Terpaksa Menggoda Suami Orang

Terpaksa Menggoda Suami Orang
TMSO. Bab 61. Keanehan Yang Sama Di Tempat Berbeda


__ADS_3

🏹🏹🏹🏹🏹


"Apa yang terjadi pada ku. Kenapa tubuh ini lemas sekali." Bagas telah merebahkan raganya di atas tempat tidur akan tetapi kedua matanya belum bisa terpejam. Perutnya begitu tidak enak, seperti ada yang tengah mengaduk-aduk isi di dalamnya. Hingga, dia bergerak tak bisa diam mencari posisi yang enak untuk tidur. Miring kiri dan kanan, tengkurap. Tak ada satupun posisi yang nyaman. Perutnya tetap saja tidak enak.


"Ahk, apakah aku sakit?" tanya Bagas seorang diri. Kedua tangannya sambil mengoles fresker roll on di atas perutnya yang liat itu. Berharap rasa mual dan sebahnya akan berkurang. Sebab, Bagas pikir perutnya kembung lantaran masuk angin.


"Seumur-umur, belum pernah aku menggunakan benda ini. Baunya sangat tidak enak!" ocehnya menggerutu. Padahal, Pak Bin sudah memilihkan aroma terapi yang paling enak. "Hah! Kenapa kulitku jadi merah-merah! Apakah ini barang palsu? Ukh, panas!" Bagas mengaduh dengan kencang. Pak Bin yang memang bersiaga di balik pintu kamar segera masuk.


"Tuan, anda kenapa? Kenapa berteriak kencang sekali?" tanya Pak Bin bingung. Pria tua itu segera menghampiri majikannya yang sejak kecil telah kehilangan ibunya itu. Sebab, itu Pak Bin yang lebih sering mengurusnya ketimbang Anggara yang selalu sibuk dengan perusahaan.


"Lihatlah! Kulit ku memerah! Kau berikan apa padaku? Ini pasti barang palsu!" protes Bagas mengomel pada pelayan tuanya itu.


"Apa, Tuan terus mengolesnya sejak satu jam yang lalu tanpa henti? Kalau iya tentu saja, kulit anda mengalami keradangan karena pemakaian yang terlalu berlebihan," jelas Pak Bin pelan. Ia tidak mau terlalu menanggapi kekesalan Bagas. Karena majikannya ini hanya terlihat garang di luar akan tetapi baik di dalam. Bagas, selalu memperhatikan kesejahteraan para pekerjanya di rumah maupun di kantor. Meskipun, pria itu memang terlihat cuek, dingin dan jarang bicara.


"Karena perutku rasanya tidak enak sekali! Antara mual tapi tidak mau muntah. Ah, pokoknya rasanya serba salah! Bahkan aku tidak bisa memejamkan mata!" seru Bagas terlihat frustrasi.


"Sepertinya Anda sakit, Tuan. Biar saya panggilkan dokter Anwar untuk memeriksa anda." Setelah mendapat anggukan dari majikannya ini, Pak Bin pun segera undur diri keluar. Lalu pria tua segera meraih ponsel di saku jas nya.


"Halo, Dokter--"


________


"Halo, selamat sore!"

__ADS_1


"Apa keluhannya?" tanya seorang dokter wanita ketika Alexa telah berhasil menundukkan bokongnya ke atas kursi pasien.


"Begini, Dok. Akhir-akhir ini kepala saya sangat berat. Di mulai dari tengkuk hingga ke pelipis. Bahkan, saya tidak kuat untuk sekedar melihat layar ponsel ataupun cahaya. Setiap pagi, jika saya bangun dari tempat tidur. Sekeliling saya seakan berputar lalu saya akan merasa seakan tidak memiliki tulang. Lemas sekali," jelas Alexa menceritakan semua yang ia rasakan sejak beberapa hari lalu.


Ternyata, sambil menunggu paspor dan visanya selesai. Azriel menyediakan rumah sang mami untuk tempat tinggal sementara. Dan, kini ia mengantar Alexa untuk kerumah sakit besar. Padahal, Alexa menolak keras tawaran dari Azriel. Tapi, mau bagaimana lagi. Ketika ia ingin mengajak Mey-Mey, pagi tadi tiba-tiba suhu tubuh Theo mendadak demam. Bocah itu terkena flu.


"Baiklah kalau begitu, biar di periksa dulu. Suster, tolong bantu!" seru nya pada asisten yang membantunya menjalankan tugas.


"Tuan, bisa menunggu di sini saja," ucap sang Dokter pada Azriel. Ya, pria itu memaksa ikut masuk kedalam ruangan. Sebab, ia melihat Alexa begitu lemas tadi.


"Apakah, Nona sudah telat datang bulan?" tanya dokter wanita itu membuat Alexa gelagapan. Akan tetapi Alexa mengangguk pelan demi menjawab pertanyaan sang dokter. Hatinya diliputi kecemasan. Takut jika kekhawatirannya selama ini menjadi kenyataan.


"Saya akan memindahkan pemeriksaan Nona kepada dokter spesialis kandungan ya. Karena, di lihat dari detak jantung dan juga nadi. Serta tekanan darah yang rendah. Ada kemungkinan jika anda hamil. Tapi, untuk lebih jelasnya lagi. Biar diperiksa saja nanti dengan alat ultrasonografi."Jelas sang dokter umum tersebut. Semakin bergetar dan lemas saja tubuh Alexa. Bahkan ia seakan tak mampu untuk menggerakkan tubuhnya untuk bangun dari hospital bed.


"Apa yang terjadi? Wajahnya sangat pucat, Dok?" tanya Azriel dengan nada khawatir yang begitu kentara. Alexa tak mampu membuka mulutnya, lidahnya bahkan terasa beku. Pikirannya sudah berkecamuk banyak hal. Hingga, akhirnya sang dokterlah yang menjelaskan.


"Ba–bagaimana bisa?" ucap Azriel terbata seraya menatap Alexa yang berada di sisi. Wanita itu menunduk dalam, membuat segala kemungkinan itu benar adanya.


"Karena saya, tidak menemukan tanda-tanda penyakit yang lain. Semoga saja hasilnya benar-benar seperti yang kalian berdua harapkan ya," ucap sang dokter wanita itu dengan senyum. Tanpa tau dan paham bahwa apa yang ia ucapkan membuat kedua orang di hadapannya ini sesak napas.


Tanpa banyak bicara dan tanya lagi, Alexa pun mengikuti anjuran dokter. Suster mendorongnya menggunakan kursi roda karena kakinya benar-benar lemas tak bertenaga. Sementara itu Azriel mengikuti dari belakang sambil berpikir keras. Satu hal yang tak ia sangka jika benar Alexa hamil. Dan, hal itu lantas membuatnya menyimpulkan sesuatu. Menjelaskan kepergian Alexa yang seakan sengaja menghindari Bagas Gustavano.


Azriel mengepalkan tangannya geram. "Bagas Gustavano. Awas saja jika memang semua terbukti hasil perbuatanmu! Aku, tidak akan pernah melepaskanmu!" geram Azriel bergumam pelan.

__ADS_1


Alexa pun kembali di baringkan di atas brangkar. Lalu sebuah cairan lengket dioleskan di atas perutnya oleh sang perawat. Kini, dokter kandungan wanita itu menggerakkan alat yang bernama transfunder itu ke atas perutnya. Hingga tak berapa lama, seulas senyum terbit di bibir sang dokter. 'Kenapa dia tersenyum? Jangan bilang kalau--"


"Usia janinnya sudah tujuh Minggu. Organ-organ tubuhnya sudah mulai terbentuk. Seperti mata, otak dan juga jari-jari tangan. Apa anda sering mengalami keram pada perut atau pendarahan ?" tanya dokter SPOG itu di balik penjelasannya. Alexa gelagapan, ia masih mencerna penjelasan dari dokter mengenai mahkluk hidup yang kini ada di dalam rahimnya.


Sesosok mahluk yang ia tidak harapkan bersemayam di dalam sana. Kehadiran yang tidak ia inginkan. Tapi, bagaimanapun inilah kenyataannya. Hasil perbuatannya dengan Bagas kala itu. Konsekuensi yang lagi-lagi hanya ia yang harus menanggungnya. Alexa belum bisa menjawab pertanyaan sang dokter. Dadanya tiba-tiba merasa sesak. Alexa bahkan kesulitan untuk sekedar bernapas.


"Nona, nona!" panik sang dokter karena wajah Alexa semakin pucat dan terlihat begitu kesulitan untuk bernapas. Segera, ia memerintahkan pada perawat untuk segera memasang alat bantu pernapasan dan selang oksigen yang dimasukkan kedalam hidung Alexa.


Pada saat inilah, Alexa dapat menarik napasnya lega. Ia melirik kearah dokter dan suster yang tadi sempat panik karena keadaannya yang tiba-tiba seperti itu.


"Tenang saja, Nona tidak apa-apa. Hanya mengalami syok ringan. Semua baik-baik saja. Jangan terlalu banyak pikiran. Terima kehadirannya dengan bahagia. Karena seorang calon ibu tidak boleh stress dan tertekan. Itu akan mempengaruhi kesehatan Nona dan juga janin yang nanti akan menjadi calon bayi yang ikut lagi lucu," jelas sang dokter yang paham perasaan Alexa. Ia banyak menemui pasien yang awalnya tidak menerima kehadiran bayi yang tidak mereka harapkan. Seketika ia paham, bagaimana hubungan pasien dengan pria tampan yang menunggui nya di ruang depan.


Sang dokter pun membiarkan Alexa untuk beristirahat sampai kadar oksigen dalam tubuhnya normal kembali.


"Maaf, Tuan. Ada hal yang harus saya bicarakan," ucap dokter tersebut pada Azriel.


Setelah mendengar penjelasan dari dokter, Azriel tidak mampu untuk menutupi kekagetannya. Ternyata Alexa benar-benar dalam keadaan berbadan dua.


"Ternyata dugaan saya benar, jika anda bukanlah suaminya?"


"Baru sekedar niat, Dok "


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2