Terjerat Cinta Kalila

Terjerat Cinta Kalila
Kunjungan 3


__ADS_3

Selesai makan malam dan membersihkan peralatan makan, Marcel dipanggil papanya ke ruang kerja dan membicarakan suatu hal. Entah membicarakan apa karena wajah papanya yang amat serius. Sementara para wanita, berkumpul di ruang keluarga sambil menikmati cemilan dan berbincang sejenak.


"Ini putri ayu tante yang bikin, cicipin Lila!" seru tante Henny membawa nampan berisi berbagai cemilan enak.


Tanpa sungkan Lila mencomot satu dari piring itu dan memberi komentarnya. "Ah, tante jahat!" celetuknya.


Loh. Sontak ibu dan anak-anaknya yang ada di sana memandang aneh komentar Lila.


"Kue nya seenak ini tapi gak bolehin aku bantuin. Takut resep nya aku curi ya tante?" Candanya menebarkan kelegaan.


"Ah, kamu ini, hampir copot jantung tante dengarnya."


"Oh iya, Lila udah berapa lama jalan sama kakak?" tanya Hera menelisik tanpa basa basi.


Tante Henny yang mendengar celetukan tak sopan sang anak memukul pelan tangannya. Seraya berkata, "Sembarangan! Manggil nama begitu!" Entah apa lagi maksud perkataan ibu-ibu itu.


Untung segera ditepis Hera saat Lila menemui kebuntuan. "Ya kan kami seumuran, mama!"


"Tapi tetap aja. Lila kan nanti...." ah, tante Henny menghentikan kata-katanya. Ada harapan di sana yang membuat hati Lila tersayat sembilu. Sebab ia juga tak tau akan seberapa lama lagi ia berada di sisi Marcel.


"Mama!" bentak Hesty, putri tertua yang sedari tadi diam dan cuek terhadap kehadiran Lila.

__ADS_1


"Oh iya, anak-anak ke kamar sebentar!" perintah tante Henny.


Tak ada angin, tak ada hujan, ia menyuruh semua putrinya untuk kembali ke kamar atau lebih tepatnya membiarkan dirinya dan Lila berdua untuk membicarakan sesuatu.


Dan para putri itu menurut. Dalam waktu singkat, suasana ruang keluarga menjadi hening.


"Tante dengar dari Hesty, kamu tadi lihat foto Marcel yang ada di atas meja ya?" pelan tante Henny bertanya.


Ah, karena itu. Apa salah jika melihat foto menantunya. Apa ini saatnya aku diberi peringatan untuk tidak lagi berkeliaran di sekitar putranya agar menantunya dapat kembali dan rumah tangga putranya baik-baik saja. Batin Lila menjerit. Kegugupan melanda dirinya. Takut jika hal yang ia khayalkan terjadi saat itu.


Menjawab pertanyaan tante Henny, Lila mengangguk pelan.


"Maafin tante ya, karena udah nyuruh kamu masuk dan melihat hal yang tak seharusnya kamu lihat."


"Kamar itu dulunya kamar pengantin Marcel. Hingga saat ini pun, Marcel tidak membolehkan siapapun masuk dan merusak yang ada di dalam. Tapi yang tante dengar, dia malah memelukmu dan menuntunnya ke tempat tidur?" goda tante Henny. Dirinya terkekeh geli begitu melihat wajah Lila merah merona karena malu.


Disapunya rambut Lila pelan seperti anak sendiri, "Tidak ada yang bisa mengajak Marcel diskusi soal pernikahannya yang sudah kandas. Ia tetap bersikukuh bahwa perempuan itu suatu saat akan kembali. Hingga dia melakukan hal yang aneh-aneh. Wanita, berfoya-foya, hidup menyedihkan, semua dilakukan agar kabar tentang dirinya sampai ke telinga perempuan itu. Alih-alih kembali, perempuan itu benar-benar menghilang tanpa kabar. Dan hidup anak tante... Hidup anak tante.. Hiks.." tante Henny tak sanggup menahan air matanya agar tak tumpah.


Cepat-cepat ia hapus rintikan air mata itu dan kembali bercerita. "Makanya kamar itu dibiarkan seperti sediakala. Tapi, kamu datang dan membuat Marcel merobohkan peraturannya sendiri."


Makin tidak paham Lila. Pernikahannya sudah kandas? Harusnya sudah cerai. Apalagi Lila akhir-akhir ini juga baru tau kalau istrinya pergi bersama selingkuhannya.

__ADS_1


"Tante..." Lila ingin mengutarakan pendapatnya. Tapi tante Henny menerjang tangan lila dan meremasnya.


"Lila, sejak kenal kamu Marcel banyak berubah. Rajin kerja, gak mabuk-mabukan lagi, dan sekarang mau pulang ke rumah. Luka Marcel adalah luka keluarga ini. Tak hanya melempar kotoran dan malu, perempuan itu juga bahkan menghancurkan hidup Marcel. Jadi tante mohon, kamu selalu ada ya untuk Marcel. Bantu dia untuk menghadapi kenyataan bahwa perempuan itu udah pergi."


Ah, barulah Lila memahami semuanya. Si bodoh Marcel itu rupanya tak menerima bahwa dirinya dicampakkan dan berharap istrinya akan kembali ke pelukannya. Naif sekali.


Melihat keraguan di wajah Lila, kini giliran tante Henny yang gugup. Sembari meyakinkan Lila, ia menarik tangan gadis itu dan memegang erat tangan mungil itu. "Apa kamu tidak menyukainya?"


Sejenak Lila berpikir, tidak menyukainya? Bahkan saat pertama kali bertemu dengan Marcel, hatinya berdesir hebat. Seolah mentari tak ingin digantikan oleh rembulan. Marcel ibarat cahaya dalam kehidupan buntu Lila di masa lalu.


"Aku sangat menyukainya tante. Tapi dia tidak." tangis Lila pecah di pelukan tante Henny yang berusaha menenangkan Lila sembari mengelus punggungnnya.


Sementara di lorong ruang keluarga yang menjadi alternatif jalan dari ruang kerja Pak Marlon, berdiri Marcel sambil menatap cemas jawaban Lila terhadap mamanya.


Waktu menunjukkan pukul 2.15. Entah mengapa tidur Marcel tak tenang. Dirinya berkeringatan dan bermimpi buruk. Tak pula ia mengigau dan berteriak "Jangan pergi! Kumohon!"


Sebelum akhirnya ia bangun dan tenggorokannya terasa kering. Marcel beranjak untuk mengambil minum, dan ia teringat pada Lila yang mungkin saat itu sudah tidur enak di kasur Herly.


Ia lalu menelisik ke kamar adik bungsunya, dan benar saja, ia melihat kedua gadis muda itu tidur bersebelahan. Lelap. Tatkala Marcel membetulkan selimut untuk keduanya dan duduk di samping Lila. Menatap Lila intens penuh arti.


"Kak? Ngapain?" tanya Herly yang terbangun begitu menyadari ada orang masuk ke kamarnya.

__ADS_1


"Ssst!" perintah Marcel kepada sang adik agar tak membuat Lila bangun. Lalu ia membelai kepala Lila dan mencium keningnya. Tepat di depan Herly yang masih setengah sadar.


__ADS_2