
🏹🏹🏹🏹🏹
"Biar saja dia ditangkap Lex. Bocah laknat itu harus menerima konsekuensinya! Lagipula aku yang telah menghubungi inspektur Liu," ujar Mey-Mey, melepaskan cekalan Alexa pada lengannya. Rasanya malas sekali turun ke bawah. Biar saja Leo di gebukin para polisi itu. Pikirnya.
"Kau tidak salah sebab telah menghubungi polisi Mey. Akan tetapi aku takut jika Leo menolak penangkapannya. Jika ia melawan maka polisi akan bertindak tegas. Itulah yang ku takutkan Mey," ucap Alexa seraya menggamit lagi lengan sahabatnya itu.
Bagaimana pun ialah yang paling tau bagaimana sifat dari adik tirinya itu.
Sesampainya di depan apartemen, ternyata perkelahian sudah terjadi. Leo dengan kemampuan beladiri yang dikuasainya ternyata begitu berani melawan para polisi itu.
"Hentikan Leo! Sebaiknya kau serahkan dirimu baik-baik!" pekik Alexa kencang. Ketakutan ternyata benar terjadi. Leo memang bertemperamen tinggi.
Dua orang pria kekar berseragam itu belum berhasil melumpuhkan Leo yang dengan gesit dan lincah menyerang mereka dengan berbagai jurus. Bahkan Leo terlihat memantul dari dinding untuk menghajar salah satu polisi. Leo menyeringai ketika sasarannya terjatuh, dengan cepat ia berniat mengambil senjata yang terselip di antara pinggang polisi muda itu.
Alexa membelalakkan kedua matanya tatkala Leo dengan cekatan merampas senjata api milik polisi. Terlebih ketika inspektur yang masih memiliki hubungan darah dengan Lian Feng mengangkat kedua tangannya. Tentunya dengan senjata api yang mengarah tepat pada Leo.
DOR. DORR!
__ADS_1
Dua peluru melesat cepat, mengalahkan gerakan pelatuk yang ditekan oleh Leo. Mengakibatkan timah panas itu menembus dua bagian dari tubuh pemuda yang sejak tadi melawan dengan beringas. Selongsong peluru telah mencipta dua lubang di paha kanan dan juga pada bagian dada sebelah kiri. Membuat Leo tumbang jatuh ketanah seketika. Darah mengalir di bawah tubuhnya merubah warna sweeter putihnya menjadi kemerahan.
"LEO!" teriak Alexa yang seketika berlari menghampiri adik tirinya itu, setelah sebelumnya ia mendorong inspektur Liu.
"Tidak! Leo!" Alexa bersimpuh, kemudian menarik bahu Leo dan meletakkannya kepala Leo keatas pangkuannya. Leo yang masih sadar berusaha membuka matanya dan menatap wajah Alexa. Ketika ingin mengucap sesuatu, justru darah yang lebih dulu menyembur dari mulut Leo. Kejadian itu sontak membuat Alexa semakin menjerit histeris.
"Bertahanlah, aku akan membawa mu kerumah sakit," ucap Alexa ditengah banjir derai air matanya.
"Bi–arkan ... a–ku ... ma–ti ..." ucap Leo terbata disela-sela napasnya yang sudah satu-satu.
"Kenapa jadi begini? Kenapa kau tidak menyerah saja!" pekik Alexa. Perasaannya terhadap adik tirinya ini benar-benar tulus. Entah kenapa Leo bisa berbuat seperti ini padanya. Sehingga Alexa harus melihat Leo berlumuran darah di hadapannya. Padahal sejak kecil jika Leo jatuh saja Alexa akan menangis dan merasa bersalah.
"Kak ...,"
Alexa sontak mengalihkan tatapannya kepada Leo lagi. Ketika ia mendengar Leo masih sadar dan memanggil dirinya.
"Ma–argghh!" Leo melengkingkan tubuhnya kemudian kedua matanya mendelik dan tak bergerak lagi setelahnya. Tubuh pemuda itu kini lunglai tak bertenaga, karena nyawa telah berpisah dari raga sebelum ia mengucap kata maaf untuk terakhir kalinya.
__ADS_1
"LEO!" jerit tangis Alexa memecah siang menuju sore itu. Mey-Mey segera menghampirinya demi menenangkan.
" Kenapa kau membunuh nya!" teriak Alexa pada inspektur Liu. Kedua matanya yang berair menatap nyalang pada pria gagah dengan seragam kepolisian. Sementara, inspektur Liu diam saja. Ia hanya melirik ke arah kawannya agar jenazah Leo segera di pindahkan dan dibawa. Sebab mobil ambulance milik kepolisian telah tiba.
"Tenang Lex. Jika inspektur tidak menembak Leo. Tentu saja para polisi yang akan tertembak dan mati. Bisa juga kita yang kena tembak, mana tau. Secara Leo itu tengah kalap dan terbakar emosi, karenanya ia menjadi brutal dan membabi buta. Apa kau mau menyalahkan tindakan polisi yang bermaksud menyelamatkan kita?" jelas Mey-Mey bermaksud membuka kesadaran Alexa.
Ia tau jika Alexa tenaga terpukul saat ini. Bagaimana pun, rasa sayangnya pada Leo tidak bisa terhapus begitu saja. Hubungan keduanya sudah dekat sejak tahunan. Leo saja yang sudah kemasukan setan sehingga bermaksud memakan kakaknya sendiri. Meskipun mereka saudara tiri, akan tetapi kebersamaan mereka sudah terjalin sejak kecil.
Jarak usia mereka yang hanya terpaut lima tahun, membuat Alexa selalu menganggap Leo adalah adik kecilnya yang lucu. Bahkan hingga Leo beranjak remaja pun, Alexa masih suka memeluk dan bercanda dengan Leo. Siapa sangka jika otak mesumnya ternyata menurun dari sang ayah. Sehingga Leo menerima dengan cara yang salah setiap kebaikan dan perhatian yang diberikan Alexa untuknya.
"Tidak Mey. Seharusnya mereka bisa melumpuhkan saja. Tidak perlu menghabisi nyawanya!" pekik Alexa tetap dengan protesnya.
"Alexa, tenanglah. Abang ku pasti memiliki alasan tersendiri kenapa harus langsung segera membuat Leo tak berkutik lagi. Nanti, kau juga akan tau. Pihak kepolisian masih mencari bukti dan anggota Genk yang bekerja sama dengannya," ucap Lian Feng. Membuat Alexa seketika berpikir. Tentang kasus pencabulan yang mengakibatkan Leo di pecat dari perannya sebagai guru ekskul karate.
Alexa segera menghapus air matanya. Ia mengikuti kemana Lian membawanya.
"Lex, tanganmu berdarah!" panik Lian. Pria berwajah ala-ala aktor dracin itu mengangkat pelan tangan Alexa yang terbungkus perban.
__ADS_1
...Bersambung ...