Terjerat Cinta Kalila

Terjerat Cinta Kalila
Ajakan Camer?


__ADS_3

Tak butuh waktu lama bagi Marcel mengendarai mobilnya untuk sampai ke restoran Asix.


"Kamu di sini aja ya. Ac nya aku idupin."


"Hm.. Iya deh," jawab Lila ragu.


Iya sih, kalau dia ikut ke dalam dan berjumpa mama Marcel, apa yang harus ia sebutkan soal dirinya. Pacar, kekasih, selingkuhan? Apapun itu pasti sangat tidak etis di depan orangtua Marcel. Jadi Lila dengan sabar menunggu sendirian di mobil sampai akhirnya...


"Astaga!!!!" teriak Lila ketika melihat sosok perempuan mendekat ke kaca sampingnya. Berambut panjang, digerai, dan berbaju putih. "Kuntilanak!!!"


Dengan panik, ia membuka pintu mobil dan bergegas keluar hingga terdengar bunyi benturan keras saat ia sengaja menabrak sosok kuntilanak itu.


"Aduh..." pekik seseorang.


"Astaga manusia ternyata!" seru Lila mulai panik ketika ia menyadari manusia lah yang mengagetkannya.


Sementara itu..


"Eh, udah sampai?" tanya wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan glamor bernama tante Henny.


"Wah.." takjubnya ketika melihat isi meja makan penuh dengan makanan. Utuh, belum tersentuh. "Mama yakin gak ada uang cash atau kartu kredit?"


"Heem." dehem tante Henny.


"Tapi pesanan mama banyak juga ya." sindir Marcel.


"Ya biar, kan ada kamu..." tante Henny celingak celinguk seperti mencari seseorang. "Kamu sendiri?"


"Iya."


Tak puas tante Henny melihat ke arah pintu masuk. Kali aja seseorang yang tadi bersama Marcel menyusul ke dalam.


"Aw..." pekik seseorang memecah suasana sambil mengusap jidatnya dengan telapak tangan.


"Kamu kenapa sayang?" panik tante Henny begitu melihat wanita itu.


Langkah kakinya gontai diikuti oleh sosok Lila yang mengherankan tante Henny. Jadi ini yang tadi di telepon, batinnya. Marcel juga sama herannya ketika ia lihat Lila berjalan dengan adik bungsunya.


"Kok?" tanya Marcel bingung.


"Aku gak sengaja jedotin kepala mbak ini pake pintu mobil karena dikagetin. Aku pikir kuntilanak." jelas Lila memelas pada Marcel. "Maaf ya mbak, saya gak sengaja."

__ADS_1


"Kamu usil banget sih, dek!" omel Marcel.


"Ya kan aku penasaran, kakak ke sini sama siapa."


Tante Henny masih meneliti sosok Lila dari atas hingga ke bawah. Tak ada komentar apapun begitu ia tahu Lila-lah yang tadi memarahi anaknya di telepon.


"Kalian, makan dulu!" perintah tante Henny pada anak-anaknya.


"Kalau begitu saya balik ke mobil ya, kak." sungkan Lila mendengar perintah tante Henny.


"Loh, kenapa? Udah di sini ya ayo makan. Aku juga yang bayar," sindir Marcel kembali pada mamanya.


Tante Henny kembali berdehem, "Kamu juga, makan di sini!" suruhnya lagi. Mau tak mau Lila menurut. Ia duduk di kursi yang telah dibuka oleh Marcel. Berhadapan dengan mama dan adik dari Marcel. Jangankan makan lahap, menelan ludah saja rasanya berat.


"Ya Tuhan, harusnya tadi aku gak ikut adiknya Marcel ke dalam," batinnya.


Sesekali, tante Henny dan Herly melihat ke arah Lila. Saat itu jantung Lila terasa berhenti mendadak. Sebab ibu dan anak itu diam saja menikmati makanan, tanpa bertanya nama, dirinya siapa, siapanya Marcel, atau pertanyaan yang serupa dengan itu.


"Duh, tante, lebih baik ngomel sambil banting meja terus bilang, pergi kau dari anakku! Dasar perempuan hina. Daripada aku dipelototin terus kayak gini." Lila meringis sendiri membayangkan jika kejadian itu benar-benar terjadi padanya.


"Kamu kenapa? Sa... Sakit?" tanya Marcel yang tanggap saat melihat wajah Lila meringis, sebenarnya karena gemas bukan karena sakit.


"Gak, gak, kak. Gak apa-apa." jawabnya setengah cengengesan.


"Gak apa-apa kok mukanya kayak kesakitan gitu. Apa karena tadi..."


Deg. Dan Lila teringat apa yang tadi mereka lakukan di dalam mobil saat di pantai. Jangan bilang pikiran Marcel tertuju ke sana dan mau diungkapkan di depan mamanya. Sigap, Lila langsung membekap mulut Marcel sambil menatap dengan tatapan sinis.


"Ihhh," keluhnya sambil melirik ke mama marcel. Pertanda isyarat untuk gak ngomong aneh-aneh di depan orang tua. Untung Marcel mengerti isyarat itu.


Tante Henny dan Herly kompak masih melekatkan mata mereka pada tontonan yang dipertunjukkan Marcel dan Lila.


Dan suasana kembali hening saat Lila menyadari bahwa mereka menjadi fokus utama ibu dan anak itu.


"Dengar-dengar kamu semakin rajin bekerja ya, putraku?" tanya tante Henny memecah keheningan.


"Biasa saja, dulu aku juga rajin bekerja, mamaku." sindir Marcel mengikuti gaya bicara sang mama.


"Hmmm begitu. Mencapai kerugian dan menelantarkan bisnis, apa itu yang kamu sebut dengan rajin?" tante Henny tak mau kalah.


"Paling tidak, belum sampai gulung tikar, mamaku."

__ADS_1


Kesal mendengar jawaban anaknya, tante Henny menendang kaki Marcel yang duduk tepat di depannya.


"Aw.." pekik Marcel.


"Kamu udah lama gak pulang ke rumah. Gak kangen mama?"


"Kangen. Tapi kan udah ketemu." Jawab santai Marcel.


"Sama papa?"


Marcel diam sejenak. Memikirkan kembali sifat papanya yang dingin dan diktator.


"Papa nya kangen gak sama aku?" tanya Marcel balik.


"Ya jelas." Jawab tante Henny buru-buru, sebab dia tau sendiri watak suaminya yang gak mungkin mengatakan sendiri kerinduannya pada sang anak. "Untuk itulah mama datang. Papa nyuruh kamu pulang karena mau membicarakan sesuatu. Sekalian kamu kan habis ulang tahun, kita rayain di rumah ya."


"Gak mau ah. Aku sibuk. Bentar lagi liburan, hotel pasti ramai." tolaknya.


"Alah, biasa juga si Yudha yang ngerjain kerjaanmu."


"Iya, tapi sekarang beda. Lagi pula mana mungkin papa begitu."


Gak kehabisan akal, tante Henny meluncur ke target kedua yaitu Lila setelah ia lelah dengan semua penolakan Marcel.


"Nama kamu siapa?" tanya tante Henny mengintimidasi.


Deg. Jantung Lila berhenti berdetak untuk ke sekian kalinya.


"Kalila, tante."


"Minggu depan kamu sibuk gak?"


Sempat bingung, tapi Lila segera memberikan jawaban, "Tidak, tante."


"Nah, kalau gitu kamu ikut ke Batam ya, temani Marcel. Masukin nomor hp kamu!" perintah tante Henny sambil menyodorkan hp nya.


Berat hati Lila mengambil nomornya setelah mendapat persetujuan dari Marcel.


"Oke, tante tunggu loh ya."


Tak ingin mendengar penolakan lanjutan, tante Henny bangkit dan menyeret putrinya untuk meninggalkan Marcel dan Lila berdiskusi sejenak.

__ADS_1


__ADS_2