Terpaksa Menggoda Suami Orang

Terpaksa Menggoda Suami Orang
TMSO. Bab 60. Perhatian Penuh Selidik


__ADS_3

🏹🏹🏹🏹🏹


Mey dan Azriel menatap kearah dimana Alexa menghilang dengan perasaan aneh serta heran. Dua prasangka berbeda mampir di benak keduanya.


"Lu gapapa, Lex ?" tanya Mey-Mey sesampainya Alexa kembali ke meja makan sebuah restoran. Dimana, Azriel membawa mereka untuk mentraktir makan malam.


"Aku gapapa kok." Alexa memasang senyumnya agar sahabatnya ini tidak berpikiran macam-macam. Walaupun sebenarnya, hati dan pikiran Alexa berkecamuk akan satu hal kemungkinan. 'Seluruh tubuhku terasa sakit, kepala dan tengkuk begitu berat. Bahkan, bagian depan dadaku sangat kencang. Aku baru ingat, semenjak malam itu, bersama Bagas. Aku belum datang bulan sampai sekarang.' batin Alexa cemas. Namun, ia menyembunyikannya.


Merutuki dirinya sendiri, kenapa pada saat itu tidak menggunakan tameng untuk menangkal hal yang mungkin terjadi ke depannya. 'Kau bodoh Alexa. Tak bisa kau pungkiri kejadian itu, berlandaskan napsu birahi-mu juga. Sehingga hal itu menutupi ketelitian dan kewaspadaan mu.


Alexa berupaya tenang menanggapi praduga-nya. Sesekali ia merapikan rambut Theo yang menjuntai ke depan dahi bocah menggemaskan itu. Theo, mengunyah ayam mentega-nya dengan lahap. Anak itu, belajar mandiri dan bahkan jarang merengek seperti biasanya. Sekecil itu, Theo sudah paham menempatkan dirinya.


"Minum, jus mu sayang," titah Alexa seraya menyodorkan gelas tinggi berisi jus tomat dan wortel itu. Tanpa membantah, Theo pun meminumnya. Kedekatan keduanya tak lepas dari pandangan Azriel. Pria itu tersenyum melihat sifat keibuan dari Alexa.


'Kau sangat cocok menjadi seorang ibu, begitu penyayang dan lembut. Penuh perhatian bahkan pada hal terkecil sekalipun. Seorang pria yang mampu memperistri mu pasti akan sangat bahagia hidupnya. Semoga itu aku, Alexa. Bahkan, aku merasa seakan bibu kembali bersamaku.' batin Azriel.


"Setelah ini, kalian akan kemana?" tanya Azriel pada Alexa tentu saja. Bahkan sejak tadi binar matanya tak lepas menatap wajah cantik yang meneduhkan itu dalam setiap tingkah lakunya. Mau Alexa sendawa atau bersin sekalipun, tetaplah menarik dan sayang untuk di lewatkan dari pandangan, bagi Azriel.


"Kami, berencana mencari penginapan yang murah. Setelah itu, mencari tempat tinggal sementara. Lalu, aku dan Mey-Mey akan mencari pekerjaan," jelas Alexa runut. Entah kenapa ia jujur begitu saja ketika berbicara di depan Azriel.


"Jadi, kalian belum ada tempat tinggal? Ku pikir kalian hanya ingin sebatas liburan atau apa di kota ini," ucap Azriel semakin penasaran.

__ADS_1


"Tidak, Tuan. Aku sudah tidak bekerja di perusahaan Vi-Gen. Kami ingin mengembangkan karir di tempat yang baru," dalih Alexa. Membuat Azriel semakin merasa jika ada yang tengah di sembunyikan dari wanita cantik di sampingnya ini.


"Tempati saja rumah bekas mami-ku. Kebetulan, saat ini kosong. Biasanya ada yang menyewa. Bukan karena kami butuh uang, tentu tidak. Hanya saja, agar rumah itu ada yang merawat. Kau tau kan, rumah kosong akan cepat rusak," tutur Azriel lagi menawarkan sesuatu yang sangat dibutuhkan Alexa dan dua orang di hadapannya ini.


"Tapi--"


"Tidak ada tapi-tapian. Nanti, buat lah CV lamaran. Kau masih ingat kan akan tawaranku?" potong Azriel kemudian bertanya satu hal pada Alexa. Hal yang pernah ia tawarkan sejak pertemuan pertama keduanya.


"Ah, itu ... apakah masih berlaku?" tanya Alexa menegaskan.


"Tentu saja, kau Bahkan tinggal sebut saja gaji-mu. Ah ya, jika kau setuju. Kita bisa atur keberangkatan kalian ke Mesir." Azriel berkata dengan binar dan senyum yang tak lekang dari wajahnya.


"Apa! Mesir!" Kaget ketiganya serempak.


"Apa pengurusan surat-surat nya akan sulit dan lama?" tanya Alexa. Ia seakan mendapatkan angin segar. Tentu saja, Bagas tidak akan menemukan keberadaannya jika ia ikut dengan Azriel ke negara Piramida itu. Tapi, apakah Alexa dapat mempercayai pria ini sepenuhnya. Hanya saja, Alexa merasa ada hal besar yang akan terjadi keduanya. Di sisi lain hatinya, Alexa merasa ia seperti menemukan sebuah oase, entah itu perasaan apa.


"Kau tenang saja. Dengan kekuasaan dan uang. Apa yang tidak bisa diatur sesuai kemauan? Aku bahkan memiliki saudara dari papi di kedutaan," jelas Azriel dengan senyum terkembang. Ia yakin jika Alexa tidak akan menolak tawarannya. Wanita incarannya ini tengah menghindari sesuatu atau bahkan seseorang. Azriel paham itu. Tak peduli apa masalahnya, yang penting keinginannya untuk merekrut Alexa dan membuat wanita itu semakin dekat padanya, sebentar lagi akan menjadi kenyataan indah.


"Mey-Mey, Theo sayang. Apa kalian setuju, kalau kita ikut tuan Azriel ke negaranya?" tanya Alexa pada dua orang di hadapannya, yang mana sejak tadi hanya menyimak saja.


"Theo akan ikut kemanapun Aunty pergi," jawabnya yakin dengan anggukan cepat. Membuat Mey-Mey mengelus kepala anak itu dan ikut mengangguk dengan senyum penuh keyakinan.

__ADS_1


"Mereka sudah setuju, aku pun begitu. Maka, bawa kami Tuan," ucap Alexa yakin.


"Panggil aku dengan sebutan lain, tapi jangan tuan. Aku merasa seperti tirani." Spontan ucapan Azriel barusan di sambut gelak tawa oleh ketiganya.


"Lalu, aku harus memanggil apa. Anda kan memang akan menjadi tuanku," sanggah Alexa. Meski kekehan kecil itu masih tersisa membuat Azriel semakin gemas saja.


'Melihat tawa dan senyummu. Hatiku menghangat, kau benar-benar mirip dengan bibu.' batin Azriel bahagia. Pria tampan bertubuh tegap itu seakan menemukan sesuatu yang hilang di dalam hidupnya yang sepi dan dingin.


"Ugh! Maaf, aku ke toilet sebentar!" seru Alexa seraya pergi dengan langkah cepat. Ia kembali ingin memuntahkan isi perutnya setelah meminum jus alpukat.


"Ingatkan aku, untuk membawanya ke rumah sakit," ucap Azriel pada Mey-Mey.


Sementara itu di tempat berbeda.


"Pak Bin! Pak Bin!" panggil Bagas yang saat ini merebahkan tubuh lemas nya di sofa. Bahkan sepatu belum ia lepas dari kakinya. Tidak seperti biasa. Jika setiap masuk rumah Bagas akan melepas sepatu lalu meletakkannya di rak khusus samping pintu.


"Ada apa, Tuan." Pelayan berusia matang dengan sedikit rambut putihnya itu menghampiri Bagas dengan tergopoh-gopoh.


"Buatkan aku minuman jeruk peras, tapi dengan panas. Kepala ku pusing, Pak Bin. Perutku juga seakan diaduk-aduk," adu-nya pada pelayan yang sudah melayani keluarganya selama puluhan tahun. Terhitung sejak ia terlahir ke dunia.


"Baik, Tuan. Apa ada lagi? Apa anda mau makan kudapan juga?" tanya Pak Bin yang terlihat agak merendahkan tubuhnya ketika berbicara dengan majikannya.

__ADS_1


"Aku ingin yang asam-asam. Mungkin, kau bisa membuatkan juga salad buah dan empek-empek kuah cuka," ucap Bagas pada Pak Bin, yang mana sontak membuat dahi pria paruh baya itu mengkerut mikir.


...Bersambung ...


__ADS_2