
🏹🏹🏹🏹🏹
Lengkingan kencang keluar dari mulut Lou yang juga mengeluarkan darah. Karena dirinya berkali-kali mendapatkan pukulan serta tendangan dari orang suruhan Anggara.
"Lebih baik ... bunuh saja diriku ini!" teriak Lou sambil bergetar menahan sakit di sekujur tubuhnya. Apalagi luka tembakan di bagian perut dan juga bahunya. Baru saja dikucuri air cuka. Tidak bisa dibayangkan bagaimana rasanya penderitaan yang di alami oleh Lou.
"Mau mati? Baik! Aku kabulkan. Tapi, secara perlahan!" Anggara menarik kencang rambut Lou hingga kepala mantan asistennya itu mendongak. Napasnya tersengal-sengal, kedua matanya sebentar terbuka kadang terpejam. Napasnya terasa sesak. Darah yang keluar dari tubuhnya sejak tadi membuat raganya lemas saat ini.
"Manusia brengsekk sepertimu, tidak bisa mati secepat itu!" Anggara semakin kencang menjambak rambut Lou. Pria yang kedua tangannya di bentang karena terikat rantai di tiang, menyeringai remeh. Dalam keadaan lemah, Lou masih saja berani menantang kemarahan Anggara. Sengaja memancing agar pria tua itu langsung menghabisinya. Lou sudah tidak kuat menerima siksaan demi siksaan yang di berikan.
"Heh, kau memancing amarahku, huh!" Anggara menubrukkan kepala Lou tepat ke tungkai kakinya.
DUGH!
Cairan berwarna merah lekat mengalir dari hidung Lou yang sekiranya remuk itu. Kini, wajah tampannya sudah tak berbentuk lagi. Keadaan yang begitu lemah, Lou tidak mampu lagi untuk berteriak. Hanya erangan berat dan pelan yang keluar dari mulutnya.
"Apa dia sudah mau mati?" tanya Bagas, akhirnya dia bersuara juga. Sejak tadi Bagas terkesiap dan kaget. Baru kali ini ia melihat langsung cara kerja sang, Papa untuk memberi pelajaran kepada para penghianatan. Pantas saja, di dalam ruang bawah tanah itu begitu banyak tonggak besok dan juga rantai.
Jadi, selama ini Anggara memberi hukuman langsung pada musuhnya. Pantas saja, Anggara tidak pernah mau berurusan dengan polisi. Selalu mengatakan Biar diselesaikan sendiri dengan caraku! begitulah biasanya sang papa berkilah. Jika para dewan direksi ingin melaporkan pelaku kecurangan pada perusahaan ke polisi. Menurut Anggara, nyawa di bayar nyawa. Penjahat tidak perlu di kurung tapi di habisi agar tak bertunas.
Berapa banyak penjahat yang semakin jahat ketika keluar dari tahanan rumah jeruji itu. Anggara beranggapan bahwa dirinya membantu membersihkan dunia dari cikal bakal penjahat baru nantinya.
"Hanya pingsan! Kau bahkan tidak bisa membedakan!" sarkas Anggara pada Bagas." Kalian, siram dia dengan air!" titah Anggara kemudian. Salah satu anak buahnya langsung menyiram Lou dengan seember air.
__ADS_1
Byyyyuurrrrr!
"Hah!" Lou terlihat gelagapan saat seember penuh air menerpa wajahnya. Bahkan, air yang menyusup masuk lewat hidungnya membuat ia terbatuk-batuk dan sesak.
"Uhuk. Uhuk!"
'Ku pikir aku sudah mati. Tamat sudah riwayatku, karena kebodohan wanita itu. Gagal total rencana yang ku bangun. bertahun-tahun. Anggara Gustavano, kali ini kau beruntung. Akan tetapi, aku yakin jika kehadiran anak itu akan sangat menyiksa kalian.' batin Lou yang tak ada sesal sama sekali. Sebuah seringai masih sanggup ia tampilkan, membuat satu tamparan melayang ke wajahbya.
PLAK!
"Jangan memunculkan wajah itu di hadapanku! Sepertinya siksaan ini masih kurang. Belah perut dan juga bahunya untuk mengeluarkan peluru!" titah Anggara yang kemudian dihentikan oleh Bagas.
"Stop! Hentikan kegilaan ini, Pa!" seru Bagas yang tak habis pikir jika Anggara adalah seorang pria yang kejam.
"Pa! Apa kau sudah gila! Bukan begini caranya membalas semua kelakuan Lou!"tahan Bagas, seraya memegang erat pergelangan tangan Anggara. Sebab, sang papa hendak mengambil pisau untuk ikut menyayat luka di tubuh Lou. Bagas melihatnya saja sudah merasa ngeri dan jijik.
"Setidaknya jangan mengotori tanganmu sendiri." Anggara membanting pisau yang telah berada di genggaman tangannya dengan keras. Gerahamnya saling beradu tanda geram. Sorot matanya tajam menatap raga menggantung yang masih saja memiliki tenaga dan daya untuk meledeknya.
"Buang saja ke penangkaran piranha! Ingat untuk mengikat tangan dan juga kakinya. Juga, lepas semua pakaiannya." Bagas berucap tegas tanpa sedikitpun melihat ke arah Lou.Membuat pria yang sudah terluka sangat parah itu menggeram. Ternyata, Bagas dan Anggara sama saja, pikirnya.
"Arrgg!" Lou mencoba berontak ketika para pengawal itu melucuti semua pakaiannya.
Bagas memerintah lagi untuk menutup mulutnya Lou. Suara jeritannya sangatlah berisik.
__ADS_1
Kini tubuh telanjang Lou telah berada di lantai. kedua tangan dan juga kakinya terikat kencang. Ia di bawa menggunakan mobil Box. Raganya dilempar dengan keras.
BRUUKK!
Lou tidak bisa mengumpat, mulutnya disumpal. Raganya kedinginan, luka tembak pada perut dan bahunya masih mengeluarkan darah pekat berbau anyir.
Tak lama kemudian mobil itu sampai di penangkaran buaya milik salah satu pengusaha tas dan sepatu kulit. Para pengawal benar-benar hendak melemparkan raga Lou ke dalam danau buatan yang mana terdapat banyak buaya itu.
"Hei ... Hei! Jangan lakukan itu! Akh!" teriak Lou melengking ketika dia diseret menggunakan tali tambang.
"Aku kaya! Mari kita buat penawaran!" Lou berkata serius sambil harap-harap cemas.
______
"Apa kita harus pergi saat ini juga, Lex?" tanya Mey-Mey yang heran melihat Alexa menyiapkan koper besar lantas memasukkan beberapa barang penting kedalamnya.
"Kapan lagi, sebelum mereka membawa Theo dan melampiaskan dendam padanya. Aku tidak ingin Theo yang menerima segala imbas dari kejahatan yang tidak ia lakukan. Bahkan dirinya tau juga tidak masalah ini. Aku yakin, mampu membesarkannya. Theo anak yang pintar, aku tidak akan kesulitan." Alexa menjawab satu pertanyaan Mey-Mey dengan jelas dan lugas. Meskipun begitu, kedua tangannya dengan cekatan memasukkan barang-barang yang wajib di bawa dalam misi kabur tanpa jejak ini.
______
"Kami tidak bisa di suap! Nikmati saja kencan dengan buaya. Siapa tau ratu buayanya lagi horni !" ledek salah satu orang suruhan Anggara yang kemudian di sambut gelak tawa oleh yang lainnya.
"TIDAK!" teriak Lou yang telah dilempar kedalam penangkaran buaya lapar.
__ADS_1
...Bersambung ...