
🏹🏹🏹🏹🏹
"Jadi, kau akan pergi lagi?" tanya Bagas sambil menciumi bahu terbuka Yukia.
"Tentu saja sayang. Aku kan mendadak pulang setelah melihat kelakuanmu," ucap Yukia tenang sambil memoles wajahnya dengan krim dari skin care mahalnya.
"Apa kau tidak ingin menunggu Theo pulang dulu. T-Rex kecil kita sangat merindukanmu Yukia." Bagas menarik bahu Yukia agar wajah mereka berhadapan langsung. Bukan menatap melalui cermin.
"Aku juga merindukannya. Tapi kau tau kan sayang. Road trip dua benua akan di mulai pekan depan. Banyak yang harus aku persiapkan," kilah Yukia. Selalu seperti ini ketika ia pulang ke rumah.
"Jika kau merindukannya. Kau pasti akan menemuinya." Bagas mulai hilang kesabaran. Terdengar dari nada bicaranya yang sedikit tinggi.
"Apa kau tengah meragukan kasih sayangku pada Theo? Haruskan kita memperdebatkan ini setiap aku pulang?" cecar Yukia dengan ekspresi tak bersalahnya.
"Aku ingin jadi seorang mommy yang dapat dibanggakan olehnya ketika ia besar nanti. Karena, ia telah memiliki mommy yang namanya besar dan di sanjung di seluruh dunia." Yukia berbicara dengan berapi-api. Matanya berkilat menunjukkan ambisinya yang kuat tak terbantah.
"Tapi Theo membutuhkan kehadiranmu. Bukan pamormu Yukia. Kau tau, jika ia sering menangis memanggil namamu sambil memeluk foto ketika kau menggendongnya terakhir kali." Bagas berkata dengan tegas kali ini. Entah kenapa ia tak lagi dapat lunak dengan sikap keras hati Yukia.
"Kenapa kau seolah memojokkanku, Bagas? Aku melakukan ini semua demi Theo anak kita. Kau pasti tahu kan jika para orang tua dari kawan-kawannya adalah wanita-wanita yang hebat. Aku tidak ingin jika dirinya merasa iri dan rendah diri, jika aku sebagai mommy-nya hanya sebagai pengurus rumah tangga."Yukia terus berdalih meninggikan argumennya.
"Apa kau pernah menanyakan keinginannya? Sehingga kau memiliki pemikiran seperti itu?" cecar Bagas kembali mengajukan pertanyaan yang menohok sisi relung hati terdalam Yukia.
"Kenapa setiap pertanyaan mu seolah menyalahkan posisiku?Kenapa kau terus memojokkan ku? Kau seperti tengah mencari-cari kesalahanku? Apa yang sebenarnya telah kau sembunyikan dariku Bagas?" protes Yukia geram. Ia paling tidak suka di salahkan. Ia tidak suka jika keinginannya di hadang.
"Aku sama sekali tidak bermaksud menyalahkan mu apalagi membuat dirimu terpojok. Sebagai seorang suami aku hanya mencoba menyadarkanmu. Aku ingin engkau berpikir mana yang lebih penting dan lebih prioritas dalam hidup. Kita tidak tahu sampai kapan berada di sisi Theo. Kau tahu jika masa kanak-kanak itu tidak akan pernah kembali. Aku tidak ingin T-Rex kecil kita memendam kebencian kepada ibunya sendiri." Bagas mencoba menurunkan nada bicaranya. Ia berusaha menekan egonya agar tidak terjadi pertengkaran dari perdebatan ini.
"Theo tidak akan membenciku. Itu hanya ketakutan mu yang terlalu berlebihan." Yukia, tidak ingin memikirkan apa kalimat yang di ucapkan oleh Bagas. Ia justru semakin membantah dan berusaha mematahkan argumen suaminya itu.
"Yukia! Bisakah sekali saja kau mendengarkan kata-kataku? Aku ini suamimu. Bukan hanya Theo yang membutuhkanmu. Tapi aku juga," ucap Bagas melunak. Ia meraih jemari Yukia kemudian mendekatkannya kedepan bibir.
CUP!
"Hentikan Bagas! Aku bukan anak remaja, stop merayuku! Sebagai suami seharusnya kau membahagiakanku dengan mendukung setiap mimpiku. Lagipula kku tidak melakukan hal yang membuat namamu tercemar bukan?" dalih Yukia.
__ADS_1
"Tentu saja. Itu karena kau tidak memperkenalkan ku di duniamu. Atau, jangan-jangan kau tidak jujur jika telah menikah dan memiliki seorang anak dariku?" selidik Bagas. Entah kenapa ia seakan menemukan celah untuk mulai mencurigai Yukia.
"Tunggu dulu!" Yukia sontak berdiri dan menatap Bagas dengan tajam.
"Jangan bilang jika ini adalah peralihan. Kau sengaja menyudutkan ku. Agar perbuatan tidak terpujimu itu dapat di benarkan!" pekik Yukia seraya menuding kan jari telunjuknya ke hadapan Bagas.
"Kenapa kau malah berteriak padaku? Dengar, Yukia. Aku adalah laki-laki normal. Wajar saja jika suatu saat imanku runtuh dan lemah. Aku hanya manusia biasa. Aku tidak dapat menjanjikan kesetiaan seumur hidup jika kehadiranku saja bahkan tidaklah lebih penting dari segala ambisi dan mimpimu. Ada kalanya diriku berfikir jika kau mengalami hal yang sama di luar sana. Apakah kau akan bertahan selamanya atau kau justru akan mengikuti naluri mu. Bisa saja, apa yang dikatakan oleh Papa selama ini adalah benar." Bagas telah memberi serangan kata pada Yukia hingga membuat wanita itu bungkam tak mampu mengucap satu patah kata pun.
Hatinya bak tertembak selongsong peluru angin. Sakit tapi tak berdarah. Meskipun apa yang di ucapkan Bagas adalah benar. Ia tetap tidak terima jika pria yang ia tau sangat mencintainya itu mulai mencurigainya.
𝘚𝘪𝘢𝘭!
𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘉𝘢𝘨𝘢𝘴 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘬𝘶?
𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯?
𝘔𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘮𝘱𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘤𝘪𝘶𝘮𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵𝘬𝘶 𝘴𝘺𝘰𝘬.
𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢.
𝘒𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘭𝘢𝘬𝘶 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘪 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢 𝘮𝘰𝘥𝘦𝘭𝘭𝘪𝘯𝘨.
𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢𝘱𝘶𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘤𝘢𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘬𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨-𝘴𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨.
𝘈𝘬𝘶 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘥𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢.
𝘔𝘪𝘮𝘱𝘪 𝘬𝘶, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘣𝘪𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪 𝘥𝘪 𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘴𝘢.
𝘚𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘪𝘯𝘢𝘳𝘬𝘶 𝘳𝘦𝘥𝘶𝘱, 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘴𝘵𝘳𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘶𝘴𝘢𝘩𝘢 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘺𝘢 𝘳𝘢𝘺𝘢. 𝘚𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘫𝘢𝘢𝘯.
Yukia tertawa girang dalam hatinya. Lantaran memikirkan segala angannya yang indah.
"Berikan aku bukti jika apa yang kau pikirkan tentangku di luar sana. Karena aku akan selamanya percaya bahwa cintamu hanya untukku. Kau tidak akan mengkhianati ku." Yukia berkata sambil memandangi wajah Bagas.
__ADS_1
"Aku tidak ingin menjanjikan sesuatu yang tidak dapat ku sanggupi." Bagas menoleh, tak ingin menatap Yukia.
"Terserah apa katamu. Aku tetap akan kembali malam ini. Aku berangkat. I Love you, hunny."
CUP!
Yukia mengecup sekilas bibir Bagas. Namun tak seperti biasanya pria itu mengiringi kepergiannya tanpa senyum. Yukia tak peduli karena jika ia tak kembali maka ia akan mendapat sanksi karena telah mangkir dari jadwal yang telah tertulis dalam kontrak kerjanya. Tuntutannya tidaklah main-main dan tentunya Bagas juga tidak akan mau menghabiskan setengah hartanya untuk mengganti kerugian.
________
"Jadi tadi mommy pulang? Iya kan Dad? Katakan? Kenapa tidak mau menunggu T-Rex? Apa mommy benaran sudah tidak sayang lagi!" cecar Theo, bocah itu menjerit lalu berakhir dengan menangis terisak. Hati Bagas sangat sesak melihatnya. Ia saja sesak kala mendulang rindu apalagi Theo yang masih sangatlah kecil.
"Sayang, T-Rex Daddy yang perkasa dan kuat. Sudah ya, cukup menangis nya. Karena, anak laki-laki itu tidak boleh menangis terlalu lama. Atau air matanya akan habis." Bagas terus berusaha membujuk sang putra.
"Kenapa Dad? Kenapa tidak boleh lama-lama? Aku kan masih mau menangis, aku masih sedih," sungut Theo yang mulai menyusut air mata juga air hidungnya dengan ujung pakaian daddy-nya.
" Karena Theo anak yang kuat. Super hero untuk Daddy, Mommy dan juga Kakek," ucap Bagas mencoba membesarkan hati putra tampannya.
"T-Rex ingin menjadi super hero aunty cantik saja! T-Rex mau ketemu aunty cantik, huwaaaa ...!" Theo kembali menangis kencang. Membuat Bagas mau tak mau mengabulkan keinginannya. Karena saat ini Theo memang membutuhkan sosok hangat dan keibuan. Dimana sosok itu dapat menjadi tempat segala curahan hati serta pelipur lara baginya.
𝘒𝘢𝘶 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶𝘢𝘯 𝘠𝘶𝘬𝘪𝘢. 𝘚𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘰𝘳𝘦𝘴 𝘭𝘶𝘬𝘢 𝘥𝘪 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘱𝘶𝘵𝘳𝘢 𝘬𝘪𝘵𝘢.
______
"Aunty, aku mau menginap di sini. Boleh?" tanya Theo dengan binar wajah menyedihkan yang mana akan membuat siapapun trenyuh melihatnya.
"Tentu saja boleh. Aunty justru senang. Kita bisa nonton Jurassic Park sambil makan popcorn!" pekik Alexa girang. Ia bermaksud mengubah suasana hati bocah kecil di atas pangkuannya ini, yang sejak tadi merangkul lehernya erat.
"Daddy juga menginap boleh?"
Alexa langsung menoleh ke arah Bagas.
Bagas: ??????
__ADS_1
Langsung menggaruk kepala yang tak gatal.
Bersambung>>>