
🏹🏹🏹🏹🏹
"No! Kakek jahat! I hate him!" teriak Theo meronta sambil menangis. Iye menolak ketika Bagas mengajaknya pulang. Theo adalah pribadi yang sensitif. Ia tidak mungkin merubah perasaan kecewa dan takutnya secara tiba-tiba. Meskipun Bagas mengatakan bahwa sang kakek yang tak lain adalah Anggara, meminta Theo pulang bersama mereka.
"Enggak mau! Kakek udah marahin Aunty. Merusak apartemennya Aunty juga. Theo gak mau tinggal sama orang jahat!" Theo terus menolak hingga ketiga orang yang tak lain adalah, Alexa, Bagas dan juga Mey-Mey kewalahan. Theo bahkan mengamuk dengan mengacak-acak isi kamar.
Alexa menggeleng seraya menahan bahu Bagas yang hendak menghampiri Theo di pojok kamar. Bagas menghela napas kasar, lalu mengusap wajahnya. Pasti akan memakan waktu dan tenaga untuk membujuk serta mengembalikan mood Theo.
"Biar aku yang menanganinya," ucap Alexa meyakini Bagas. Setelah mendapat anggukan dari Bagas, Alexa pun segera menghampiri Theo. Sementara itu, Bagas dan Mey-Mey terpaksa keluar kamar. Sengaja memberi ruang untuk Alexa dalam menaklukkan Theo.
"Sayang ... boleh Aunty memeluk Theo?" pinta Alexa seraya merentangkan kedua tangan. Senyum hangat tak kunjung lepas menghias wajah cantik menawan Alexa. Mendengar suara lembut nan manja milik Alexa, Theo sontak menolehkan kepalanya. Kedua pipi chubby-nya basah dengan air mata yang terus mengalir.
"Hiks ... hikss." Theo mengucek matanya sambil sesenggukan. Bahkan suara anak itu terdengar tercekat, napasnya tidak lancar. Sungguh tidak tega melihatnya. Theo nampak kecewa dan sakit hati atas sikap Anggara. Padahal, sebelumnya pria paruh baya itu tak pernah sekalipun membentak Theo.
Alexa langsung menarik Theo dan menenggelamkan bocah Lima tahun itu dalam pelukannya. Dalam hatinya berkata, untung saja Theo tidak mendengar kata-kata terakhir dari Anggara mengenai dirinya. Jika iya, entah bagaimana perasaan Theo. Pikiran anak ini tidaklah seperti balita seusianya. Namun, prakiraan Alexa ternyata salah. Karena ...
"Kenapa, kakek mengatakan kalau Theo bukanlah putra Daddy? Bukan cucu dari kakek Giganoto? Kenapa kakek bicara seperti itu, Aunt?" cecar Theo yang mampu membuat Alexa gelagapan. Tak menyangka jika ternyata Theo telah mendengar perkataan kurang ajar Anggara. Ia langsung memutar otak mencari jawaban yang mampu membuat Theo tenang.
__ADS_1
"Sayang, Theo. Dengarkan Aunty ya. Tadi itu, kakek sedang marah, sedang emosi, kemasukan setan mungkin juga. Makanya, bicaranya itu ngalor-ngidul gak jelas. Em, maksud Aunty, sepertinya kakek salah bicara. Buktinya, sekarang meminta Theo ikut pulang sama Daddy. Iya kan?" jelas Alexa dengan alasan yang mampu di cerna oleh Theo.
"No! Theo gak mau pulang. Kakek menyeramkan. Kakek membenci Theo ...! Huwaa ...!" Theo menolak dengan teriakan juga gelengan kepala kencang. Setelah itu ia kembali menangis histeris , posisi masih dalam pelukan Alexa.
"Baiklah, jika Theo masih mau menginap di sini. Aunty akan minta ijin pada Daddy dan juga kakek Anggara," ucap Alexa seraya mengusap bahu hingga punggung bocah menggemaskan itu.
Theo mengangguk. Ia selalu setuju apapun yang di sarankan oleh Alexa. Theo merasa saat ini tempat Alexa lah yang paling nyaman. Bahkan pelukan Alexa adalah momen atau saat-saat yang paling Theo suka.
"Sekarang Theo istirahat di atas tempat tidur ya. Aunty mau keluar bertemu dengan Daddy-mu." Alexa menggendong Theo dan meletakkannya secara perlahan di atas kasur. Alexa menyempatkan diri untuk mengecup kening Theo sebelum ia berlalu keluar kamar.
"Aunt ..., panggil Theo pelan. Membuat Alexa ragu untuk meneruskan langkahnya. " Jika, Theo bukan anak Daddy ... lalu, Theo anak siapa? hiks." Theo masih menahan isaknya yang tiba- tiba membuat dada Alexa kembali sesak. Apalagi ternyata anak itu masih memikirkan perkataan Anggara. Demi apapun, Alexa sangat mengutuk perbuatan dan sikap Anggara terhadap Theo.
Mau tidak mau Alexa pun berhenti dan menoleh. Wajah sembah yang masih menahan Isak itu membuat hatinya sangat sakit. Alexa seakan sangat paham apa yang tengah Theo rasakan saat ini. 'Kenapa sih? Kamu jadi anak terlalu pintar, Theo? Sehingga sekecil ini sudah mengerti apa maksud perkataan orang dewasa. Kau merasakan sakit dan kecewa yang tidak seharusnya anak seusia dirimu alami. Theo seharusnya hanya tau main dan tertawa.' batin Alexa perih. Ia mengusap bulir kristal bening yang lagi-lagi hendak turun dari ujung pangkal mata indahnya itu.
"Theo, terlalu berlebihan dalam berpikir. Tidak ada hal yang perlu Theo takutkan ya. Percaya kan sama aunty?" ucap Alexa dengan senyum lembut menenangkan. Hingga akhirnya lengkungan sabit itu juga terbit dari kedua bibir imut Theo.
Alexa keluar setelah memastikan Theo tenang. Menemui Bagas yang menunggunya di ruang tamu. Ponsel pria itu berkali-kali berdering. Sebab Anggara telah menunggunya di parkiran bawah apartemennya.
__ADS_1
"Papa terus menunggu. Sebaiknya aku turun. Aku, titipkan Theo padamu sebentar. Apa kalian keberatan?" tanya Bagas yang merasa tak enak. Secara Alexa belum sembuh benar. Satu tangannya masih belum bisa bebas bergerak.
"Itu tidak masalah, pulanglah. Beri pengertian pada orang tua egois itu. Agar memberi waktu pada hati Theo yang sudah terlanjur ia lukai. Theo, ternyata mendengar semua yang di katakan oleh Anggara," jelas Alexa, sesekali terlihat ia mengusap pipinya yang basah. Tak tahan, hatinya ikut perih. Hanya manusia berhati batu saja yang bisa seenaknya melukai perasaan anak kecil polos nan suci bahkan tanpa dosa itu.
"Apa!" Bagas memberi remasan kuat pada rambutnya. Ia pun segera mengambil jaket dan mengenakan sepatu.
Tergesa-gesa keluar, hingga tak menggubris panggilan Alexa.
"Kau keterlaluan, Pa!" protes Bagas setelah ia masuk kedalam mobil dan duduk di depan Anggara. Mereka duduk berhadapan di mobil khusus presiden direktur Vi-Gen Tech. Mobil yang mirip Limosin ini kapasitasnya cukup luas dan sangat komplit. Anggara mengambil gelas yang sudah terisi wine. Menggoyang gelas itu sebentar lalu meminumnya perlahan dengan penuh kharisma.
"Anak itu akan menjadi ancaman kita suatu saat nanti. Dalam darahnya mengalir darah manusia licik yang penuh intrik dan tipu muslihat."
"Siapa dia, Pa?"
"Anak buah, Papa sedang melakukan pengejaran saat ini." Anggara berkata dengan tenang. Ia tidak boleh kehilangan simpati sang putra.
...Bersambung ...
__ADS_1