
🏹🏹🏹🏹🏹
Sontak Alexa menatap tajam ke arah Bagas ,setelah ia mendengar alasan kenapa Theo sampai menangis seperti itu. Sementara Bagas sendiri, mendapat hujaman dari pandangan Alexa membuatnya hanya menaikkan alis tak mengerti.
'Kenapa Alexa menatapku seperti itu? Menyeramkan. Apa yang sudah anak itu ceritakan padanya.' Batin Bagas seraya memijat pangkal hidungnya pelan.
"Lalu, Theo kesini mau apa?"
" Menginap di rumah Aunty cantik,"
"Baiklah, karena hari sudah malam sebaiknya kita pulang sekarang," ajak Alexa kemudian.
"Tangan Aunty kenapa?" tanya Theo yang baru menyadari ketika Alexa menggandengnya menggunakan tangan sebelah kiri.
"Tidak apa sayang, jangan khawatir ya," kilah Alexa. Tidak mungkin juga kan jika ia mengatakan bahwa ibu dari bocah inilah yang menyebabkannya seperti itu.
"Aku akan menemani Theo sampai ia tertidur. Apa anda ingin tetap disini atau pulang?" tanya Alexa, yang sontak membuat kening Bagas mengernyit.
"Apa kau mengusirku?" sarkas nya.
"Lalu, anda mau menginap juga? Mau tidur dimana?" cecar Alexa penuh selidik.
"Tentu saja di kamar, menemani Theo anakku." Bagas menjawab dengan ketus. Entah kenapa rasanya kesal sekali mendapat pengusiran halus dari asistennya ini.
"Baiklah, aku akan mengatakan pada Mey-Mey agar ia tidur denganku dan Theo." Alexa berlalu meninggalkan Bagas yang mematung dengan wajah termangu. Bagaimana ceritanya? Bukan begini rencananya.
' Apa? Rencana apa? Aku tidak menyimpan rencana apapun! Jangan, mengada-ada!' Bagas merutuk dalam hatinya. Ia melangkah mengikuti Theo ke kamar Alexa. Dilihatnya bocah laki-laki itu tengah menggenggam gelas bergagang dengan isi susu coklat di dalamnya.
__ADS_1
"T-Rex. Sebaiknya tinggikan kepalamu ketika menyusu," ucap Bagas seraya menghampiri putranya itu. Theo hanya melirik sekilas, bocah itu nampak acuh. Kedua matanya tetap memandang benda persegi panjang menyala yang menempel di dinding kamar Alexa.
"Masih marah sama, Daddy?" Bagas bertanya seraya duduk di pinggir tempat tidur. Akan tetapi putranya itu langsung menggeser duduknya. Nampaknya, Theo benar-benar masih kesal dengan sikap Bagas tadi. Apalagi, Bagas terlalu kaku dan tak bisa mengambil hati bocah lelaki yang sifatnya suka merajuk itu.
Alexa menyembunyikan tawanya ketika ia melihat interaksi antara ayah dan anak itu. Ia yang telah berganti pakaian dengan piyama panjang. Melangkah mendekati sisi tempat tidur yang lain. Bagas sontak menegakkan tubuhnya. Entah kenapa dia menjadi tegang seperti ini. Padahal tadi dia yang minta tidur sekamar bertiga.
"Theo, sini sayang," Alexa memanggil Theo agar mendekat kepadanya, lantas Alexa merebahkan kepala bocah lelaki yang sudah terlanjur ia sayang itu keatas pangkuannya. Theo mendongak menatap Alexa, yang kemudian di sambut senyum olehnya.
"Theo kenapa marah sama Daddy? Boleh, Aunty tau tidak? Sebab, Aunty tidak suka jika ada orang yang marahan di sekitar Aunty," cecar Alexa mencoba menjadi penengah di antara keduanya.
Sebelum menjawab, Theo melirik sebentar ke arah Bagas. Membuat Bagas menelan ludahnya kasar. Ia menyadari bahwa kesalahan terletak pada dirinya.
"Tadi di mobil, Theo main game. Lalu, Daddy terus berbicara dan bercerita. Theo sudah menjawab. Tapi, Daddy tetap marah," ucap Theo seraya memeluk perut Alexa. Posisi putranya itu membuat Bagas memutar duduknya. Tadinya ia terus memperhatikan keduanya, tapi sekarang ia melempar pandangannya ke sembarang arah.
"Marahnya seperti apa? Boleh Aunty tau?" tanya Alexa lagi, sebab ia harus tau bagaimana kronologinya. Sebelum ia menasihati keduanya pria tampan di dalam kamarnya ini.
"Theo ... Daddy--" Bagas menghentikan ucapannya ketika Alexa memberi kode dengan telunjuk yang menempel di bibirnya.
"Theo, tau alasan kenapa Daddy bisa semarah itu?" tanya Alexa lagi, memancing perasaan Theo. Benar saja, bocah berpipi gembul itu mengangguk lemah.
"Apa itu? Sebutkan."
"Theo, tidak mendengarkan dengan baik perintah Daddy. Sebenarnya ... Daddy telah memperingatkan, Theo tadi." Theo sesekali melirik kearah Bagas dengan sedikit menolehkan kepalanya.
"Sekarang, Theo tau kan penyebab Daddy marah. Semua itu lantaran, Daddy menyayangi Theo dan ingin waktu kebersamaan kalian yang langka ini berkualitas. Hanya saja, pria es batu itu tidak bisa mengungkapkan dengan benar apa yang ia rasa dan ia inginkan. Jadilah, semua itu terkesan jika Daddy membentak Theo. Padahal, jauh di lubuk hatinya. Terbersit penyesalan yang teramat dalam. Melihat Theo sedih, Daddy adalah orang pertama yang terluka dan juga ikut sedih. Melihat Theo tertawa bahagia, maka Daddy juga adalah orang pertama yang juga ikut bahagia. Nah, Theo sudah paham kan maksudnya Aunty?" tutur Alexa. Sambil mengusap punggung dan kepala Theo yang masih setia menunduk. Seketika bocah lelaki nan tampan itu mendongak untuk menatap Alexa. Lalu ia, menoleh ke arah pria dewasa yang juga ternyata tengah melihat kearahnya.
"Maafkan, Daddy ...," lirih Bagas seraya menjulurkan tangannya. Ia sungguh menyesal jika perkataan serta perbuatannya tadi ternyata sangat menyakiti hati putranya itu.
__ADS_1
GREP!
Theo tidak meraih tangan Bagas yang terulur, ia justru berdiri dan langsung memeluk tubuh Bagas. "Maafkan, T-Rex, Dad." Theo melingkarkan kedua tangannya di leher Bagas kemudian mendekapnya erat. Begitupun dengan Bagas. Ia menyusupkan wajah di bahu kecil putranya. Menghirup aroma bayi yang melekat di tubuh Theo. Sebab, Alexa telah mengganti seluruh pakaian putra kesayangannya ini dengan piyama tidur.
"Daddy juga minta maaf. Daddy janji, tidak akan mengulangi hal itu lagi. Tidak akan membentak Theo lagi. Daddy, akan belajar untuk berusaha berkata dengan nada rendah padamu," ucap Bagas lirih. Theo menarik pelukannya hingga ia dapat menatap wajah tampan sang Daddy.
"Daddy, tidak akan melakukan kesalahan jika, Theo menurut sejak awal. Jadi, semua kesalahan ini karena Theo, bukan Daddy," ucapnya dengan wajah yang basah.
Bagas mengulurkan tangan untuk mengusap air mata dipipi gembul putra menggemaskannya itu. Bagaimana dia tidak sayang, telah memiliki anak setampan dan juga sepintar ini. Bagas tidak perduli siapapun ayah biologis Theo nanti. Bagaimana pun caranya, ia akan tetap mempertahankan sang putra agar tetap bersamanya.
Tak terasa air matanya luruh tatkala membayangkan nasib putranya. Sejak kecil Theo memang kurang kasih sayang dari Yukia. Theo juga kurang perhatian dari dirinya, sebab itu dia melampiaskannya melalui game. Sebenarnya, Theo itu kesepian. Salahnya yang lebih dulu memberikan gadget itu untuk anaknya. Berharap agar Theo tenang dan diam di rumah. Ternyata, ia salah langkah. Justru, secara perlahan dirinya tengah menjerumuskan sang putra. Hubungan mereka malah semakin jauh dan hambar.
"Kesalahan terletak pada, Daddy sayang. Sebab, Daddy-lah orang tuamu. Seharusnya, Daddy bisa lebih dewasa dan bijak dalam menghadapi mu. Seharusnya, Daddy bisa lebih mengerti kebutuhanmu. Maafkan, Daddy--" Bagas tak kuasa menahan gejolak di dadanya lagi. Ia pun menarik tubuh Theo membawanya kedalam pelukannya erat.
Alexa tak tahan lagi, melihat hubungan ayah dan anak yang begitu dekat ini. Ia menghapus sudut matanya yang sejak tadi meluruhkan kristal bening tiada henti. Theo lebih beruntung ketimbang dirinya, yang mana sejak kecil tidak pernah merasakan di peluk seorang ayah.
Bahkan, Alexa besar karena sang nenek yang bukanlah keluarga kandungnya. 'Nek Pilu ... bagaimana keadaanmu?' Batin Alexa, mendadak teringat pada seorang wanita tua renta yang kini sakit-sakitan.
Tanpa sengaja Alexa dan Bagas bertemu pandang. Kedua iris pekat mereka bertabrakan. Mereka pun terdiam, seakan terjebak hipnotis yang memabukkan keduanya. Ada gelenyar aneh yang merasuk kedalam hati Bagas dan Alexa. Menciptakan secara tidak sengaja sebuah senyum tulus yang terukir di wajah mereka.
"Terimakasih." Bagas berucap tanpa suara ke arah Alexa. Membuat senyum itu semakin lebar merekah di wajah cantik natural Alexa. Ia pun mengangguk pelan. Seraya memberi kode pada Bagas untuk meletakkan pelan tubuh Theo yang telah tertidur ke atas kasur.
"Aku ingin bicara denganmu," bisik Bagas.
"Baiklah, aku tunggu di balkon," sahut Alexa dengan berbisik pula.
...Bersambung...
__ADS_1