga menjadi korban. Siapa tahu." Lila dengan culas mengatakan maksudnya. Bahkan menyebut nama Sindi dengan bebas tanpa sapaan 'kak'.
"Sudahlah." pinta Marcel menunduk dalam. Hatinya sesak jika terus membahas soal Sindi.
__ADS_1
"Aku kemari cuma mau menyadarkan anda, bapak Marcel. Karena semua orang yang aku temui meminta agar aku menyadarkanmu. Berasa jinakin macan, tau gak?" ledek Lila yang tak henti-hentinya mendapat tatapan panas.
***
Di hari yang sama.
"Oi. Lama lo kamvert! Gue orang sibuk!" terjang Carlos menendang tulang kering Fandi begitu ia melihat Fandi melengos masuk ke restoran Asix, milik Aji. Pasalnya ia sudah membiarkan Carlos menunggu hampir se-jam.
"Sorry, ada bisnis tadi." Jawab Fandi santai. Ia membenarkan rambut yang tadi acak-acakan menggaruk menahan sakit akibat tendangan Carlos.
"Bisnis, palamu!" hardik Carlos lagi.
"Sudah, sudah, mari berbincang. Ini penting." kata Fandi mengalihkan perhatian Carlos yang masih menahan emosi. Ia bahkan harus menunda pertemuan dengan klien yang akan memakai jasanya demi menemui Fandi.
"Apa?"
"Kenapa?"
Fandi menceritakan apa yang terjadi di rumahnya tentang persaingan Dem dan Marcel yang jarang terjadi. Bahkan tak pernah terjadi, apalagi masalah perempuan.
"Yakin Dem sama Lila? Jadi udah jadian?" tanya Carlos malah ngegosip.
"Ya mana gue tau. Belum jumpa Dem sama Marcel sejak berdebat di rumah gue. Tapi gue rasa belum. Dem pasti tau kalau Marcel itu serius. Cuma masih bimbang aja sama status nya yang tak mau diakhiri."
Dih, sok bijak si kadal. Benak Carlos.
"Sebagai pengacara, please, bantu sahabat lo." pinta Fandi.
__ADS_1
"Ya gimana caranya?" Carlos bertanya balik.
"Ya lo pengacara dodol, kek gimana gitu biar Marcel menceraikan Sindi."
Tiba-tiba seseorang yang mereka kenal masuk ke dalam pembicaraan dan mengagetkan keduanya. Hampir Fandi membalik-balikkan meja nya karena terkejut akan kehadiran Dem di sana. Siapa coba yang ngasih tau?
"Kenapa lo di sini?" tanya Fandi membulatkan matanya.
"Sebagai sahabat gue gak mau kehilangan momen buat bantu si monkey."
"Jadi gimana caranya?" tanya Fandi.
"Kita jumpai Sindi di Jerman. Minta langsung tanda tangannya untuk menyetujui surat perceraian." jelas Dem memberi ide. Sementara kedua sahabat nya hanya manggut manggut gak ada ide.
"Lo siapin suratnya." tunjuk Dem ke Carlos dan dibalas anggukan. "Dan ikut gue ke Jerman jumpain Sindi. Sudah lama juga gue gak bertegur sapa sama dia." seringai Dem membuat bulu kuduk keduanya bergidik ngerih.
"Terus kalau Marcel ngamuk?" Fandi mengingat tabiat jelek Marcel ketika sedang emosi. Anak itu bisa melayangkan orang ke udara lalu membantingnya. Persis yang ia lakukan pada Bryan dulu saat menggoda Lila.
"Gue yang tanggung jawab." seru Dem yakin. Tangannya sudah terkepal keras. Tekadnya sudah bulat. Walau ia juga agak sedikit menyukai Lila yang manis dan imut-imut, mana bisa ia bersaing dengan sahabatnya.
"Yasudah kalau gitu. Gue mantau dari sini aja." celetuk Fandi.
"Berapa lama suratnya?" Dem tak menggubris Fandi, hingga Fandi memanyunkan bibirnya kesal.
"Besok juga bisa siap." Jawab Carlos cepat.
"Lusa kita berangkat. Semakin cepat semakin baik. Marcel harus sadar pada kenyataan yang dia hadapi walau pahit." imbuh Dem.
__ADS_1