Terjerat Cinta Kalila

Terjerat Cinta Kalila
Sindi Akan Kembali


__ADS_3

"Bro!!" sahut Fandi heboh.


Menjadi sakit saja sangat repot bagi seorang Marcel. Apalagi harus menerima tamu yang tak kunjung selesai datang silih berganti. "Kapan aku tidur nya????" teriak nya dalam hati.


Setelah seharian para orangtua berkumpul dan menyusahkan dirinya, malamnya giliran teman-teman sejati Marcel. Dem dan Carlos yang mendengar kejadian itu pulang begitu saja dari Jerman setelah menyelesaikan misi mereka.


Dem memandang Lila yang sedang berada di samping Marcel. Tersenyum kikuk terjadi di antara keduanya. Marcel yang menangkap raut wajah Dem saat bertemu Lila langsung dibuat panas. Dia belum sempat menanyakan ke siapapun, bagaimana kelanjutan hubungan Dem dan Lila. Apakah Lila menerima pernyataan Dem atau tidak, dia tahu. Hanya saja, melihat bagaimana canggungnya mereka saat ini, sudah pasti, Lila memilih dirinya. Heheh. Senyum aneh tersungging dari bibirnya.


"Idih, dia gila ya? Segitu senangnya kita datang?" celetuk Aji yang geli dengan senyum aneh Marcel.


"Sini, sini, kalian!" perintah Marcel heboh.


"Apa yang terjadi brader?" tanya Carlos memulai.


"Ini gara-gara kelompok JackSoap dia nih." tunjuk Marcel ke Fandi. "Mau aja dibayar orang gak jelas buat culik Kalila." Ah, menyebut nama Kalila, Marcel melirik sejenak ke arah wanita itu. Lega rasanya ia melihat Lila yang sudah menyipir ke sofa dan memainkan ponsel nya. Membiarkan para sahabat bertegur sapa sejenak.


"Lo makanya jangan asal inves inves deh." Aji menceramahi Fandi yang tertunduk bersalah.


"Udah, aman. Justru ada bagusnya. Begitu gue sebut nama dia, orang-orang itu langsung kicep takut. Gue akui, untuk kali ini, inves lo ada gunanya." Marcel menepuk pindah Fandi yang masih tampak sedih. "Lanjut kan buang duit lo ke tempat aneh aneh, bro!" Seloroh nya dan langsung disambut tawa oleh yang lain.


"Hmmm." Marcel ragu ingin menanyakan ini ke Dem dan Carlos yang ia ketahui ke Jerman untuk bertemu Sindi.


Dilirknya lagi Lila dan masih memainkan ponsel. Ada hal yang harus ia bicarakan pada dua sahabatnya itu. Penting. Dan tidak boleh diketahui oleh Lila.


"Fan, Ji, ajak Kalila cari makan dulu dong. Kasihan dari siang belum makan. Entar gue ditembak bapaknya. Bapaknya polisi." ledek Marcel yang langsung mendapat tatapan tak senang dari Lila.


"Dih, sok cantik lo, sok perhatian." gerutu Fandi yang seperti nya mengerti maksud Marcel mengusirnya dan Lila dari kamar.


"Loh, kita baru sampai. Kenapa gue diusir?" tanya Aji yang tak tahu apapun. Dia sih kerjanya nongki di restoran, pacaran, nongki lagi. Udah gitu aja sampai tua melanda.


"Ssst..." Fandi meletakkan telunjuk nya di bibir Aji. "Jangan protes! Dan ikut gue." perintah Fandi berbisik.


"Njir, asin." Aji melepeh-lepeh ludah nya yang tak sengaja mengenai jari Fandi.

__ADS_1


"Iya, tadi gue garuk ini nih." tunjuk Fandi ke pan***nya.


"Ayo Lila, kita cari makan di luar. Kebetulan kak Fandi juga belum makan." ajak Fandi ke Lila dengan lemah lembut.


"Hmm." Lila ragu menjawab lalu menoleh ke arah Marcel.


"Gak apa-apa, pergilah. Aku ditemani Dem sama Carlos dulu. Ada yang mau aku omongin." kata Marcel mengijinkan.


"Ayo, sayang." ajak Fandi lagi.


Lila menuruti Fandi dengan senyum di wajahnya.


"Kalian ke Jerman?" tanya Marcel memulai percakapan setelah Lila pergi bersama Fandi dan Aji.


"Hmmm," jawab Dem.


Carlos takut. Ia hanya diam seribu bahasa. Toh Dem janji, jika terjadi sesuatu, dia lah yang akan bertanggung jawab.


"Masa depan lo." Jawab Dem sekenanya saja.


Marcel menoleh ke arah Dem. Mereka saling menatap tajam. Deklarasi Dem soal mendapat kan cinta Lila waktu di rumah Fandi itu masih membekas di benak Marcel.


"Gue gak bisa membiarkan Lila sedih dan menunggu lo yang gak jelas dan gak punya pendirian. Jadi dengan berat hati gue harus ikut campur ke masalah lo." Jawab Dem bernada dingin. Ia pun masih canggung dengan Marcel karena kata-kata nya soal menyatakan cinta pada Kalila.


"Gue dan Carlos meminta Sindi kembali ke Indonesia sebentar dan mengurus perceraian lo secara negara."


"Apa?????" teriak Marcel heboh. "Cerai?"


"Hm, cerai. Carlos sudah mengurus semuanya. Kalian tinggal sidang dan akan diputuskan secepatnya." tutur Dem tak gentar dengan perubahan emosi Marcel.


"Kalian..." Marcel terbata-bata menyelesaikan kalimatnya sebelum disambar lagi oleh Dem.


"Cerai atau enggak itu jadi keputusan lo. Gue cuma gak mau Lila jadi korban karena keegoisan lo. Ini jadi penentuan di hati lo. Masih bodoh mengharapkan Sindi, atau memilih Kalila dan bahagia bersama dia? Terserah lo!"

__ADS_1


Marcel tak bisa membayangkan dirinya jika harus bercerai dari Sindi. Padahal selama ini ia mati-mati an mempertahankan pernikahan mereka agar sekiranya Sindi bisa kembali ke pelukan nya.


"Sindi akan kembali minggu depan. Gue saranin segera siapkan hati lo. Tentukan pilihan lo." tutur Dem sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan Marcel dan menyusul Fandi serta Lila.


Tinggal-lah Carlos sendiri dengan Marcel yang dirudung emosi.


"Cel, lo yang paling kenal Dem. Mana mungkin dia bersaing dengan lo kalo soal cewek. Dia sama kayak kami, yang ingin lo itu berbesar hati nerima kenyataan kalau lo sama Sindi sudah berakhir." Carlos mencoba menjelaskan pendapatnya.


"Gue lihat sendiri, Sindi bahagia dengan keluarga kecil nya. Tidak ada sedikit pun penyesalan di wajahnya setelah ninggalin lo. Lo harus tau fakta ini, walau semenyakitkan apapun." Sambung Carlos.


"Dia bahkan menanyakan kabar lo dan menanyakan ke kami, apakah Marcel sudah lebih baik dan hidup bahagia?"


"Yah, menurut gue, dia jahat. Tapi lo bisa apa dengan takdir. Elo harus terima dan jalani sisa nya yang ada." tepuk Carlos ke pundak Marcel yang masih mencerna kata-katanya.


***


Sejam kemudian setelah rombongan Fandi meninggalkan rumah sakit dan tak ada niat pamit ke Marcel. Sudah pasti pria itu sedang emosi melihat tak ada satupun sahabat yang berpihak padanya kalau soal Sindi.


"Belum tidur, kak?" tanya Lila sekembalinya ke ruangan Marcel.


Marcel tak menjawab dan hanya fokus ke langit-langit kamarnya. Tak memperdulikan Lila dan segala pertanyaan nya, Marcel meninggalkan wanita itu dalam tidur nya.


"Jika Sindi kembali, apa yang akan kamu lakukan, Kalila?" celetuk Marcel tiba-tiba membangkitkan Lila dan bergegas ke ranjang Marcel.


"Kenapa kakak menanyakan itu? Dan kenapa pula kak Sindi kembali?" jantung Lila berdegub kencang. Perasaannya tak enak untuk menjawab pertanyaan itu.


"Dia akan kembali." tutur Marcel tak mau memandang wajah Lila.


Tes. Air mata Lila seketika jatuh ke pipi nya. Lila mencoba menggigit bibir bawahnya demi menahan agar suara isak tangisnya tak keluar dan tak didengar oleh Lila.


"Sampai saat itu tiba, ku mohon, biarkan aku di samping kakak. Setelah itu aku akan pergi jika memang kak Sindi akan kembali."


Sial. Marcel meremas bajunya karena merasa menjadi seorang pengecut. Bukannya menjelaskan ke Lila, alasan sebenarnya Sindi kembali adalah untuk membicarakan perceraian. Tapi Marcel justru membiarkan pikiran Lila menerka macam-macam hal hingga membuat wanita itu merasakan sedih tak karuan.

__ADS_1


__ADS_2