Terpaksa Menggoda Suami Orang

Terpaksa Menggoda Suami Orang
TMSO Bab 51. Kedatangan Anggara.


__ADS_3

🏹🏹🏹🏹🏹


Ig. aulia.rahim.9847


FB. Aulia Rahim


Follow ya yang mau liat visual Bagas dan juga Alexa. Visual Theo masih nyari, wkwkwk.


...Happy reading....


Setelah sarapan penuh drama dan kesalahpahaman, yang sampai saat ini belum terungkap. Bagas dan putranya harus pulang dan kembali pada rutinitas mereka.


"Aunty, Theo pulang dulu ya. Karena harus kembali sekolah besok," ucap Theo yang kini tengah merangkul Alexa dengan erat. Anak ini seperti berat sekali berpisah dengan aunty cantiknya. Membuat Alexa tersenyum hangat menerima perlakuan manja dari anak bos-nya ini.


"Pulanglah, belajar yang rajin. Jadilah anak yang selalu membuat Daddy bangga. Jadilah anak yang pintar agar tidak mudah dibodohi oleh orang lain. Tetaplah berhati baik dan jujur. Theo paham kan maksud Aunty," ucap Alexa pelan menasihati sambil memeluk dan mengusap kepala sampai punggung bocah menggemaskan itu.


"Yes, Aunty. T-Rex akan selalu ingat pesan ini. Love you."


CUP!


Kecupan singkat dari Theo mampir di sebelah pipi Alexa. Membuat perasaannya tiba-tiba hangat. Yukia sangat rugi, telah mengabaikan anak sepintar Theo. Anak yang selalu menghargai sekecil apapun perhatian dan kasih sayang yang diberikan untuknya. Anak penurut yang tidak susah diajari. Theo cepat tanggap dan memiliki ingatan yang kuat. Hanya manusia bodoh tanpa syukurlah yang abai atas anugerah berat tak ternilai seperti ini.


Alexa pun membalas apa yang dilakukan Theo, bahkan menekan pipi chubby itu hingga sang empunya tertawa geli. Tentu saja hal tersebut tidaklah luput dari perhatian Bagas. Meskipun pria itu sejak tadi terlihat sibuk menerima telepon dari anak buahnya di kantor.


'Kalian sudah sangat begitu dekat. Apa yang akan terjadi jika salah satu dari kalian harus berpisah? Theo sudah sangat bergantung padamu Lex. Begitupun juga diriku. Rasanya aku tidak ingin kembali kerumah. Dimana di sana hanya tidak ada kehangatan dan kesederhanaan seperti ini.' batin Bagas, tersenyum tipis melihat adegan yang terjadi tak jauh darinya itu. Hanya Alexa yang mampu membuat Theo menurut dengan cara halus dan lembut.

__ADS_1


Bagaimana dengan hubungan Theo dan sang Ibu, Yukia. Sejati nya anak itu faham. Perlakuan Yukia selama ini telah menciptakan jarak yang cukup kentara dan jauh untuk keduanya. Sebongkah kekecewaan telah membungkus hatinya. Membuatnya, acuh dan seakan balik tak perduli dengan keadaan Yukia. Bagas, sendiri tak dapat menyalahkan putranya itu. Bukan bermaksud ingin membalas setiap pengkhianatan dan juga kebohongan yang di lakukan Yukia padanya. Akan tetapi Bagas juga tau apa yang di lakukan Theo adalah ungkapan kekecewaan dari hati seorang anak yang di abaikan sejak bayi.


Bagas tidak ingin Theo tertekan dengan keadaan atau bahkan perasaan yang dipaksakan. Bagas tidak mencampur adukkan masalah antara dirinya dan Yukia, dengan perasaan Theo. Setidaknya, jika saja Yukia mau meminta maaf dan mengakui kesalahannya terhadap Theo mungkin, putranya itu akan merubah sikapnya. Sebenarnya, Theo hanya butuh kasih sayang. Tak lebih dari itu.


Kenapa, dirinya saja yang tidak memiliki hubungan darah dapat menyayangi Theo dengan sepenuh hati. Begitupun dengan Alexa. Kasih sayang dan perhatiannya terhadap Theo terlihat dan terasa sangat tulus. Kenapa, Yukia yang sejatinya adalah Ibu kandung, dapat mengabaikan buah hatinya sendiri. Bagas tak habis pikir dan tak pernah menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya ini.


"Ayo, T-Rex. Let's go home!" ajak Bagas seraya mengulurkan tangannya hendak menuntun tangan kecil mungil bocah Lima tahun itu.


"Bye, Aunty cantik, Aunty Mey!" ucap Theo yang kemudian mendapatkan senyum manis serta lambaian tangan dari keduanya.


Baru saja Bagas hendak mengajak sang putra ke arah pintu keluar. Sebuah gedoran kencang yang berakhir dengan dobrakan pada pintu apartemen Alexa.


BRUAAKK!


"Aku! Siapa mereka Lex!" jerit Mey-Mey yang shock. Alexa pun demikian, akan tetapi dia berusaha tetap tenang. Bukan hal yang aneh jika hal ini di lakukan oleh seorang Anggara Gustavano. Pemilik dari perusahaan technologi Vi-Gen Tech. Ia adalah pria tua arogan nan kejam yang pernah Alexa kenal seumur hidupnya.


"Tananglah, Mey. Mereka tidak akan melakukan tindakan lebih dari ini terhadap kita. Percayalah padaku," bisik Alexa, mencoba menenangkan Mey-Mey yang telah bergetar tubuhnya. Pasalnya, Anggara membawa pengawalnya yang berbadan besar dan beraura kejam.


"Apa yang dilakukan oleh seorang Bagas Gustavano! Penerus dari kerajaan bisnis Gustavano! Apakah ini lantas jika dilihat oleh klien kita!" hardik sekaligus sarkas Anggara di tujukan oleh putranya.


"Kau menakuti Theo, Ayah!" ujar Bagas. Menyadarkan pria yang menyandang predikat sebagai orang tua tunggal untuknya itu. Sementara, Theo telah berlindung di balik tubuh Alexa. Begitu pun dengan Mey-Mey.


Tatapan Anggara mengikuti kemana arah Theo bersembunyi. Ia pun menatap Alexa dengan tatapan tajamnya, hingga pandangannya itu beralih pada sebelah tangan Alexa yang di perban pada punggung tangannya. Anggara tau apa yang terjadi, akan tetapi ia tak peduli. Toh, perjanjiannya dengan Alexa telah berakhir. Sebab itu, tak ada lagi alasan bagi Bagas untuk berhubungan lagi dengan Alexa.


"Theo, ikut pulang, sekarang!" ajak Anggara pada cucu palsunya itu. Anggara yang sudah tau status Theo yang sebenarnya, mendadak merubah sikapnya kepada Theo. Terlihat dari nada bicaranya yang keras tanpa kelembutan. Biasanya, Anggara akan memanjakan Theo. Bahkan panggilannya terhadapnya pun berubah.

__ADS_1


Ajakan Anggara justru mendapat gelengan cepat dari Theo. Anak sekecil itu mampu melihat gelagat dan aura yang lain dari sosok pria paruh baya yang biasa ia panggil dengan sebutan kakek Giganoto itu.


"Jika kau tidak ingin ikut. Ya sudah! Tinggal saja di sini!" bentak Anggara yang mana hal itu membuat Theo menjangkit kaget lalu menangis.


"Jangan membentak putraku!" ujar Bagas kesal. Bagaimana pun ia tak terima. Walaupun yang melakukan hal itu adalah papanya sendiri.


"Dia bukan putramu!"


"Papa!"


Alexa segera menunduk dan menutup kedua telinga Theo. Ia harap, balita di depannya ini tidak mendengar apapun yang di teriakan oleh Anggara.


"Apa peduliku! Dia bukan cucuku! Entah dari benih mana ia tumbuh. Barangkali dari musuh yang selama ini menyusup sebagai pengikutku." Anggara terus saja berkata dengan nada sarkas dan emosi yang siap meledak.


"Lex, tolong bawa Theo ke kamar," titah Bagas. Tentu saja permintaannya itu segera diangguki oleh Alexa.


"Berhenti di sana Alexa!" teriak Anggara, yang mana lantas membuat Alexa segera menghentikan langkahnya. Mau tak mau Theo digendong oleh Mey-Mey ke dalam kamar. Meskipun bocah itu menangis, namun Mey-Mey berusaha terus membujuknya.


"Anda sangat tidak sopan. Masuk dengan menembak pintu lalu berteriak terus di depan seorang anak kecil. Di mana tata krama anda sebagai seorang pemimpin dari puluhan perusahaan?" sindir Alexa yang sejak tadi merasa geram lantaran pria paruh baya yang masih terlihat gagah itu tidak menghargainya sama sekali.


"Sopan? Hah! Tentu saja tata krama ku tidak berlaku padamu." Anggara berkata dengan sejauh senyum remeh kearah Alexa. Hal, itu semakin membuat Bagas semakin meradang kesal.


"Jangan keterlaluan, Pa!"


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2