
🏹🏹🏹🏹🏹
"Aku sudah memerintahkannya agar pulang terlebih dulu, untuk merapikan kamar dan membuat makan malam untukmu," jelas Bagas yang mana justru membuat mulut Alexa melongo sesaat.
"Atas dasar apa anda memerintahkan dirinya. Mey-Mey kan sahabat saya. Bukan karyawan anda!" protes Alexa tak habis pikir. Entah kenapa sahabatnya itu juga menurut saja perintah dari Bagas. Padahal, Mey-Mey kan sebenarnya kesal dengan bos-nya itu.
"Tentu saja menurut." Bagas menampilkan senyum miringnya membuat Alexa lantas mengerutkan keningnya. Setelah itu, mereka berdua pun terdiam karena larut dalam genangan pikiran masing-masing.
Sementara itu di apartemen.
"Tsk. Tenyata, bos-nya Alexa baik juga dengan menawarkan pekerjaan baru padaku. Tak apalah meskipun hanya seorang OB. Penting gajinya besar melebihi dari upah ku ketika bekerja di restoran kala itu," gumam Mey-Mey senang. Setidaknya ia tak hanya menumpang hidup dengan Alexa. Sebab dirinya telah mendapat pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan mengirim uang untuk keluarga di desanya.
"Sepertinya, tuan Bagas ada rasa sama Alexa. Buktinya, dia begitu perhatian dengan menugaskan ku untuk mengurus segala keperluan Alexa ketika di rumah. Padahal tanpa ia suruh pun aku pasti akan melakukannya. Semoga saja, semua hal buruk yang terjadi memberi akhir yang indah padamu Lex," gumam Mey-Mey lagi dengan harapannya yang tulus.
Tangannya begitu cekatan mengiris beberapa bahan makanan. Sepulang dari rumah sakit ternyata Bagas memberinya uang untuk berbelanja keperluan di apartemen. Terutama bahan makanan dan beberapa jenis vitamin juga buah.
Dalam waktu satu jam. Selesailah Mey-Mey menghidangkan makan malam untuk sahabat terbaiknya. Buah-buahan segar juga telah tersedia dia atas meja makan. Bertepatan dengan bunyi bel yang menandakan bahwa ada orang di depan pintu.
Teettttt!
"Mey-Mey kemana sih! Apa benar dia pulang ke apartemen?" gusar Alexa. Sebab ia tak mau jika hanya berdua didalam apartemennya.
"Kenapa tidak kau buka saja? Jangan bilang kau tak tau sandi angka dari apartemen mu sendiri?" telisik Bagas menatap Alexa aneh.
"Aku lupa," jawab Alexa enteng. Membuat Bagas mengurut keningnya kemudian menghela napas dalam.
'Bagaimana bisa lupa dengan sandi rumah sendiri?' pikir Bagas heran.
"Aku menyimpannya di ponsel. Sebentar." Alexa pun merogoh sakunya, akan tetapi nihil. Sehingga ia pun menepuk keningnya sendiri dengan tangan kiri
"Lupa, aku gak sempet ambil ponsel tadi," panik Alexa. Pikirnya ia tidak bisa masuk sampai nanti Mey-Mey kembali. Sebab kawannya itu juga tau akan sandi apartemennya. Bahkan Mey-Mey pun halal di luar kepala.
"Terpaksa kita menu--" Sebelum Alexa meneruskan kalimat, pintu apartemennya sudah dibuka dari dalam.
__ADS_1
"Tenyata kalian sudah pulang." Mey-Mey menyambut keduanya dengan senyum penuh arti. Membuat kening Alexa berkerut seketika.
"Kau pasti lupa lagi kan sandinya. Tuh hapemu ada di atas sofa!" tunjuk Mey-Mey dengan raut wajah senang karena puas telah menemukan kelemahan dari sahabatnya yang perfeksionis itu.
"Hemm ... " Alexa hanya berdehem karena ia tidak tau harus menjawab apa. Salah satu kelemahannya terkuak sudah. Jika dirinya paling kesusahan jika harus menghafal angka.
" Apa kau baru saja memasak ayam rica-rica, Mey?" tanya Alexa sambil membaui aroma sesuatu. Ia menatap ke arah meja makan dan dengan tak sabaran membuka tudung sajinya.
"Kau selalu ingat dengan jelas makanan favoritku, Mey!" pekik Alexa girang. Padahal sahabatnya itu hanya memasak menu sederhana untuk menyiasati waktu.
'Ck. Hanya dengan melihat makanan kesukaan di depan mata. Dia sudah bisa sebahagia itu. Wajah kesalnya seakan meluap entah kemana.' Batin Bagas tak habis pikir. Alexa memang bukan wanita biasa. Dirinya tak tergiur harta meskipun ada kesempatan untuk meraihnya. Alexa bahkan tidak tertarik mengambil hati Bagas demi kedudukan tinggi. Alexa pun tidak sama sekali menggunakan kesalahan Bagas yang telah merenggut kehormatannya untuk menuntut sesuatu. Mungkin jika wanita lain sudah minta dinikahi dengan mahar yang setinggi langit. Lalu mengancam kedudukan Bagas di mata publik dengan membeberkan semua kelakuannya. Akan tetapi itu semua tak ada satupun yang hendak dilakukan oleh Alexa.
'Suatu saat aku akan tau, apa yang kau maksud dari misi itu.' Batin Bagas lagi. Ia terlihat macam orang dungu saat ini. Berdiri termangu di depan pintu. Sementara itu Alexa sudah masuk dan duduk di meja makan.
"Lex, apa kau tak ingin mempersilakan bos-mu masuk dan makan bersama kita," bisik Mey-Mey. Hal tersebut mengakibatkan Alexa tersedak jus mangga yang tengah di seruput nya.
"Uhukkk!" Alexa merasa ada yang mengganjal di tenggorokannya. Membuat dirinya memukul dada dan tengkuk menggunakan tangan kirinya.
"Ambilkan minuman bersoda itu!" perintah Bagas. Lalu ia membuka minuman kaleng berwarna hijau kemudian menyodorkannya didepan mulut Alexa. Setelah minum beberapa teguk, seketika Alexa pun mengeluarkan sendawanya.
"Bagaimana? Baikan?" tanya Bagas yang sedikit tersenyum karena kini Alexa justru tak berhenti bersendawa. Baginya itu sangat lucu dan menggemaskan.
"Sudah ... eeggh! Lebih baik ... eeghh!" Sontak Alexa menutup mulutnya karena sendawa nya kini tidak kunjung berhenti. Ia pun melempar tatapan tajamnya ke arah Bagas, menuntut pertanggung jawaban dari perbuatan yang dilakukan bos-nya itu barusan. Memang sih dia sudah tidak tersedak lagi, tapi kini dirinya sangat malu karena harus bersendawa suara mirip kuda Nil begini.
"Sudahlah. Nanti juga berhenti," ucap Bagas enteng, tentu masih dengan senyum tipisnya.
'Apa manusia es batu abadi itu baru saja tersenyum? Apa aku tidak salah lihat?' batin Alexa yang menyadari perubahan langka dari raut wajah Bagas.
_______
"Awasi wanita itu. Habisi anak buahnya jika mereka melawan!" titah sosok pria paruh baya yang duduk membelakangi meja kerjanya. Pria itu menghadap ke depan jendela, memperhatikan belasan gedung pencakar langit di hadapannya.
"Baik, Tuan. Laksanakan!" jawab pria berwajah oriental itu seraya membungkukkan tubuhnya. Dalam sekejap sang asisten tersebut telah keluar dan berjalan dengan cepat menuruni lantai tertinggi dalam gedung perusahaan berbasis teknologi mutakhir V-Gen Tech.
__ADS_1
Pria bernama Lou Han itu mengajak empat orang anak buahnya untuk berangkat menuju rumah sakit.
Sesampainya di sana.
"Selamat siang asisten Lou!" sapa dua orang pengawal yang bertugas menjaga Yukia.
"Tugas kalian sudah selesai disini. Untuk nanti, awasi pergerakan dari anak pak direktur. Laporkan setiap kegiatannya padaku." Asisten yang bernama Lou memindah tugaskan pengawal Yukia menjadi mata-mata yang akan mengawasi Bagas.
"Sayang kau kah itu!" panggil Yukia yang entah kenapa pandangannya mulai kabur.
"Kau sudah tidak berguna untukku. Mulai saat ini, aku akan bekerja sendiri." Lou hendak berbalik ketika Yukia meneriakinya.
"Lou! Tolong kembalikan wajah ku seperti dulu," pinta Yukia menyambar pergelangan tangan Lou hingga pria tinggi itu menghentikan langkahnya.
"Itu bukan urusanku!" Lou menepis cekalan Yukia.
"Kau membuang ku Lou! Kau pun sedang diujung tanduk asal tau! Tunggu saja, sampai Bagas menemukan identitas Theo yang sebenarnya!"
DEG.
"Apa maksudmu, YUKIA!"
______
"Jangan makan seperti itu! Kau membuat seleraku hilang!" ketus Bagas melihat Alexa yang menarik daging ayam menggunakan giginya. Sebab dia kesulitan makan menggunakan tangan kiri.
"Sini!" Bagas sontak menarik piring Alexa yang berisikan nasi dan satu potong besar ayam rica-rica dengan daun kemangi dan rawit hijau yang banyak di atasnya. Bagas pun meletakkan garpu, lalu mulai mensuwir daging ayam tersebut dengan kedua tangannya.
GLEK.
'Melihat tangannya belepotan bumbu, membuat ku tiba-tiba merasa jika makan langsung dari suapan tangannya pasti sangat nikmat."
...Bersambung...
__ADS_1