Terjerat Cinta Kalila

Terjerat Cinta Kalila
Titik Terang Keberadaan Kalila


__ADS_3

Sudah hampir dua jam Marcel mencari kemanapun, tapi tak kunjung menemukan Lila. Ia tepikan mobilnya di salah satu SPBU sambil mendinginkan kepalanya.


"Kamu di mana Kalila?" ucap Marcel lirih sembari menyandarkan kepalanya di kemudi mobil.


"Jangan bikin aku khawatir dan takut! Aku janji akan baik padamu setelah ini. Tolong, kembalilah."


Yah, penyesalan selalu datang terlambat. Makanya, Cel, kalau punya hati satu jangan dibohongin. Suka tinggal bilang suka. Gak suka, segera hempaskan. Dasar.


Tiba-tiba bayangan pacar Aldo menghampiri isi kepala Marcel yang dipenuhi akan keberadaan Lila. Wajah perempuan itu terkadang tampak sinis pada Aldo. Sepertinya hubungan mereka tak se harmonis kelihatannya.


"Coba saja, mungkin dia tau dimana pacarnya berada." ujar Marcel pada diri sendiri.


Akhirnya ia memutuskan untuk menemui Sherly. Wanita itu sedang asyik berjoget ria bersama temannya. Tak peduli bahwa tunangannya sudah hilang tak berimba.


"Maaf, mbak Sherly, bisa bicara sebentar?" buru Marcel langsung ke hadapan Sherly tanpa membuang waktu. Sherly sempat kaget melihat Marcel yang masih ada di tempat itu sementara pacarnya yang katanya sedang berbincang dengan Marcel malah belum kembali.


Untungnya gadis itu mau memberikan waktu nya sejenak dari kegiatan senang-senangnya. Mereka menyingkir ke ruang istirahat yang ada di ballroim hotel.


"Ya?"


"Saya boleh bertanya, dimana pak Aldo?" telisik Marcel hati-hati takut orang di sampingnya tersinggung.


"Loh, bukannya Aldo ketemuan sama pak Marcel? Tadi dia ijin mau ketemu sama pak Marcel." Jawab Sherly bingung. Itu alasan yang diberikan Aldo ke sekretaris nya. Kalau Sherly tak bertanya, mungkin juga ia tak tahu dimana Aldo sekarang.


"Mbak gak tau dimana dia?" Marcel mulai panik.


Gadis itu terlihat berpikir sejenak. "Apa yang telah terjadi, pak?" tanya nya ragu.


"Maaf jika menyinggung perasaan mbak Sherly di hari bahagia ini, tapi, pacar saya menghilang, tepat sejak pak Aldo menghilang pula." jelas Marcel penuh kehati-hatian.


"Pacar pak Marcel? Siapa?" sentak Sherly panik. Gadis itu gugup jika mendengar jawaban Marcel yang sesuai dengan pikirannya. Ya, dia tau ada Lila di kota itu. Kota tempat Aldo melamarnya. Tapi ia pura-pura tak tahu karena percaya pada Aldo. Apalagi tujuan mereka ke Tanjungpinang adalah demi melamarnya.


"Kalila. Pacar saya Kalila, mbak!" tegas Marcel, yakin dengan ucapannya.


Kaki Sherly terasa lemas. Tanpa sadar ia terseruduk ke lantai. Menangis dan gemetaran. Menimbulkan kepanikan berlanjut untuk Marcel. Ia tak tahu harus berbuat apa ke Sherly.


"Dia masih mengganggu Lila?" isaknya.

__ADS_1


"Maaf jika saya egois, tapi jika mbak Sherly tau dimana pak Aldo, tolong kabarin saya."


Sherly mengangguk. Tapi seketika ia berubah pikiran dalam tangisnya.


"Saya bisa melacak dimana Aldo, pak Marcel." ucap Sherly menyeka air matanya.


"Gimana caranya mbak?" tanya Marcel sumringah. Secerca harapan menghiasi wajah Marcel. Jika sherly benar bisa membantunya, maka ia bisa segera menemukan Lila.


"GPS. Sebelumnya saya akan menelepon Aldo dulu."


Marcel mempersilahkan Sherly menghubungi Aldo dan berpura-pura menanyakan keberadaannya. Gadis itu sekalian mengetes kejujuran Aldo.


"Kamu dimana?" tanya Sherly begitu Aldo menjawab panggilan nya.


"Aku masih di restoran bareng pak Marcel, yang. Bentar lagi aku susul ya."


Ternyata jawabannya masih sama. Mengecewakan. Ia terus beralasan sedang berbincang dengan Marcel, padahal orang yang dimaksud ada di depan Sherly.


"Baiklah, love you." ucap Sherly. Lalu ia mengutak atik hp nya dan membuka GPS untuk mendapatkan lokasi Aldo.


GPS adalah senjata utama Sherly dalam memantau kegiatan liar Aldo di luar kendalinya. Walau ia ingin percaya, nyatanya pria itu selalu membuatnya kecewa.  Namun Aldo selalu mempunyai beribu alasan dengan bibir manisnya yang bisa memenjarakan wanita dalam dekapannya. Hingga membuat Sherly percaya pada apapun yang dikatakan pria gila itu.


Marcel meraih hp Sherly dan memeriksa maps yang menunjukkan keberadaan Aldo. Terperanjat kaget ia ketika tahu dimana lokasi itu. "Tiger hotel?"


Senyum puas menghiasi Marcel. Namanya juga Aldo orang dari luar kota, mana ia tahu jika M2M dan Tiger sudah seperti saudara.


"Terima kasih mbak Sherly, saya akan mengabari keberadaan pak Aldo setelah saya menemukan pacar saya." pamit Marcel sekaligus berancang-ancang untuk menuju ke hotel Tiger dan menjemput Lila.


"Semoga belum terlambat." benaknya.


***


Sementara di rumah om Jo, semua orang menunggu dengan harap harap cemas. Om Rudi bisa beristirahat sejenak untuk duduk dan minum secangkir air karena sudah mengerahkan bantuan ke Polda setempat.


Kriing.. Hp om Rudi berbunyi. Dilihatnya nomor Marcel yang belum sempat ia simpan karena terburu-buru. Entah sejak kapan mereka bertukar nomor, tapi Marcel selalu mengabari perkembangan pencariannya kepada papa Lila.


"Om, saya sudah dapat lokasi Aldo, mereka ada di hotel Tiger. Saya sedang menuju ke sana."

__ADS_1


Tanpa menjawab om Rudi bangkit dan hendak mengambil pistol yang dari tadi ia letakkan di meja tamu rumah om Jo.


"Papa mau kemana?" tanya tante Jasmin yang masih sesegukan. Air matanya telah mengering.


"Marcel berhasil menemukan Lila. Papa harus ke sana."


"Dimana dia?" tanya om Jo menenangkan adik perempuan nya.


"Di hotel Tiger."


Tanpa banyak bersua om Rudi naik ke mobil dinas bawahannya dan memerintah supir untuk menuju Tiger hotel.


"Nana, antar tante. Tante takut om khilaf dan membunuh Aldo. Ayo, Na!" pinta tante Jasmin yang tak bisa ditolak oleh Nana.


***


Marcel dengan langkah terburu sudah sampai di lobby hotel Tiger milik Dem. Ia tak tahu Aldo akan mereservasi atas nama siapa, jadi sampai di resepsionis dia bingung dan berdiam diri memikirkan nama apa yang Aldo pakai untuk memesan kamar.


"Apa nama Aldo ada memesan kamar di sini?" tanya Marcel memulai.


Resepsionis yang sudah mengenal Marcel itu mencari namun menggeleng kemudian setelah ia lihat tidak ada nama Aldo dalam daftar tamu hari itu.


"Coba lihat siapa aja yang memesan kamar dua jam terakhir!" perintah Marcel tak kehilangan akal. Lila sudah dipelupuk mata. Jadi ia tak boleh menyerah. Kalau bisa ia buka satu-satu pintu hotel dan mencari keberadaan Lila.


"Hanya tiga orang yang memesan kamar di tiga jam terakhir pak. Atas nama Wibisono Pakusudewo, pukul 19.16. Ediman Sijabat, pukul 19.21. Dan Kalila Vernanda, pukul 19.22."


What? Pekik Marcel kaget mendengar nama Kalila yang mereka pakai untuk memesan kamar. Ulung. Untungnya mereka penculik yang ulung.


"Kalila. Nomor berapa?" tanya Marcel tak sabar sembari mengetuk meja resepsionis.


"Nomor 508 pak."


"Oke, terima kasih."


"Maaf pak, ini kartu ganda untuk akses masuk." Resepsionis tadi memberikan sebuah kartu yang sangat sakti di situasi ini pada Marcel.


"Terima kasih banyak. Nanti saya suruh Demian kasih bonus buat kamu!" puji Marcel seraya ia melangkah ke lift dan langsung menekan tombol 5.

__ADS_1


"Bersabar, Kalila. Ku mohon. Tunggu aku!" gumamnya seraya berdoa agar tak terjadi apa-apa dengan Kalila.


__ADS_2