
🏹🏹🏹🏹🏹
"Iya sayang. Kenapa kau terbangun?" tanya Bagas lirih dengan mata yang setengah terpejam. Perasaan, ia baru saja tidur. Bagas, memeluk sambil menepuk-nepuk bokong Theo agar bocah itu tertidur lagi.
"Aunty!" Theo justru berteriak kencang dan menangis. Mendengar suara cempreng khas balita, Bagas pun membuka kedua matanya dengan paksa.
"Sayang, cup cup. Jangan berteriak, ini sudah malam," ucap Bagas berusaha mendiamkan Theo. Akan tetapi bocah itu semakin kencang menjerit seraya memukuli tangan Bagas yang memeluknya. Sepertinya Theo setengah melindur. Bagas pun menghela napas demi mengontrol emosinya. Bagaimana tidak kesal jika kau baru saja memejamkan mata dan terlelap tiba-tiba di bangunkan oleh jeritan bocah di tengah malam. Sungguh membuat Bagas yang akhir-akhir ini tidak bisa mengontrol emosinya mudah tersulut. Padahal sebelumnya ia adalah karakter yang jarang marah apalagi berteriak.
"Aunty di kamar sebelah sayang. Sudah ya, sama Daddy saja," bujuk Bagas, seraya mengulurkan tangannya untuk mengelus kepala Theo.
__ADS_1
" Tidak mau, Daddy! Bosan! Mau nya sama Aunty cantik! Huwaaaa ... aaaaa!" Theo menolak dengan keras. Bahkan bocah yang sebentar lagi ulang tahun kelima itu menendang dan mengenai rahang Bagas.
BLETAK!
Tendangan anak seusia Theo ternyata mantab juga, buktinya Bagas langsung mengeraskan rahang ambil memejamkan matanya. Pertanda pria itu masih berusaha menguasai emosinya. Ia tidak boleh marah, menghadapi anak kecil memang harus sabar. Iya kan?
"Sayang, hentikan tangisanmu. Nanti, Theo sesak lagi gimana?" Kali ini Bagas terdengar memohon, ia tidak enak jika harus membangunkan Alexa. Pasti, asistennya itu juga baru tertidur.
Semakin dibujuk Theo justru semakin tersedu-sedu. Cara menangis Theo semakin membuat Bagas khawatir. Anak itu akan sesak pada akhirnya karena, Theo mulai mengejang bukan berteriak lagi. "Ya Tuhan. Anak ini!" Bagas meremas rambutnya. Ia sedih dan bingung. Meskipun ini bukan pertama kali Theo mengamuk tengah malam. Dulu, anaknya itu kerap seperti ini tatkala merindukan Yukia. Namun, akhir-akhir ini Theo seakan telah melupakan kehadiran Yukia. Ia lebih bergantung pada Alexa.
__ADS_1
"Baiklah, sekarang kita jemput aunty di kamar sebelah ya. Yuk sini, Theo Daddy gendong." Bagas akhirnya menyerah dari pada nanti Theo kenapa-kenapa. Ia menjulurkan tangannya hendak menggendong bocah bertubuh padat ini. Theo tidaklah gemuk tapi padat berisi dengan kedua pipi yang putih dan chubby. Mata hitam dengan bulu lentik dan alis yang tebal. Sejak kecil saja sudah sangat tampan. Membuat siapapun akan dengan mudah gemas dan jatuh cinta padanya. Theo selalu mudah mendapat perhatian dari orang yang bahkan baru melihatnya. Sayang, Yukia tidak bisa mencintainya dengan tulus dan sewajarnya. Entah terbuat dari apa hati wanita yang sudah menjadi ibu itu.
"Sekarang Theo-nya jangan nangis. Nanti, malu kalau di lihat sama aunty cantik. Masa Theo kesayangannya tidak tampan melainkan jelek karena penuh ingus di wajahnya," bujuk Bagas. berusaha membuat sang putra menghentikan tangisnya. Benar saja, Theo langsung terdiam bagai radio di on off kan.
"Anak baik. Sini lap dulu air mata sama ingusnya " Bagas mengambil tisu untuk menyeka wajah basah Theo. Sekarang, bocah itu telah ada di dalam gendongannya. Kakinya berhenti melangkah, ketika keduanya telah sampai di depan pintu kamar Mey-Mey.
Tok! Tok! Tok!
...bersambung...
__ADS_1