
🏹🏹🏹🏹🏹
Seketika air danau yang tenang menjadi riuh dan ricuh. Di sebabkan, bau anyir yang keluar dari tubuh Lou mengundang napsu lapar hewan buas bergigi tajam. Para buaya keluar dari persembunyian mereka. Saling begaduh dan berebut memangsa bagian dari raga yang polos terbuka itu.
Lengkingan dan teriakan kesakitan dari Lou, seakan menjadi nyanyian seram malam itu. Beberapa saat kemudian, jeritan tak lagi terdengar ketika Lou hanya tersisa koyakan saja. Keadaan penangkaran kembali tenang, para buaya telah kenyang. Pesta malam itu pun usai. Menyisakan bau amis merebak di udara yang dingin. Sungguh, hukuman yang sangat kejam. Akhir hayat sang penghianat yang tidak pernah terpikirkan oleh siapapun. Entah. Akankah terbit ucap penyesalan di akhir kisah hidupnya yang tragis itu? Apakah Lou menyesali perbuatanya?
Sadarkah mereka telah meninggalkan sosok lemah nan rapuh tanpa dosa. Raga kecil dengan kepolosan senyum dan tawa yang seketika berubah menjadi suram dan kusam. Ketika hati putih bersihnya mendapati kenyataan, dirinya bukan siapa-siapa. Pikiran polosnya menerka, apa salahnya? Kenapa mereka melakukan ini padanya? Apakah dirinya buruk dan nakal? Atau menyusahkan dan menyebalkan? Seketika, bocah yang tidak seharusnya memiliki beban pikiran dalam masa kecilnya itu, gamang.
Bocah Lima tahun itu, hanya bisa meringkuk di balik selimutnya dan menangis. Ini pagi pertamanya ia mendapati bahwa dirinya tidaklah memiliki tempat. Tidak memiliki arah dan rumah untuk pulang. Hatinya merindukan orang yang kini tak pantas di akuinya. Merindukan bagaimana kala dirinya di sambut dengan pelukan dan usapan. Merindukan ketika dirinya ditanya apakah sudah makan? Mau apa? Lalu dipangku dan tergelak bersama dalam canda riang.
"Mommy ... Daddy ..., hiks!" Theo semakin membulatkan tubuhnya bak trenggiling. Mencari kehangatan dari dalam dirinya sendiri. Karena, kini tak ada lagi raga yang ia harapkan mampu memberi pelukan erat padanya. Hingga, kasur tempatnya bergelung terasa bergoyang pelan. Pertanda ada seseorang yang juga naik ke atasnya.
"Theo," bisik lembut suara penuh kasih sayang. Ya, Theo dapat merasakan kehangatan dan ketulusan dari sepenggal kata yang memanggil namanya saja.
Membuat raganya melentur dan sontak berbalik. Tangisnya pun pecah ketika dihatinya paras teduh itu begitu kentara mencintainya. Tak ingin apa-apa, sejatinya itulah yang ia butuhkan saat ini.
"Huwaaaa ...!" Theo terus terisak dan sesenggukan di dalam pelukan erat Alexa.
"Aunty ...! Jangan tinggalin Theo !" ucapnya dalam isak yang begitu hebat. Alexa seketika panik dan bingung. Theo seperti sudah bernapas, karena suaranya saja tercekat.
__ADS_1
"Sayang, sayang. Tolong jangan seperti ini. Nanti, Theo tidak bisa bernapas. Tenanglah ... Aunty tidak akan pernah meninggalkanmu. Justru, Aunty ingin mengajak Theo jalan-jalan untuk melihat dinosaurus. Itu juga kalau Theo berhenti menangis," tutur Alexa berusaha membujuk bocah berpipi chubby itu.
"Be–benarkah? Ta–tapi, nanti ... da--" Theo yak meneruskan kata-katanya, sebab Alexa telah menggendongnya lalu mengajaknya berputar-putar.
"Aunty!" pekiknya, yang lama kelamaan tersenyum juga.
"Nah, gitu dong senyum! Kan tampan!" goda Alexa seraya menggoyang-goyang kedua pipi chubby Theo.
"Yuk, gak usah pikirkan apa-apa. We have fun aja, ok!" seru Alexa girang, kemudian di jawab dengan senyum lebar. Hingga menunjukkan gigi susu Theo yang berbaris rapi itu.
"Aunty, Mey!" panggil Theo yang berlari kecil menuju dapur. Itulah anak-anak, setidaknya sifat ceria alami mereka dapat menyembuhkan luka seketika. Membuat masalah pelik itu terlupakan walau sesaat, mungkin.
"Unch, udah wangi. Pasti baru mandi ya?" tanya Mey-Mey yang barusan membantu Theo untuk duduk di kursi dapur.
"Udah dong. Tapi mandi sendiri." Theo berucap dengan nada bangga seraya membusung.
"Wah, masa iya? Kemarin saja --" Sontak kata-kata Mey-Mey terganjal di tenggorokan. Ketika sebuah kode dari Alexa melarangnya mengungkit hal sebelum hari ini. Sayangnya, semua terlambat. Otak cerdas Theo telah menangkap maksud dari Mey-Mey.
"Mulai sekarang, Theo berjanji. Akan menjadi anak yang mandiri dan penurut. Agar Aunty cantik dan Aunty Mey tidak meninggalkan Theo. Cukup, mommy, Daddy dan Kakek Giganoto saja. Kalian berdua, tidak boleh meninggalkan Theo. Ya ...?" ucap Theo parau, kentara sekali luka dan kesedihan dalam hatinya. Manusia macam apa yang begitu tega melukai hati rapuh bocah malang ini. Apakah mereka masih pantas disebut manusia?
__ADS_1
"Sayang, tidak ada yang akan meninggalkan Theo. Justru, kami berdua ingin mengajak Theo pergi keliling kota. Kita akan mengunjugi sarang dinosaurus di beberapa tempat," tutur Alexa menjelaskan dengan nada biasa saja. Padahal, dirinya tengah menahan sesak dalam dada.
Kalimat yang diucapkan Theo begitu mengiris hatinya. Dia saja sesak, entah bagaimana Theo yang merasakannya. Luar biasanya, di usia yang sekecil itu Theo dapat berpikir dewasa. Ia berusaha mandiri dengan susah payah. Mandi sendiri, berpakaian sendiri. Bahkan menolak ketika Alexa ingin menyisir rambutnya. Theo berusaha untuk melakukan semua tanpa bantuan. Padahal, sebelumnya dia selalu di layani. Bahkan, pelayan khusus untuknya di mansion ada tiga orang. Theo, yang selalu dimanja dan di urus segala keperluannya. Kini, karena keadaan dan tekad dari dirinya sendiri. Ia berusaha dan belajar untuk melakukan apapun seorang diri.
Selesai sarapan, mereka pun pergi meninggalkan apartemen. Pagi sekali memang. Bahkan, matahari saja baru mengintip dari balik awan. Theo tidak melihat koper-koper besar yang telah disiapkan Alexa sejak semalam. Karena, telah lebih dulu di masukkan kedalam mobil Van yang Alexa sewa sekaligus dengan sopirnya.
Untung saja, Theo tidak banyak bertanya. Alexa akan membawanya kemana.
' Nek, Lilu. Aku harap kau baik-baik saja. Alexa belum bisa pulang dan mengunjungimu. Syukurlah ada tetangga yang baik dan mau menjagamu. Alexa mau pergi jauh dulu. Mungkin, aku akan mengikuti jejak mu Nek. Merawat dan membesarkan seorang anak yang bukan berasal dari darah daging sendiri. Tapi, aku tidak bisa mengabaikannya. Alex menyayanginya, Nek. Ku harap kau tidak marah.' batin Alexa seraya menuangkannya dalam secarik kertas. Lalu, meninggalkan surat itu di depan pintu rumah yang telah ia tempati selama belasan tahun.
"Aunty kenapa gak masuk? Memang tidak ada orangnya ya?" tanya Theo polos.
"Sepertinya, orangnya masih tidur. Lain kali saja kita kembali lagi," jelas Alexa berbohong. Sebab, jika ia tinggal di sini. Anggara pasti akan menemukan mereka. Alexa takut, karena kebencian Anggara terhadap kedua orang tua Theo berdampak pada bocah yang tidak tau apa-apa ini. Alexa tidak mau jika Theo tumbuh besar dalam lingkungan penuh dendam.
Mereka bertiga telah sampai di sebuah kota. Cukup jauh dari jangkauan mata-mata Anggara. Alexa yakin, mereka tidak akan mencari sampai ke tempat ini. Alexa memutuskan berhenti sebentar di supermarket. Karena Theo terlihat haus dan ingin minum susu uht. Pada saat itulah secara tidak sengaja dan kebetulan. Seorang pria berbadan besar menabrak bahunya.
"Awh! Apa anda tidak bisa berjalan dengan benar!" teriak Alexa. Sebab ia terjatuh duduk, karena senggolan itu lumayan kencang.
"Astaga, Nona. Maafkan saya!" pekik pria dengan rahang tegas penuh bulu itu. Ia mengulurkan tangannya untuk membantu Alexa berdiri. Seketika itu, tatapan mereka beradu dan membuat sepasang iris mereka membesar bersamaan.
__ADS_1
...Bersambung ...