Terjerat Cinta Kalila

Terjerat Cinta Kalila
Jebakan Lanjutan


__ADS_3

Salah seorang satpam menemukan perempuan yang diduga Lila setelah ia mendengar penjelasan sang resepsionis mengenai ciri-ciri dan penampilan Lila. Ternyata perempuan yang dimaksud sedang duduk sambil menikmati secangkir kopi di cafe seberang hotel milik Marcel.


Tanpa membuang waktu, satpam itu menelepon resepsionis lainnya yang sedang berjaga di meja kerjanya sambil menunggu panggilan dari mereka yang berbaur mencari keberadaan Lila.


Setelah resepsionis itu mengabarkan ke Marcel, laki-laki itu langsung melejit ke cafe seberang. Dengan langkah yang terburu-buru, ia sampai ke dalam cafe. Mencari keberadaan gadis itu lalu menghampirinya.


Ah, kali ini, perempuan itu mengenakan sesuatu yang jauh lebih manis dari sebelumnya. Dress hijau tosca sepanjang lutut dan berlengan pendek, dengan kancing depan yang tertata rapi dari atas ke bawah. Pita di pinggangnya, lantas menaikkan hasrat Marcel untuk menariknya hingga lepas.


Sejenak ia melamun dan terpana melihat wujud perempuan yang bernama Kalila itu. Tapi, ia tersadar akan tujuannya mengejar dan menghampiri perempuan itu.


Lila terkejut, saat Marcel melemparkan kartu debit itu secara kasar di hadapannya. Laki-laki itu sudah sampai saja di depannya. Padahal belum lama ia masih bersama wanita lain.


"Setelah mengembalikan ini, kamu masih berada di sekitaran wilayahku?" tanya Marcel ngos-ngosan lalu duduk di depan Lila yang bengong. "Kamu benar-benar sedang mencari perhatianku ya?"


Kata-kata terakhir Marcel membuat Lila tersenyum geli. "Mencari perhatian?" tanya nya balik dengan nada menyindir.


"Lalu apa? Datang ke tempatku dan bertingkah merepotkan begini?"


"Apa yang sudah kulakukan? Lagipula  aku tidak memintamu menemuiku. Kalau kamu sibuk, lanjutkan aja sana," ujar Lila.


"Lanjutkan? Apa yang harus kulanjutkan?" tanya Marcel menggoda Lila yang tak berani menatap matanya saat berbicara.


"Yah, apa saja. Yang kamu lakukan tadi di kamarmu atau apapun itu... Lanjutkan.." jelasnya tergagap.


Hal itu lalu menjadi bahan lelucon Marcel untuk terus menggoda Lila, "Kamu merindukan Mister ku?"


Obrolan macam apa itu? Di tempat umum dan banyak orang di sekitaran, Marcel malah membicarakan hal tak senonoh. "Mister?"


"Mister! Hm?" mata Marcel merujuk pada bagian bawah dirinya, tepatnya sebuah benda yang terletak di antara kedua pahanya.

__ADS_1


Lila yang menyadari siapa itu Mister, kembali menampakkan pipi meronanya.


"Langsung aja lah, apa maksudnya ini?" tanya Marcel sambil menunjuk kartu debitnya.


"Aku balikin," jawab Lila yang masih malu perkara Mister yang ia bayangkan tadi.


Jawaban mencengangkan Lila tak membuat Marcel kehabisan akal. Marcel justru semakin menggebu untuk membuat Lila membutuhkan dirinya. Padahal sejak kejadian itu, dia sendiri yang mengusir Lila dan menganggap lunas hutang piutang.


"Kalau kamu maunya begitu terserah. Kamu balikin kartu ini, kata-kataku soal hutang yang lunas otomatis batal. Kamu harus bayar penuh. Tapi aku tak menerima cicilan. Aku butuh uang itu minggu depan. Oh iya, bunganya juga 10 persen," jelas Marcel tersenyum sinis.


"Minggu depan?" tanya Lila setengah berteriak. "Gimana caranya...?"


Lila belum selesai melengkapi kalimatnya. Tapi Marcel sudah memotong dalih perempuan itu. "Hah,, udah ya. Aku sibuk. Mau melanjutkan apa yang aku kerjakan. Kalau minggu depan uangnya sudah ada, kamu bisa kembali ke kamarku kok."


"Oiya, lewati aja pintu masuk yang ada di parkiran itu lalu ke lantai 19. Kode pintunya, 788778. Gampang kan? Bye.."


Lalu ia benar-benar pergi setelahnya.


Bagaimana bisa, dia yang datang untuk liburan mengantongi uang 30 juta. Kalau pun ada, masa langsung berikan ke orang yang lebih kaya dari dirinya.


"Padahal jelas-jelas dia kaya, dia masih butuh 30 juta itu? Sialan, outfit yang dia pakai aja lebih dari 50 juta. Bangsat, sialan memang," umpatnya terus menerus bahkan saat berada di atas motor.


Malamnya, Lila yang kalut datang menemui Nana dan mencoba bernegosiasi bersama sepupunya. Tapi, dia tak mampu berterus terang. Apalagi, masalah ini berhubungan sama Marcel. Bisa jadi daging cincang Lila kalau Nana tau dirinya berhubungan dengan Marcel.


"Na," sapa Lila dengan pergerakan yang aneh.


Nana yang sedang disibukkan dengan pekerjaannya pun mempersilahkan masuk. Tak fokus pada Lila dan hanya memperhatikan layar laptopnya.


"Apaan?" tanya Nana yang sedikit risih ke Lila, padahal sudah 5 menit Lila di kamarnya, tapi gadis itu cuma tersenyum sipu penuh maksud tersembunyi.

__ADS_1


"Kerjaan kamu lancar?" tanya Lila basa basi.


"Lancar."


"Jabatan kamu apa sih di perusahaan itu?"


"Super... Visor..." jawab Nana mulai curiga.


"Wah, pasti gede dong gaji kamu, ya!" takjub Lila yang bodo amat sama tatapan tajam Nana. Sebenarnya kalau boleh jujur, jantung itu sudah hampir keluar dari tempatnya.


"Kamu minta berapa sih? Kesel loh aku lama-lama," ungkap Nana.


"Hehehe. Berhubung gaji kamu gede dan kamu nawarin aku, pinjam 30 juta dong, Na," keluar juga kalimat menyesakkan itu dari mulutnya.


Nana memicingkan mata. Sedang menginvetigasi Lila melalui tatapannya. "Buat apa?"


"Hm, aku... Aku.. Tadi.." jawabnya gagap karena kegugupan yang melanda bak air pasang. Mengeluarkan keringat sebesar butiran jagung dari setiap pori-pori. "Aku liat tas Chenil tadi di mall, unik dan lucu tapi harganya 30 juta."


Mampuslah, alasan apa saja asal tidak menyebut nama Marcel di hadapan musuh besarnya.


"Tas? 30 juta?" tanya Nana kembali meyakinkan Lila akan pilihannya karena telah berhadapan dengan orang yang salah.


"Hooh," jawab Lila penuh keterpaksaan. Rasanya ingin menitikkan air mata deh.


"Ada sih, tapi nanti aku nagihnya ke Tante Jasmin, ya."


Itu ancaman. Sadar Lila. Sepupu licik itu sedang mengancamnya. Berani menyebutkan nama sang mama, berarti itu merupakan ancaman halus.


"Gak jadi deh, gak jadi." Lila ngambek dan memilih keluar kamar Nana.

__ADS_1


Saat itu juga ia menyadari tak ada pilihan lain selain Marcel. Hanya laki-laki itu yang bisa menyelamatkan dirinya dari Lea dan kerugian yang sudah ia perbuat. Walaupun Lila sadar, memilih Marcel berarti harus siap menjadi alat pemuas nafsunya.


"Mau mati aja rasanya. Tapi takut dosa.." katanya sambil meratapi nasib di sudut ranjangnya.


__ADS_2