
🏹🏹🏹🏹🏹
"Lex, ini aku dan Theo!" panggil Bagas. Sebab telah beberapa kali mengetuk pintu kamar tak kunjung juga di buka. Theo sudah menarik napas hendak menangis lagi. Bagas pun mengulangi aksinya mengetuk pintu. Baru saja ia hendak mengarahkan tangannya, daun pintu sudah terbuka.
"Alexa baru saja tertidur, sini Theo sama Aunty Mey." Mey-Mey mengulurkan tangannya hendak mengambil alih Theo dari gendongan Bagas. Akan tetapi bocah itu menggeleng dan hampir menangis.
"Mau sama Daddy juga!" pekik Theo, yang mana hal itu membuat kedua mata Bagas membola. "Mau bobo sana Aunty sama Daddy juga!" Theo kembali merengek sambil meronta di dalam gendongan sang Daddy.
"Haih, kalau begitu kalian masuklah. Biar saya saja yang pindah," ucap Mey-Mey sambil menutupi mulutnya yang menguap. Mey-Mey pun keluar dari kamarnya, dan berpindah ke kamar Alexa. Gadis bermata sipit itu langsung kembali menjatuhkan tubuhnya di atas kasur.
__ADS_1
Sementara, di depan pintu Bagas mulai melangkah masuk kedalam kamar Mey-Mey dengan gamang dan sedikit keraguan. Apalagi ketika nampak Alexa tengah memeluk guling dan terlelap dengan begitu pulsanya. Piyama yang dipakai olehnya kini berganti menjadi atasan tanpa lengan. Bagas menelan ludahnya kasar kala ia melihat bahu licin Alexa. Entah kenapa pikirannya tidak mudah dikondisikan akhir-akhir ini. Bagas akan selalu berpikiran mesum jika melihat Alexa. 'Hai otak! Waraslah!' batin Bagas mengumpat pikirannya sendiri.
"Turun!" Theo meronta minta di turunkan oleh Bagas dari gendongannya. Ia pun mengabulkan, dan Theo langsung menghambur untuk memeluk raga Alexa seperti guling. Sebab Theo menyingkirkan guling asli dan mengganti dengan dirinya. "Daddy, sini!" panggil Theo sambil menunjuk kearah belakang tubuhnya. Bocah itu menginginkan sang Daddy juga memeluknya dari belakang.
'Haih, Theo. Bagaimana jika Alexa nanti bangun. Apa yang akan wanita itu pikirkan?' Bagas menggaruk belakang kepalanya. Sedikit ragu untuk naik ke atas kasur. Ada rasa sungkan, apalagi jika mengingat obrolannya dengan Alexa tadi di balkon. Bagas, tidak ingin Alexa kembali berpikir bahwa dirinya hanyalah memanfaatkan Alexa kembali.
"Daddy, cepat!" panggil Theo yang sudah mengantuk itu. Mau tak mau Bagas pun naik keatas tempat tidur dengan perlahan. Ia melihat bagaimana Theo menyayangi Alexa. Sebab bocah itu berkali-kali melabuhkan ciumannya di kening dan juga pipi wanita yang selalu dipanggil Aunty cantik olehnya. Bagas kaget, ketika Alexa mengulurkan tangannya untuk membalas pelukan Theo. Bahkan wajah Alexa tersenyum, meski kedua matanya masih terpejam.
"Sshhh ...." Bagas menempelkan ujung jari telunjuk ke depan bibirnya. Memberi tanda agar Theo jangan bicara lagi. Ia pun merebahkan badannya, lalu miring dan mulai merangkul sambil menepuk-nepuk bokong Theo. Tak lama kemudian bocah laki-laki tampan nan menggemaskan itu telah masuk kembali ke alam mimpinya.
__ADS_1
Begitupun dengan Bagas. Pria itu sudah tak kuasa menahan kantuk, hingga kedua matanya kembali terlelap. Theo bergerak, hingga tubuhnya kini terlentang. Theo pun menarik tangan kedua orang dewasa disampingnya. Menyatukan tangan Aunty dan sang daddy keatas dadanya. Sebuah senyum bahagia merekah di wajah polos bocah lelaki yang hampir berusia lima tahun itu. Seolah ia kini berada di dalam mimpi yang teramat indah.
Ketiganya terlelap sampai pagi dengan posisi seperti itu. Siapapun yang melihat pasti akan mengira jika mereka adalah satu keluarga. Keluarga yang hangat dan juga harmonis.
Pagi pun datang.
Jam telah menunjukkan hampir pukul delapan. Akan tetapi tiga orang ini masih asik berpelukan dalam tidur mereka. Entah sejak kapan Theo pindah. Sekarang posisinya ada di belakang Alexa. Jadilah kini Alexa yang dihimpit oleh dua orang pria tampan.
"Eugh!" Alexa merentangkan tangannya. Iamenguap lalu membuka kedua matanya dengan cepat. Ketika salah satu tangannya meraba sesuatu yang keras di samping tubuhnya.
__ADS_1
...Bersambung ...