
🏹🏹🏹🏹🏹
"Ho, kau bahkan sudah berani membelanya. Apa kau jatuh cinta sungguhan pada asisten pribadimu ini? Wanita suruhanku? Betapa mudahnya kau mengobral perasaanmu Bagas!" cerca Anggara. Seringai remeh terus menghiasi wajah tuanya yang terdapat hanya sedikit keriput itu.
"Bagas bukan membelanya, Pa. Hanya saja, aku tidak menyukai apa yang Papa lakukan di tempat tinggal orang lain. Siapapun dia. Hargailah, orang lain. Dengan begitu orang lain juga akan menghargai kita, Pa," jelas Bagas tenang. Ia menahan emosi dan menekan nada bicaranya. Tidak mau terlihat ribut di hadapan orang lain.
Meskipun sebenarnya ia dan sang papa juga tidak pernah sejalan. Sering beradu argumen sejak dulu. Anggara adalah seorang diktator dan Bagas tidak bisa menerima perintah yang tidak sesuai dengan hatinya.
Bagaimana dirinya mau mengatakan dan meminta izin untuk menjadikan Alexa sebagai mm mommy baru untuk theo. Melihat bagaimana pandangan Anggara pada Alexa telah membuatnya ragu. Terlebih lagi, Anggara sekarang telah tau siapa Theo yang sebenarnya. Bagas sebenarnya telah menduga. Cepat atau lambat sang papa pasti akan tau. Sebab, telinga Anggara itu banyak dan tersebar di mana-mana.
Bahkan, kemungkinan besar sang papa telah tau siapa ayah biologis Theo. Sebab, tim investigasi Anggara lebih hebat ketimbang dirinya.
__ADS_1
"Jangan mengguruiku! Seharusnya kau berpikir, bahwa apa yang telah kau lakukan ini akan berimbas pada karirmu di perusahaan. Kau pasti tau, jika mata media tersebar dimana-mana. Lalu, apa kata para relasi kita jika di saat Yukia terbaring di rumah sakit kau justru hidup seatap dengan sekretaris mu!" sarkas Anggara seketika membuka pikiran Bagas. Ya, dirinya terlalu menggampangkan situasi. Ia telah menggunakan perasaan lebih banyak ketimbang logikanya. Seharusnya, ia mempercepat konferensi pers untuk mengutarakan pada awak media akan statusnya saat ini yang sudah menjadi duda.
Tentu saja, di balik tindakan anarkisnya. Anggara pasti telah menangkap issue tersebut serta telah lebih dulu membungkamnya. Lagi-lagi, kuasa dan uanglah yang mampu membuat segalanya menjadi semudah membalik telapak tangan.
"Bagas akan segera menggelar konferensi pers untuk mengumumkan status baru. Papa tidak perlu cemas, Bagas jamin hal ini tidak akan berimbas pada nama baik perusahaan juga Papa," ucap Bagas tegas.
"Inilah, satu hal yang membuatku ragu menyerahkan seluruh tampuk kekuasaan padamu. Kau selalu mengedepankan perasaan ketimbang logika. Cara berpikirmu itu menandakan bahwa kau hanyalah laki-laki yang lemah!" sarkas Anggara lagi. Menekan harga diri Bagas semakin dalam. Sejak dulu, Anggara memang tidak pernah mengakui apapun kerja kerasnya. Setiap kredibilitas Bagas selalu akan dibandingkan dengan dirinya. Seorang Anggara yang selalu merasa benar dan paling sempurna dari pria manapun di dunia. Merasa paling berdedikasi, merasa setiap gagasannya harus di jalani. Seorang diktator yang tidak pernah memikirkan perasaan orang lain.
Ia mampu berdiri di atas kakinya. Tanpa sepengetahuan Anggara, dirinya telah membuat sebuah perusahaan kecil yang di mulai dari nol. Semua berasal dari hasil jerih payah dirinya sendiri. Bagas, mengatasnamakan perusahaan itu bukan sebagai keturunan dari keluarga Gustavano. Akan tetapi menggunakan sebuah nama lain, yang ia impikan sebagai nama seorang anak perempuan. Sebab, Bagas menginginkan seorang anak perempuan sejak lama. Akan tetapi, Yukia selalu menolak untuk hamil lagi.
"Apa kau menantang ku. Akan jadi apa kau diluar sama tanpa nama besar Gustavano! Kau tidak akan di pandang, kau akan diremehkan. Kau hanya akan dipandang sebelah mata oleh dunia dan seisinya," cibir Anggara begitu pedas untuk ukuran lidah seorang ayah. Sikapnya inilah, yang suka memandang rendah dan tidak menghargai kerja keras orang lain. Hal yang membuatnya banyak musuh, bahkan yang berasal dari relasinya sendiri. Mereka muak kemudian bersekutu untuk memberontak. Merencanakan kehancuran klan Gustavano. Bahkan, paman dan beberapa sepupu Anggara kurang cocok dengan sang papa.
__ADS_1
"Aku, akan menjadi diri sendiri. Tanpa embel-embel ataupun nama besar yang membuat bahuku terasa berat kala menanggungnya," jawab Bagas enteng. Sudah sejak lama ia ingin mengatakan serta mengungkapkan isi hatinya. Namun, selalu tidak tepat waktu dan situasi. Sekaranglah saat yang sangat pas menurutnya.
"Kau sungguh tidak tau diri. Aku mendidikmu dengan keras agar kau menjadi pria kuat dan tak mudah dikalahkan. Karena pengusaha yang lemah tidak akan bertahan!" pekik Anggara terlihat mulai di kuasai oleh emosi di hatinya. Ia sangat terpukul mendapat tantangan dari putra satu-satunya itu. Anggara berpikir, Bagas kan menurut kata-katanya. Ternyata semua diluar dugaannya. Bagas, tidak takut jika di buang dari klan Gustavano.
Melihat pertikaian antara ayah dan anak ini. Alexa refleks mendekati Bagas dan menyentuh tangannya. Seketika Bagas menoleh dan melihat gelengan pelan dari Alexa. Hal barusan tak luput dari perhatian Anggara. Membuat pria paruh baya yang masih gagah itu tersenyum getir. Anggara dapat melihat kekompakan dari keduanya. Sekali, lagi sang putra akan tunduk pada titah dan keinginan dari makhluk yang bernama wanita.
"Pulanglah, bawa Theo kembali!" Anggara mau tak mau menurunkan sedikit egonya. Ia tidak akan kembali membiarkan atau merelakan kendali atas putranya jatuh ke tangan wanita asing. Sekelebat rencana telah ia susun untuk menggagalkan kejadian yang akan merugikannya di masa depan.
'Kau sudah berani melanggar kode etik perjanjian antara kita Alexandria.'
...Bersambung ...
__ADS_1