Terpaksa Menggoda Suami Orang

Terpaksa Menggoda Suami Orang
TMSO. Bab 74. Kedatangan Bagas Yang Tiba-tiba


__ADS_3

🏹🏹🏹🏹🏹


"Bagas!" Azriel sontak melepas pelukannya pada Alexa, dan segera berdiri. Ia tidak kaget jika akhirnya Bagas menemukan mereka. Sebab, ia memang sengaja memberi petunjuk. Tapi, satu hal yang ia takutkan adalah. Bagas, akan salah faham atas apa yang ia saksikan barusan. Dan, benar saja ...


BUKK!


Dugh!


"Stop! pekik, Alexa.


"Akh!" Azriel memegangi sudut bibirnya yang mengeluarkan cairan merah berbau anyir. Ia menyeka, darah itu seraya menatap nyalang ke arah Bagas. "Kurang ajar! Datang tanpa salam, malah main pukul sembarangan!" hardik Azriel, menahan geram.


"Kakak, tidak apa-apa?" tanya Alexa yang segera mendekati Azriel dengan setengah berlari itu.


"Kenapa kau turun dari tempat tidur? Ayo!" Azriel tidak peduli dengan sakit pada rahangnya, ia justru langsung menggendong Alexa demi meletakkannya kembali ke atas tempat tidur.


"Apapun yang terjadi, tetaplah di sini. Demi anakmu, dan dia itu keponakanku. Mengerti!" ucap Azriel lembut, tapi penuh penekanan.


Bagaimana dengan tanggapan, seorang Bagas Gustavano, kala melihat adegan yang nampak romantis di depan matanya itu. Melihat bagaimana, Azriel menatap Alexa penuh cinta. Bagaimana, seorang Azriel menyentuh dan memeluk Alexa dalam gendongannya. Semua hal itu, yang sama sekali Bagas tak tau pangkal mulanya, tentu saja membuat emosinya mendidih hingga hampir meledak keluar dari dalam dadanya. Bahkan, ubun-ubunnya sudah mengeluarkan asap.


Napasnya memburu dan tersengal-sengal. Tatapannya sungguh nyalang dan tajam. Seakan sorot mata itu mampu menembus jantung dan mengulitimu hidup-hidup.

__ADS_1



Adek meleleh bang, liat tatapanmu yang uwoooww!


"Beraninya kau menyembunyikan wanita dan juga putraku! Sekarang kau menyentuhnya seenak hati di depan mata kepalaku sendiri! Apa aku cari mati, hah!" Emosi Bagas benar-benar sudah menguasai hatinya. Ia tak mampu lagi melihat dari sisi yang lain.


"Apa kau tidak bisa bicara baik-baik? Ini bukanlah tempat mu! Ini wilayahku!" sentak Azriel tak kalah berani. Ia enggan berteriak kencang, lantaran takut membuat Alexa menjadi stress.


"Sebaiknya, kau tenangkan dirimu agar kita bisa bicara baik-baik. Aku akui, aku memang salah. Sebab, aku lambat mengetahui jika anak yang di bawa oleh Alexa adalah putramu. Ah, maksudku, putra dari mantan istrimu," sindir Azriel. Bagaimanapun, Bagas tidak bisa menyalahkan apalagi menuntut dirinya.


"Cih! Pandai sekali alasanmu! Berkelit macam ular! Kau, silat lidahmu memutar balikkan fakta yang nyatanya nampak di permukaan dengan jelas!" protes Bagas tak terima alasan yang menurutnya hanya sebuah pembelaan diri. Tapi, sayangnya Bagas melupakan satu hal yang akan membuatnya kalah telak.


"Aku sedang tidak berkelit, bukankah aku mengakuinya. Bahkan, kau bisa sampai di sini sebab aku yang meninggalkan jejak pada detektif suruhanmu itu! Seharusnya, kau dapat mengerti maksudku!" ujar Azriel tak mau kalah begitu saja dengan segala tuduhan tak berdasar dari Bagas. Meskipun, pada awalnya ia memang ingin menguasai Alexa sendirian. Akan tetapi, setelah ia mengetahui jika perasaannya akan kandas, maka pada saat itulah ia sadar. Azriel, pun memutuskan untuk melakukan apa yabgs seharusnya seorang kakak laki-laki lakukan kepada adik perempuannya.


Bagas menoleh ke atas tempat tidur dimana Alexa tenaga menunduk sambil memegangi dadanya yang berdentum keras. Ternyata, tatapan mereka beradu. Siapa sangka, ternyata Alexa juga tengah memperhatikannya sejak tadi, mungkin.


Kedua mata indah itu berkaca-kaca, iris itu berkilat memantul dari bias kristal yang mengembun. Wajah, itu sedikit lebih pucat dari yang pernah Bagas lihat sebelumnya. Bahkan, tubuh Alexa sedikit ... kurus.



Tanpa komando dari siapapun, Bagas perlahan berjalan mendekati dimana Alexa berada kini. Refleks, Azriel mundur juga perlahan. Ia sengaja memberi ruang bagi dua insan yang sudah pasti tengah tenggelam dalam kerinduan mereka saat ini. Bagaimana pun, sosok Bagas-lah yang sesungguhnya Alexa butuhkan di tengah sulitnya masa kehamilan saat ini.

__ADS_1


Bagas mendekat dan semakin mendekat, langkahnya semakin gemetar. Kedua matanya memanas. Betapa, ia teringat kesengsaraannya selama beberapa bulan ini. Makan tak enak, tidur pun tak nyenyak. Seluruh pekerjaannya kacau. Di pikirannya hanya ada satu sosok, yang wajahnya terus menari membuat dirinya hampir hilang kewarasan. Seketika, satu kalimat yang keluar dari mulut Azriel membuat Bagas benar-benar, kehilangan keseimbangan tubuhnya.


"Alexa tengah hamil hampir tiga bulan, tapi kandungannya sangat lemah. Selama ini, susah tiga kali masuk rumah sakit dan hampir--" Azriel tidak dapat meneruskan kalimatnya lantaran ia tak sanggup mengatakannya ketika mengingat masa kritis Alexa kala itu. Ia masih ingat bagaimana ketakutannya akan kehilangan.


"Alexa, tidak boleh turun dari tempat tidur selangkah pun. Atau, bayi kalian taruhannya." Azriel kembali berkata tegas sebelum Bagas salah mengambil langkah dan akan membaut semuanya menyesal nanti.


"A–apa? Jadi, ka–kau ... sungguh, hamil anakku?" tanya Bagas terbata-bata dengan air mata yang sudah meluncur turun tanpa bisa ia tahan lajunya. Jangan tanya keadaan Alexa, wanita cantik itu tengah menahan isak-nya dan terlihat sudah berkali-kali menghapus derai yang meluncur turun membuat sembab dan basah kedua pipinya.


"Apa karena hal itu, yang membuat mu menjadi begitu kurus?" lirih Bagas yang kini telah duduk di depan Alexa dan menangkup kedua pipinya seraya menatap dalam penuh kerinduan. Alexa, tak bisa menjawab sepatah katapun. Dadanya seakan mau meledak, ia ingin menghambur kedalam pelukan Bagas dan menangis sepuasnya. Seperti mengerti akan apa yang ada dalam pikiran Alexa. Bagas, menarik raga lemah itu kedalam dekapannya.


"Aku sengsara jauh darimu, Lex. Kembalilah, jangan siksa aku seperti ini," lirih Bagas dengan mata yang basah.


"Antarkan, Mommy pulang sekarang, Riel!" pinta Sofie yang baru saja siuman. Ternyata ia turut menyaksikan pertemuan dari ayah sang bayi yang tengah dikandung oleh Alexa, yang ternyata adalah putri kandung dari suaminya. Navier Bawazier. Pria yang selama puluhan tahun ia cinta dan ia percaya sepenuh hati.


Tiada disangka apalagi di duga, jika selama dia puluh tahun lebih, suaminya itu menyimpan satu rahasia besar. Rahasia kebusukan dan kejahatan dirinya di masa lalu. Sejauh kebohongan dan kejahatan yang membuat rasa cintanya seketika berubah menjadi benci setengah mati. Ingin, rasanya saat ini ... Sofie membuat kopi dan mencampurnya dengan sianida, agar sang suami menjemput ajalnya saja. Tapi, itu tidaklah elegan. Sofie akan, membuat Navier kehilangan hartanya terlebih dahulu, lalu ia akan memberikannya pada Alexa. Sehingga pria tua itu mati dalam keadaan penuh sesal. Begitulah kiranya rencana penuh dendam akibat sakit hati yang teramat sangat melukai dirinya.


'Kau sungguh kelewatan, Vier!' batin Sofie, meremas dadanya.


"Kita, akan membaut Daddy, mengakui kesalahannya. Cukup, hanya itu, Mom," ucap Azriel, berusaha menenangkan hati wanita cantik yang telah mengandungnya selama hampir sepuluh bulan itu.


"Aku akan membuatnya sengsara, Riel. Daddy-mu harus merasakan akibat dari kejahatannya!"

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2