
"Aku hampir saja tertangkap polisi! Sekarang, mana bayaranku!" pinta Leo pada Mikita. Pemuda itu menagih sesuatu yang dijanjikan pada nya, oleh wanita yang menawarkannya kerja sama dalam kebusukan dan kelicikan.
"Hei, kau kan sudah menikmati tubuh Alexa. Untuk apa menagih uang lagi padaku!" protes Mikita. Ia tak mau mengeluarkan lagi uang dari dompetnya.
"Enak saja kau! Aku bahkan belum sempat untuk sekedar menciumnya. Polisi sudah keburu menyerbu. Untung saja aku dapat kabur berkat keahlian beladiri ku. Sekarang aku pasti masuk dalam daftar pencarian orang. Karenanya aku butuh uang untuk melarikan diri!" paksa Leo, bahkan ia berusaha menarik tas selempang yang dikenakan oleh Mikita.
"Hei! Itu urusanmu ya. Bukan lagi urusanku! Aku sudah mengeluarkan uang banyak untuk membayar anak buah mu itu!" tolak Mikita. Maka tejadilah tarik menarik antara dirinya dan juga Leo. Mendapat penolakan membuat Leo kesal bukan main.
"Jadi, kau mau memperalat ku ya Tante menor!" bentak Leo sambil menyentak tas dalam pegangan Mikita, sampai tali tas mahal itu putus. Leo pun mengeluarkan isinya yaitu sebuah dompet. Akan tetapi hanya ada sedikit uang tunai. Membuatnya teramat kesal.
"Tas sih boleh branded. Tapi tidak ada uangnya! Dasar kau!" Leo yang kesal karen hanya menemukan uang beberapa lembar saja. Kini ia menarik paksa kalung yang menjuntai di leher Mikita membuat wanita itu memekik kesakitan.
"Hei, kenapa kau ambil kalung berlian ku!" teriaknya seraya mengambil kembali dari tangan Leo.
"Ini baru cukup. Sini ponselnya juga. Lumayan buat modal di luar kota. Persetan dengan Nek Lilu. Dia juga tidak pernah sayang padaku," gumam Leo dengan seringai iblisnya. Ia pun menyambar ponsel milik Mikita. Membuat wanita itu geram dan mengambil vas bunga.
Prakkk!!
Leo menangkis benda tersebut dengan lengannya, membuat Vas bunga melayang dan menabrak dinding hingga pecah berhamburan di lantai kamar. Karena Leo memang menghampiri Mikita di kamar kost mewahnya.
"Kau berani bertindak kasar padaku ya. Jangan salahkan aku kalau begitu." Leo memasang seringai buasnya. Menatap nyalang pada tubuh Mikita yang memang mengenakan pakaian kurang bahan itu.
"Apa yang ingin kau lakukan! Bocah berengsek!" Mikita berusaha untuk berontak karena Leo berusaha berbuat kurang ajar padanya.
"Tentu saja aku akan memakan mu sebelum aku melarikan diri. Kau yang memulainya, maka nikmatilah!" ujar Leo yang telah melempar tubuh setengah bugil Mikita keatas tempat tidur.
"Jangan mimpi kau bocah! Meskipun kau tampan, tapi kau bukanlah tipeku!" pekik Mikita lagi, seraya terus meronta dari kungkungan Leo.
__ADS_1
"Kau benar-benar membuat ku tersinggung, Tante menor! Lihat saja, akan kutunjukkan keperkasaan ku!" Leo pun menarik ikat pinggangnya kemudian menjadikannya alat untuk mengikat kedua tangan Mikita di ujung tempat tidur itu.
"Lepaskan aku bocah sialan! Kau sudah menghina dan melecehkan ku! Pergi sana, kau bawa saja semua uang dan harta bendaku! Tapi jangan kau jamah tubuh berhargaku ini!" teriak Mikita. Ia baru saja mengeluarkan uang banyak demi sebuah operasi pada selaput di daerah daranya. Ia telah berencana untuk memikat dan memuaskan Bagas dengan itu semua.
Ia sungguh tidak rela jika yang mendapat nya adalah bocah kemarin sore, yang tak bisa memberikannya apa-apa. Karena Leo hanya bocah miskin, meskipun posturnya memang tampan dan gagah.
"Lepaskan aku bocah sialan!" Mikita terus berteriak meskipun kedua tangan dan kakinya tak dapat bergerak. Ia terus mengumpat dalam hati ketika Leo telah melucuti semua pakaiannya. Apalagi ketika Leo tengah menikmati tubuh bagian atasnya. Mikita hanya bisa mengeram karena aksi Leo perlahan mampu membuainya. Ia pasrah, karena sudah tak mampu lagi melawan. Hanya bisa mencaci dan memaki, akan tetapi Leo abai akan itu semua.
"Kau tidak buruk Tante. Tubuhmu masih sangatlah bagus. Sama saja rasanya ketika aku menyentuh salah satu murid ku yang masih perawan itu," ucap Leo seraya memposisikan senjatanya.
"Bagaimana bisa sebesar itu? Kau kan masih bocah?" heran Mikita. Bahkan ukuran yang ia lihat di depan matanya ini di atas rata-rata.
"Makanya Tante. Jangan suka mengecilkan bocah kecil ini. Aku bahkan bisa membuatmu menjerit ketagihan!" pekik Leo seraya menekan kuat gerbang kenikmatan dunia.
"Akh!" Mikita melentingkan tubuhnya keatas, saat gawangnya di bobol oleh sebuah serangan kuat pemuda yang menguasainya itu. Setelahnya, ia hanya bisa mengeluarkan suara-suara laknat yang semakin membangkitkan gelora Leo.
"Jadilah simpanan ku saja. Kau jangan pergi Leo!" gumam Mikita yang masih dapat di dengar oleh Leo sehingga membuat pemuda itu menampilkan lagi seringai liciknya.
"Semua bisa di atur, asalkan sesuai dengan harganya. Tante juga tidak bisa membatasi ku!" tawar Leo yang masih asik membuat Mikita menggeliat dan menggelinjang. Sampai batas yang tidak ditentukan karena entah sudah berapa lama mereka beradu peluh. Akhirnya, Leo pun mengakhiri kegiatan membuat milkshake di dalam kamar kost yang kedap suara itu.
"Jangan pergi Leo. Kau membuatku sangat puas. Jadilah simpanan ku, maka aku akan membuat posisimu tidak terendus pihak yang berwajib," tawar Mikita seraya mencekal lengan kekar Leo yang tengah mengenakan kembali pakaiannya.
"Baik, asalkan Tante tidak menguasai ku. Aku akan jadi simpananmu," sahut Leo yang telah kembali rapi dengan pakaian casualnya.
"Aku akan mengambil uang, tapi kembalikan dulu ponselku," pinta Mikita.
"Berikan aku dua puluh juta!" pinta balik Leo.
__ADS_1
"Baik, tapi puaskan aku lagi!" Mikita menarik tangan Leo hingga pemuda itu kembali jatuh ke atas raganya yang masih polos itu.
'Dasar Tante rakus! Tadi saja sok menolakku. Untung saja cantik, jadi aku tidaklah terlalu rugi.'
Leo pun mengikuti permintaan Mikita, semua demi uang dua puluh juta yang sebentar lagi akan berada dalam genggamannya.
'Aih, bocah ini ternyata sangatlah hebat. Inilah yang aku butuhkan. Untung saja uang pemberian Yukia masih ada di ATM.' Batin Mikita senang. Ia akan memanfaatkan Leo sebagai kaki tangan sekaligus pemuas napsunya.
______
" Lex, ada orang didepan pintu,"
"Biarkan, aku yang membukanya. Kau teruskan saja makanmu." Alexa pun bangun dan beranjak ke depan pintu. Karena ada yang memencet bel berkali-kali.
"Bagas!" kagetnya, ketika ia mendapati pemilik wajah tampan dengan rahang tegas itu. Kini menatapnya dengan tajam seakan menguliti hidup-hidup Alexa.
'Apa salahku? Kenapa dia nampak marah sekali?' Batin Alexa bingung karena Bagas tidak bicara sama sekali tapi justru menatapnya dengan kemarahan.
"Apa maksudmu Alexa!" pekik Bagas seraya mencengkeram rahang Alexa kuat.
"Kau–menyakitiku, Bagas." Alexa memegangi lengan kekar Bagas. Rahangnya sangat linu, sehingga membuatnya meluruhkan kembali air matanya. Melihat Alexa menangis, sontak Bagas mengendurkan cekalannya. Entah kenapa hatinya menjadi tak tega.
"Jangan berakting di hadapanku!" Bagas melepas Alexa, akan tetapi tak sengaja melempar tubuh yang tengah rapuh itu hingga tersungkur ke atas lantai.
"Alexa!" teriak Mey-Mey.
Bersambung>>>>
__ADS_1