Terpaksa Menggoda Suami Orang

Terpaksa Menggoda Suami Orang
TMSO. Bab 69. Hasil Lab Mengejutkan


__ADS_3

🏹🏹🏹🏹🏹


Bagas memutuskan untuk mengguyur wajahnya dengan air dingin di wastafel. Susah beberapa hari ini ia memimpikan hal buruk terjadi pada Alexa. Walupun, ia hanya tertidur sekerjap di atas meja kerjanya di sela istirahat. Sebab, kala malam Bagas tidak pernah bisa tidur nyenyak. Selalu saja ada yang ia rasa. Entah itu gatal, mual ataupun pusing. Bahkan, sudah beberapa hari ini ia selalu berkeliaran tengah malam demi mencari tukang sekoteng. Lalu Bagas akan memakannya di tempat pedagang itu berjualan. Barulah setelahnya ia akan bisa tidur. Tapi, sebelum fajar telah terbangun lagi lantaran mual dan pusing.


"Tony, apakah sudah ada tanda-tanda keberadaan Alexa dan putraku Theo?" tanya Bagas entah sudah yang kesekian kalinya. Tony bahkan hanya bisa memaklumi saja. Ia tau jika bos-nya itu hampir menjadi orang yang tidak waras. Bahkan, kantung di bawah matanya bagaikan lingkaran hitam yang berada dibawah mata panda.


"Persatu jam sekali tim akan mengabari update terbaru, Tuan. Baru dua puluh menit yang lalu tim mengabari kita. Masih ada waktu empat puluh menit lagi untuk kabar terbaru selanjutnya," jawab Tony selalu berusaha untuk bersabar fan tetap tenang. Meskipun sebenarnya, ia hampir ikutan kurang waras lantaran stress.


Brakk!


"Sebenarnya, dimana Azriel menyembunyikan wanita dan juga putraku!" Bagas menggebrak meja. Susah sepuluh kali ia lakukan di pagi ini saja. Sementara, meja kerjanya baru saja di ganti kemarin sore. Sebab, meja yang lalu telah terbelah dua akibat terlalu sering di gebrak dengan keras.


"Tuan, tenanglah! Saya tidak masalah jika mejanya rusak lagi. Tapi yang saya khawatirkan adalah tangan anda. Bagaimana jika nanti terkilir lagi?" ucap Tony mengingatkan. Sebab, telah beberapa kali juga Bagas kena di urut lantaran perbuatannya itu. Entahlah, sejak dokter mendiagnosis jika bos-nya ini mengalami kehamilan simpatik, maka sejak itulah Bagas tidak mampu mengontrol emosinya.

__ADS_1


Sangat kontras dengan Alexa, dimana sejak ia hamil perasaannya jadi begitu sensitif. Ia mudah sekali merasa sedih, merajuk, tersinggung dan menangis. Selalu, berpikiran negatif terhadap apapun maupun segala sesuatu. Alexa akan mudah gusar dan panik. Sangat berbeda sekali dengan karakteristik asli dirinya, yang tenang dan tak pernah terburu-buru.


Kini, ia terbaring lemah dengan selang transfusi yang terhubung melalui lengan. Kantung darah tersebut sudah hampir kempes, membuat perawat was-was. Pasalnya ini adalah persediaan terakhir dari rumah sakit. Sementara itu, Azriel yang lolos pemerikasaan merasa lega. " Ambil saja darah saya sebanyak mungkin, Dok!" ujar Azriel yang hanya diangguki dan diberi senyum ramah oleh perawat yang tengah menusukkan jarum pada pembuluh darahnya. Tak lama kemudian, aliran darah segar memenuhi kantung-kantung yang telah di sediakan. Setidaknya ada dua kantung darah berukuran 450ml. Sebab, pasien yang tak lain adalah Alexa membutuhkan banyak donor darah.


"Sudah selesai! Anda jangan bangun dulu ya. Sebab, darah yang diambil cukup banyak. Sebaiknya anda beristirahat dan perawat akan memberikan anda vitamin. Saya, permisi!" ujar sang perawat yang kemudian diangguki oleh azriel. Ia agak lemas dan sedikit pusing. Azriel memutuskan untuk menutup matanya sebentar setelah melihat perawat tersebut membawa kantung darah itu keluar. Alexa pasti akan baik-baik saja setelah ini, pikirnya.


"Bagaimana, Suster? Apakah, darahnya susah cukup?" tanya Mey-Mey sambil menggendong Theo yang tertidur.


Mey-Mey menoleh kala melihat Azriel datang dengan beberapa kantung makanan di tangannya. Jujur, perutnya sangatlah lapar. Sejak pergi mencari kado untuk sekedar menyenangkan Theo, Mey-Mey bahkan tidak ingat untuk sekedar mengisi perutnya.


"Terimakasih, Tuan," ucap Mey-Mey ketika menyambut pemberian dari Azriel.


"Apa kita perlu membangunkan Theo?" tanya nya. Kepalanya mendongak memperhatikan bagaimana bocah Lima tahun itu tidur meringkuk di atas kursi besi.

__ADS_1


Mey-Mey menggeleng sebab mulutnya penuh dengan isi roti. Tak lama kemudian seorang suster menghampiri keduanya. " Maaf, Tuan. Anda di tunggu di ruangan dokter," ucap sang suster. Azriel pun meletakkan kopi instan dalam botol yang barusan ia minum. Lalu, pamit pada Mey-Mey dan ikut mengekori suster tadi.


Sesampainya di dalam ruangan dokter yang dimaksud.


"Tuan, ini hasil lab tadi. Hasil kenapa golongan darah anda bisa cocok dengan pasien. Itu, karena kalian berdua memiliki hubungan darah. Namun, yang membaut saya heran kenapa anda tidak yakin dan meminta rumah sakit untuk mengecek lagi?" Sontak pernyataannya sekaligus pertanyaan dari dokter tersebut membuat Azriel terkesiap seketika, hingga napasnya tercekat dan membuatnya susah untuk menanggapi pertanyaan dari dokter tadi. Azriel sangat syok dengan kenyataan yang terjadi.


Apakah ini jawaban kenapa mata Alexa bisa begitu persis dengan pengasuhnya dulu?


...Bersambung...



Sambil nunggu up, mampir kesini ya gais.

__ADS_1


__ADS_2