
Bagas nampak gemas sekali terhadap putra kecilnya ini. Karena dengan entengnya Theo telah membuka semuanya. Kenapa lain tadi lain sekarang. Apa Bagas harus bersaing dengan anaknya sendiri? Dia tau dan mengerti jika putranya ini memang kurang perhatian dari seorang ibu. Sementara itu, Alexa selalu bersikap hangat dan memanjakannya. Alexa benar-benar tau apa yang diinginkannya oleh putranya itu.
'Aku juga kurang perhatian, bukan hanya Theo saja. Sejatinya kami berdua adakah korban. Tapi, kenapa hanya Theo yang selalu menang?' batin Bagas terus menggerutu.
Hei! Bagas! Apa kau lupa kebaikan Theo tadi pagi?
'Ah, ya. Setidaknya, untuk saat ini biarlah Theo senang.' Bagas kembali membatin dengan senyum yang ia sembunyikan. Apalagi kalau bukan karena mengingat kebersamaannya pagi tadi di kamar bersama Alexa. Bagas menyembunyikan senyum sekali lagi dengan menutup mulut menggunakan telapak tangannya. Namun, hal yang dilakukannya justru membuat Alexa salah paham.
"Kenapa? Apa rasa buburnya begitu buruk?" Sontak pertanyaan Alexa tersebut membuat Mey-Mey menghentikan suapannya. Ia pun refleks menoleh ke sebelah kiri, tepat pada pria yang berstatus sebagai bos-nya itu. Mendapat tatapan penuh tanya dari Alexa dan juga Mey-Mey membuat Bagas menggeleng dengan cepat. Akan tetapi telapak tangannya masih ia gunakan untuk menutup mulutnya.
"Tidak usah berbohong! Kalau memang tidak enak, muntahkan saja!" seru Alexa dengan sedikit kesal.
__ADS_1
"Ih, Daddy! Bubur buatan Aunty Mey ini enak. Apalagi setelah di racik oleh Aunty cantik. Mulut, Daddy benar-benar aneh," celetuk Theo yang membaut suasana semakin ricuh saja.
'Hiss, anak ini benar-benar. Bagaimana cara aku menjelaskan pada Alexa? Rasa buburnya sangat enak.' batin Bagas menjerit karena posisinya terjepit. Merasa tenggorokannya kering, Bagas segera mengambil segelas air dan meneguknya dahulu sebelum menjelaskan.
"Sebenarnya, aku ... bukan begitu --"
"Sudahlah, aku akan membuat sarapan yang memang cocok dengan lidah konglomerat seperti anda, Tuan." Alexa memotong kalimat yang hendak keluar dari mulut Bagas. Ia lantas berdiri dan menarik mangkuk yang baru di colek beberapa suap oleh Bagas. Kemudian, membawanya ke dapur. Bagas, tak dapat menahannya. Ia hanya dapat menelan ludahnya tatkala bubur ayam nan lezat itu di ambil paksa dari hadapannya. Sepasang manik pekatnya nanar menatap Alexa yang berjalan ke dapur dengan langkah terburu-buru, lantaran kesal.
"Daddy sih, bikin Aunty cantik marah. Merusak suasana saja. Gimana mau dekat kalau begitu!" omel Theo membuat Bagas hanya bisa mengeratkan rahang dan menarik napas panjang.
'Astaga! Tadinya siapa yang membuat suasana semakin keruh? Menyebalkan kau Theo! Untung Daddy sayang.' Bagas hanya bisa mengomel dalam hati saja. Ia pasrah akan tanggapan Alexa. Percuma juga jika harus membela diri. Ia sudah terpojok, bukti yang mengarah padanya cukup kuat. Body language yang ia lakukan mencitrakan orang yang tengah menahan mual.
__ADS_1
Bagas memperhatikan Theo yang semakin lahap memakan sarapan paginya yang kedua. Ia menelan ludahnya ketika sang putra memasukkan suapan bubur hangat dengan bumbu kuning gurih itu kedalam mulutnya yang mungil.
'Tuan Bagas sangat aneh. Tadi, dia terlihat mual. Kenapa sekarang terlihat sedang tergiur sekali dengan bubur milik Theo?' batin Mey-Mey bigung melihat ekspresi bos-nya itu.
Tak lama kemudian, Alexa datang membawa nampan datar berisikan omelet panas. Kemudian ia meletakkan itu di depan Bagas dengan wajah tanpa ekspresi. Bagas sempat melirik sekilas, akan tetapi Alexa membalas tatapannya dengan sangat tajam. Tatapan itu seakan berkata. Jika tidak cocok, masak sendiri!
"Terima kasih ...," ucap Bagas pelan dan lirih. Ia menarik piring omelet itu dengan lesu. Sambil memotong sarapannya, Bagas sesekali melirik mangkuk milik Theo. 'Huuh, bubur ayamku ....' Bagas menelan omelet itu dengan sangat terpaksa. Baginya, sekarang omelet tidak lagi nikmat seperti biasa ketika Yukia yang menyajikannya. Dia hanya memikirkan mangkuk buburnya yang di bawa ke dapur oleh Alexa.
'Bagas aneh sih, tadi makan bubur terlihat mual. Sekarang aku buatkan kesukaannya, kenapa jadi terlihat terpaksa dan tidak berselera juga?' batin Alexa bigung sekaligus heran.
...Bersambung ...
__ADS_1