Terjerat Cinta Kalila

Terjerat Cinta Kalila
Perjanjian


__ADS_3

Puas bermain dengan Lila, Marcel lebih dulu membersihkan diri. Setelah itu dia mendekati Lila yang masih terbaring di ranjang berbalut selimut abu-abu yang selalu Marcel gunakan. Lalu Marcel mencium puncak kepala Lila yang sontak mengagetkan perempuan itu.


"Masih terasa sakit?" tanyanya dengan nada lembut sembari duduk di samping kasur bersebelahan dengan Lila yang sudah bangkit dan duduk di kepala kasur.


"Tidak."


Marcel tersenyum puas. "Yang pertama memang sakit, tapi setelah itu tinggal enak nya aja kok."


"Semprul!" mata Lila seolah mengatakan itu ke Marcel.


"Aku juga minta maaf sebelumnya sudah melakukannya dengan kasar dan membuatmu menderita. Aku gak tau saat itu kamu benar masih perawan."


Lila tak menanggapi permintaan maaf itu. Tapi ia bisa merasakan bahwa maaf itu tulus diucapkan Marcel. Entah mengapa Lila tak bisa mendakwa Marcel berengsek saat melihat matanya. Dan kalau Lila tak salah lihat, saat mereka bersenggama barusan, Marcel sepertinya menitikkan air mata kesedihan. Namun tidak begitu jelas. Karena Marcel menuntun tubuh Lila untuk membelakangi dirinya.


"Sebelumnya aku mau jujur ke kamu, mungkin semua orang yang udah tau aku pasti juga udah ngasih tau kamu. Aku tegaskan kembali bahwa aku sudah menikah. Dan aku sayang istriku. Jadi, hubungan kita hanya sekedar perjanjian hutang piutang, jangan pernah kamu menganggap lebih dari itu. Hal ini juga aku wanti-wanti ke semua perempuan yang aku dekati. Tapi berhubung janjiku untuk hanya menggunakan kamu seorang, maka kamu perlu tau hal itu."


Marcel terlalu tegas dan blak-blakan soal status hubungannya dengan Lila agar tidak terjadi kesalahpahaman kedepannya dan Lila tidak menuntut apapun. Walau sebenarnya Lila tidak kaget. Tapi, bukankah itu terlalu kejam. 'Hanya menggunakan?' Lila benar-benar takjub pada sosok Marcel yang hanya menganggap dirinya sebagai alat pemuas nafsu.


"Tapi kamu gak perlu khawatir, semua yang kamu butuhkan, aku bisa siapkan. Kecuali pernikahan."


Mau menangis gak tuh? Sudah dinodai, yang laki-laki nya gak mau bertanggung jawab lagi.


"Seperti yang aku bilang, kamu juga gak usah khawatir tentang kamu di dekatku. Jika di muka umum, kita anggap kita gak saling mengenal. Agar tidak memunculkan kecurigaan dari orang-orang. Dan situasi itu juga aman untukmu."


"Aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Lila perlahan.


"Hm?"


"Mengapa kamu begini ke semua wanita? Istrimu tak tahu? Bukannya kamu menyayanginya?" tanya Lila secara polos yang masih tidak bisa memahami keadaan ini.

__ADS_1


Lagi-lagi senyum Marcel hilang ketika menyebut kata istri. "Ada sesuatu hal yang sepatutnya tidak kamu campuri. Dan aku tak begini ke semua wanita. Hanya wanita yang kupilih dengan pertimbangan yang bisa menemani tidur ku."


Marcel berdalih saat Lila menanyakan mengenai istrinya. Kini senyum laki-laki itu benar-benar hilang. Merasa tersinggung mungkin. Dan dia menjauh dari Lila dan ranjang. Mendekati jendela dan menikmati pemandangan kota dan hamparan lautan yang menyelimuti.


"Pulanglah, dan istirahat. Keluarga mu pasti khawatir jika kamu lama pulang. Kamu gak perlu datang sering-sering ke sini. Cukup datang ketika aku panggil. Dan kartu kredit ini, ambillah untuk memenuhi kebutuhanmu. Aku bukan tipe orang yang akan mengambil kembali apa yang sudah aku berikan."


Nada bicara yang kaku dari Marcel menyadarkan Lila bahwa ia harus cepat pergi dari ruangan itu. Memakai kembali pakaiannya dan merapikan barang bawaannya. Tak lupa menyimpan kembali kartu Marcel ke dompetnya.


"Tinggalkan nomormu. Tulis di kertas yang ada di meja," perintah Marcel lalu menunjuk sebuah perkakas kecil yang ada beberapa halaman stick note dan pulpen. Barulah Lila bisa pergi dengan aman. Cukup aman, bahkan tanpa pamitan dan kata-kata pengantar. Kemana perginya pria lembut yang tadi membelai dan memperlakukan dirinya merasa sebagai perempuan paling menawan di muka bumi? Kesal Lila sejak melewati pintu ruangan Marcel hingga ke parkiran.


Malam hari ketika Lila baru saja mencuci muka dan bersiap tidur, ponsel nya berdering. Tak ada nama tertera di layar saat Lila melihat layar ponselnya. Yang ada hanya beberapa baris nomor asing.


"Halo, siapa ini?" sapa dan tanya Lila setelah ia menekan tombol hijau.


"Kamu lupa suaraku? Padahal hubungan kita udah lebih dari sekedar mengenal," sambut suara laki-laki yang tak asing. Ditambah caranya menggoda, sudah pasti itu Marcel.


"Hm.." sahut Lila begitu saja.


Marcel menutup teleponnya dan selang beberapa detik panggilan video siap meluncur di layar ponsel. Berat hati tapi harus, Lila menerima panggilan itu.


"Wah," takjub Lila keceplosan saat ia melihat wajah tampan Marcel di malam hari.


"Apanya yang wah? Terpesona kamu?" tuduh Marcel.


"Tidak," jawab Lila cepat.


"Sudah ingin tidur?"


"Iya, baru mau tidur, terus ada yang ganggu," ujar Lila merasa kesal.

__ADS_1


Marcel tidak tersinggung, dia justru tertawa keras dan menyunggingkan senyum lebar ke Lila. "Jadi aku ganggu? Atau ada orang lain lagi di sebelah kamu yang lagi gangguin kamu?"


"Gak ada siapapun di sini, lihat!" Lila menggerakkan layar ponselnya ke berbagai arah dan sudut ruang kamarnya.


"Eh, itu di deket lemari kayaknya ada orang," celetuk Marcel mulai menakut-nakuti Lila.


"Gak ada," jawab Lila mulai panik.


"Serius, itu tuh," tunjuknya melalui layar ponsel. "Hitam gede. Awas, dia ngeliat kamu!"


"Gak, gak ada. Ish," seru Lila hampir menangis. "Lagipula yang saat ini membuat aku takut cuma kamu."


Marcel sempat tertegun sejenak. "Aku?"


"Iya."


"Maaf ya, kalau aku membuatmu takut. Sebenarnya aku juga sedikit takut denganmu," imbuh Marcel dengan suara lirih.


"Ha?" teriak Lila yang kaget.


"Udah ah, bosan lihat wajahmu."


"Yaudah, matiin!"


"Ucapan selamat malamnya mana?"


"Selamat malam, selamat tidur, semoga mimpi buruk!" Lila langsung menutup telepon tanpa percakapan lebih lanjut.


Sementara Marcel yang ada di tempat lain, menghela nafas panjangnya saat video call baru saja diakhiri. Ia yang duduk santai di sofa membantingkan tubuhnya di sandaran sofa dan menerawang atap rumahnya.

__ADS_1


"Semoga mimpi buruk? Aku bahkan tak tau apa itu mimpi indah, Lil."


__ADS_2