Terjerat Cinta Kalila

Terjerat Cinta Kalila
Tak Ada Harapan


__ADS_3

Sudah lebih dari sebulan sejak peristiwa yang membuat Nana curiga, Lila pulang pergi ke hotel Marcel setelah laki-laki itu menghubunginya melalui telepon. Seolah sudah menjadi kewajiban, Lila tanpa basa basi dan tak memerlukan waktu banyak untuk bersiap langsung berangkat menggunakan motor Om Jo.


Yah, walaupun tidak setiap hari mereka bertemu, karena weekend Nana dan yang lain kadang berada di rumah. Jadi untuk meminimalisir kecurigaan lanjutan, Marcel pun mau tan mau harus mengerti keadaan tersebut.


Tapi sudah sebulan pula Marcel tak menyentuh Lila untuk melampiaskan nafsunya. Pria itu lebih fokus bekerja dan Lila menemaninya. Saat Marcel bekerja, Lila memilih untuk nonton atau memasak di dapur. Mereka juga tidak banyak saling berbicara tentang perasaan masing-masing. Hanya berbicara sekenanya, dan dibalas sekenanya pula. Tidak ada pertanyaan seperti, 'Kamu suka warna apa?' atau 'Kamu suka makanan yang seperti apa?'


Hubungan mereka memang didasari pada keadaan yang gak normal sebagai pasangan. Hanya ketika Marcel sedang menginginkannya, barulah mereka menjadi pasangan sesaat.


Sepertinya hari ini Marcel akan pergi menemui klien, dan Lila diminta untuk mempersiapkan segala sesuatu layaknya seorang istri yang menyediakan perlengkapan kerja suami. Setelah selesai meletakkan laptop, dan berkas-berkas yang akan dibawa Marcel, Lila memilih baju yang cocok untuk dipakai Marcel. Kemeja berwarna cerah tapi tak menyakitkan mata, mengesankan aura segar nan terpercaya Marcel selaku bos dari sebuah hotel ternama.


Tentu saja untuk menambah kesan lainnya, sebelum pergi ke tempat pertemuan, Lila menyarankan pria itu untuk mandi dan memakai wewangian yang cukup. Untungnya Marcel menuruti dan mandi dengan damai di kamar mandi.


Namun Marcel terhenyak ketika ia melihat sebotol obat yang ia baca dan pahami ternyata adalah sebuah obat kontrasepsi penunda kehamilan berada di kabin kamar mandinya. Menggenggam keras botol tersebut dan melangkah kasar ke tempat Lila bersantai di atas ranjang sambil menonton acara televisi.


"Apa ini?" tanya Marcel memelototi Lila dan mendekatkan obat kontrasepsi ke wajah gadis itu.


"Obat kontrasepsi," jawabnya santai dan mengacuhkan Marcel yang menatapnya jengkel. "Karena di rumah Nana gak ada privasi, jadi aku simpan di sini," tambahnya.


Tak puas dengan jawaban Lila yang cuek, Marcel berjalan cepat ke arah jendela, membukanya dan melempar bebas obat itu. Lila yang melihat sikap Marcel, begitu terkejut dan bangkit dari ranjang. Lalu menahan lengan Marcel yang sudah terlanjur melempar botol kecil itu.


"Kamu kenapa? Kok dibuang?" tanya Lila panik dan bingung dengan sikap Marcel.


"Jangan mengkonsumsi obat itu! Ini perintah!" tegas Marcel beranjak pergi dari hadapan Lila dan melanjutkan kegiatan berpakaiannya. Mengingat ia hanya mengenakan handuk di pinggang begitu keluar dari kamar mandi karena ingin cepat-cepat melabrak Lila.


"Loh kenapa? Bukannya bagus? Kalau aku hamil gimana?" Lila masih bingung dengan penolakan Marcel. Sikap Marcel yang menghindari dirinya lantas membuat Lila kesal.


"Apa aku pernah melarangmu untuk hamil?" ia menoleh ke arah Lila sejenak karena perempuan itu kini juga sama kesalnya. "Tidak, kan? Di kontrak juga gak ada tertulis, jika kamu hamil, bla bla bla."


Perlahan Lila mendengus mengejek ke Marcel, "Tidak ingin pernikahan tapi kamu ingin anak dariku? Egois!"


"Ya kalau kamu hamil, ya hamil! Mengapa aku yang egois?" teriak Marcel tak sanggup membendung emosinya di depan Lila.

__ADS_1


"Walau tanpa pernikahan?" tanya Lila sendu tak melawan balik amarah Marcel.


Emosi Marcel mereda karena pertanyaan Lila. Hamil, walau tanpa adanya pernikahan? Bukankah itu berat untuk keduanya?


"Prinsipku masih tetap sama seperti kemarin dan kemarinnya lagi. Aku bisa memberimu apapun, kecuali pernikahan."


"Berengsek banget jadi orang," air mata Lila mulai mengalir palan awalnya. "Lakukan sana sama istrimu!"


Dan Lila melenggang keluar bersama dengan tangisannya. Menuju parkiran dan menyambangi motornya. Saat itu juga dia ingin pergi dari wilayah laki-laki berengsek itu.


Marcel yang masih terpaku tak kuasa untuk mengejar Lila dan meluruskan semua pertengkaran di antara mereka. Ia justru berfikir, untuk apa meluruskan jika yang ia katakan adalah kebenaran. Walau itu menyakiti hati Lila, walau itu sudah melukai harga diri Lila, tidak ada yang bisa dia lakukan termasuk menikahi perempuan itu.


Hati Lila kian sesak, dia juga tak mengerti mengapa dia seperti ini sekarang. Pikirannya juga kalut. Karenanya cara mengemudikan motor di jalanan pun ia ugal-ugalan.


Lalu ada sebuah mobil mewah yang berjalan cukup kencang di sebelahnya. Kehadirannya mengagetkan Lila yang pikirannya sedang entah berada dimana. Dan Lila membanting kemudi motornya ke kanan secara kasar. Membuat tanda baru di badan mobil mengkilap berwarna merah itu. Setelah itu dirinya terpental ke kiri karena bertubrukan dengan sisi kiri mobil. Mengakibatkan dirinya terseruduk jatuh ke aspal jalanan. Beruntungnya, bukan wajah yang lebih dulu mendarat, tapi lutut sebelah kiri. Itupun hanya lecet sedikit.


Hanya saja peristiwa tadi membuat dirinya terdiam karena shock. Bukan karena jatuh sih, tapi karena kebodohannya sendiri yang memikirkan Marcel hingga mencelakai dirinya.


Mobil mewah yang tadi menepi pelan dan mendadak berhenti. Lalu sang supir memundurkan kendaraannya mendekat ke arah Lila terjatuh.


Si pemilik mobil turun dari mobil mewahnya. Seorang pemuda tampan, tinggi, putih, rambut hitam, matanya yang sedikit menyipit, bibirnya....


"Kok?" sadar Lila setelah mengamati laki-laki itu.


"Kamu gak apa-apa? Terluka?" tanya nya sedikit cemas.


"Luka sih enggak, cuma kakiku gak bisa digerakin, Kak," jawab Lila tidak mengada-ada.


"Waduh, mau ku bawa ke rumah sakit?" tawarnya lagi.


"Tidak usah, kak. Cuma sedikit terkilir kok. Diurut juga baikan."

__ADS_1


"Gak, itu merah. Aku telepon keluarga kamu ya."


Telepon keluarga? Nana? Om dan tante? Bisa gawat kan. Apalagi motornya saat ini sudah menjadi upik abu sejak dipakai Lila dan menubruk sana sini.


"Mana nomornya?"


"Gak usah, kak. Aku aja yang telepon."


Lila berusaha keras menolak penawaran laki-laki asing kepadanya. Terlebih mobil mewahnya sudah ada cap cinta dari Lila. Sama seperti Lea atau Marcel, ujung-ujungnya laki-laki ini hanya akan memanfaatkan dirinya. Gak, Lila gak boleh terjebak lagi. Cukup dirinya menderita karena Marcel.


"Yah, terburai!" ujar Lila saat ia mengetahui ponselnya yang retak tak berbentuk. Mungkin tertimpa badan mobil si cowok ganteng saat berada di dalam tas.


"Yaudah sini aku telponin." Akhirnya Lila menurut, ia memberikan nomor Nana pada laki-laki itu.


Awalnya laki-laki itu mengikuti arahan nomor dari Lila yang hendak dihubungi. Namun saat ia memencet tombol hijau pertanda menghubungkan, nama Nana muncul di layar. Kaget dong laki-laki itu. Terlihat dari raut wajah nya dan mata yang terbelalak saat membaca nama Nana yang sudah ia simpan nomornya di ponsel.


"Nana?" gumamnya.


Anjir, kok dia bisa kenal Nana? Gawat. Pikir Lila panik.


"Na, ini gue," sapa laki-laki itu setelah telepon ya tersambung.


"Oh, Dem, ada apa?" sahut Nana di seberang telepon.


"Ini ada keluarga lo... Maaf nama kamu siapa?" bisiknya pada Lila.


"Lila."


"Keluarga lo, Lila, gak sengaja kecelakaan di dekat jalan M, motor sama handphone nya rusak. Doi gak mau gue bawa ke rumah sakit."


"...." entah apa yang dibicarakan Nana. Lila tak lagi mendengar suara Nana. Padahal ia yakin, gadis penyihir itu pasti sedang marah-marah saat ini. Tak tahu lah, rasanya pandangan Lila mengabur. Hitam. Laki-laki tampan yang ada di depannya sekarang pun tak lagi terlihat wajahnya. Hanya suaranya yang masih berbicara di telepon.

__ADS_1


"Na, sepupu lo pingsan. Gue tutup telepon."


Laki-laki itu bergegas membopong tubuh Lila ke mobilnya dan segera membawa ke rumah sakit. Lalu ia meminta bantuan orang dikenalnya untuk membawa motor yang masih tertengger di pinggir jalan.


__ADS_2