
Hari ini adalah hari nya. Hari lamaran serta party yang diselenggarakan Aldo di hotel Marcel. Sampai hari ini berakhir, Lila benar-benar tidak keluar kemanapun. Se-inchi pun tak keluar dari kediaman om Jo. Bahkan tidak juga keluar untuk menemui Marcel. Toh Marcel juga melarangnya. Takut jika Lila ketemu Aldo dan kejadian pingsan terulang lagi.
"Kamu di rumah kan?" Isi pesan singkat Marcel ke Lila untuk memastikan wanita itu tak kemana-mana setiap harinya.
Seutas senyum Lila sunggingkan saat membaca pesan itu. Seperti biasa Lila membalas dengan keadaan nya yang baik-baik saja dan menghabiskan waktunya di rumah saja.
Sejak pingsan tempo hari, Marcel jadi semakin perhatian dan tak dingin lagi pada Lila. Yah, walaupun perhatiannya hanya bisa dicurahkan melalui pesan. Tapi syukurlah bisa membuat Lila sedikit senang. Entah kalau sudah bertemu langsung. Masih kah perhatian atau mau sok sok-an dingin lagi.
"Dasar laki-laki PHP lu Marcel!" celetuknya ngomel sendiri.
Bosan memang terus di rumah selama beberapa hari. Apalagi saat ini Lila ditinggal sendirian. Mana hari sudah sore dan Om Jo, bu Mis, dan Nana masih bekerja. Baru akan pulang mungkin malam hari.
"Tumben sepi banget!" gumam Lila menuruni anak tangga untuk mencari cemilan di dapur. Ia tak menemukan siapapun. Sunyi, senyap, dan sendirian. Sendirian? Apa itu sendirian? Pikirnya. Sudah biasa ia ditinggal sendiri saat papa sedang dinas dan ditemani mama.
Tanpa memikirkan apapun, Lila tetap berjalan ke dapur dan menggeledah kulkas.
Tapi suara gaduh tiba-tiba terdengar dari arah kebun. Sayup terdengar suara pak Abu dari arah kebun berteriak, "Non Lila, lari!!!" Cuma tak jelas terdengar di telinga Lila.
Sampai akhirnya pria bertubuh bongsor berjalan cepat dan seketika berdiri di depannya dan menghalangi jalan Lila. Menatap Lila dengan tatapan menakutkan.
Lila shock melihat orang itu. Kaki nya tiba-tiba saja terpaku di tanah dan tak mudah digerakkan. Ingin menjerit juga suaranya seakan tertahan.
"Non lari!!!" Pak Abu terseok-seok melangkah ke dalam rumah dengan penampilan berantakan seperti habis bertarung dengan binatang buas.
Mendengar teriakan pak Abu, Lila loncat dan segera lari. Namun sayang, dirinya terlambat. Pria itu menangkap tubuh Lila dan menjinjingnya di pundak, membawa Lila ke dalam mobil van dan melaju entah kemana. Karena mata Lila ditutup oleh sebuah kain hitam.
Dengan tenaga terakhir yang tersisa, pak Abu meraih gagang hp nya dan menelepon salah satu pemilik rumah. Siapa yang muncul lebih dulu, itulah yang akan ia hubungi. Ternyata, nama Nana ada di daftar paling atas daftar panggilan pak Abu.
Tut. Tut. Sabar ia menanti Nana menjawab teleponnya dengan tetap mempertahankan kesadaran.
"Ada apa pak Abu?" jawab Nana di panggilan ke lima. Itupun nada suaranya tak ramah. Mungkin terganggu karena orang rumah menelepon nya.
__ADS_1
"Non, non Lila diculik!" sahut pak Abu dengan suara mengaur tersambar angin.
"Apa????" Lila terperanjat dari kursi kerjanya. Mengagetkan beberapa rekan dan menghambur keluar dari kantor.
***
"Bagus. Tetap awasi. Sebelum pesta perayaan aku akan ke sana dan bersenang-senang dengannya." ucap suara lelaki.
***
Tamu dan teman-teman dari Aldo jauh-jauh datang ke Jakarta, demi menyaksikan pertunangan nya dengan kekasih dan ikut merayakan pesta. Ada juga keluarga pihak perempuan yang merupakan saudagar minyak asal Sumsel.
"Aku merasa seperti pria beruntung di dunia yang bisa mengenal dan memenangkan hati perempuan cantik di sebelah ku ini." tunjuk Aldo ke pacarnya yang berdiri anggun di sebelah nya. Mendapat sambutan hangat dari para tamu karena ke serasi an yang luar biasa.
"Aku ingin menjadi yang terbaik bagi perempuan terbaik yang dikirim untukku. Itulah mengapa aku ada di sini membawanya sekarang." kata-kata Aldo mendapat riuhan dari tamu. Tidak termasuk Marcel yang sudah jengah ingin beranjak dari sana.
"Sher, aku mau kita terus berdua seperti ini dimana pun, kapan pun. Aku mau kamu menemani aku, di sisi aku, menjadi kekuatan bagiku. Sebegitu juga aku ingin berada di samping mu, berjalan bersamamu hingga nanti, melindungimu."
Setelah Sherly mengulurkan tangan dan Aldo memakaikan cincin di jari manisnya, para tamu bertepuk tangan meriah dan menerjang serta memuji Aldo sebagai gentleman sejati.
Kriing.. Suara hp Marcel terdengar di tengah kegaduhan. Sebelum ia mengangkat panggilan, Marcel menepi ke arah yang jauh agar tak terdengar berisik saat menelepon.
Matanya mengerjap beberapa kali. Memastikan ia tak salah baca begitu lihat nama Nana ada di layar ponsel. Agak ragu, tapi Marcel tetap mengangkat panggilan itu.
"Lo dimana sekarang?" tancap Nana begitu Marcel memencet tombol hijau. Belum sempat ia menyapa.
"Di hotel, ada acara."
"Lila diculik!! Please, cari dia." pekik Nana sambil terisak.
Dag dig dug. Suara detak jantung Marcel bak ritme gendang yang berlomba dengan gendang lainnya. Saat itu ia shock. Wajahnya pucat pasi. Bola matanya bergetar ke kanan dan ke kiri.
__ADS_1
Tanpa sadar ia menoleh ke arah Aldo yang sedang asyik di atas panggung. Saat ia menoleh, Aldo juga ternyata sudah melihat ke arahnya. Sembari tersenyum penuh arti dan mengandung kelicikan.
"Gue rasa ini ada hubungannya dengan Aldo. Lo sama keluarga tenang. Gue akan cari. Hubungi Dem dan Fandi supaya mereka juga ikut bantu." perintah Marcel tanpa ragu.
Sebelumnya...
Saat mendapat kabar dari pak Abu, Nana gerak cepat pulang ke rumah dan langsung berhamburan mencari Lila kemanapun. Kagetnya menjadi panik tak terkira ketika ia lihat semua asisten rumah tangga dalam kondisi tak sadarkan diri. Ini bukan perampokan. Mereka memang pasti menargetkan Lila.
Sesaat Nana ingat kalau Lila sebelumnya mengadu soal pertemuannya dengan Aldo dan ketakutannya. Tidak salah lagi. Ini ada hubungannya dengan Aldo.
Dan tak sangka Marcel juga berpikiran sama. Dia menduga Aldo adalah orang di balik semua ini. Bagaimana bisa dia tahu tentang Aldo. Benak Nana. Cuma segera ia tepis karena bukan itu yang penting. Saat genting seperti ini, ia harus menghubungi Dem dan Fandi untuk membantu Marcel mencari Lila. Soalnya Dem sedang ke luar negeri. Fandi juga tidak dapat membantu banyak selain mengerahkan orang-orang yang bekerja di bawah papanya.
Tidak ada jalan lain, Nana menelepon om nya, papa Lila yang memiliki jabatan penting dalam kepolisian negara.
"Halo." sapa Nana setelah om Rudi mengangkat panggilan keponakan.
"Ya Nana?"
"Om, Lila diculik Aldo! Aldo ada di sini!"
Terperanjat lah si bapak begitu mendengar anaknya dalam bahaya.
"Temukan dia om. Kerahkan koneksi!!" Nana sudah tersedu-sedu menangis.
"Oke, kamu tenang ya Nana. Om akan hubungi teman om di sana."
"Om bisa menghubungi nomor yang akan aku kirim. Dia yang sedang mencari Lila, om."
Barulah Nana bisa menghubungi mama dan papanya. Reaksi nya sama. Mereka semua yang mendapat kabar pasti dibuat kaget bukan main dengan berita ini.
***
__ADS_1