Terpaksa Menggoda Suami Orang

Terpaksa Menggoda Suami Orang
TMSO. Bab 77. Saatnya Memilikimu [ End ]


__ADS_3

๐Ÿน๐Ÿน๐Ÿน๐Ÿน๐Ÿน


"Kita pulang ya, mau kan?"


"Maafkan, Daddy ..," Bagas langsung merangkul Theo tak mau lepas. Hidungnya terus menciumi aroma minyak khas bayi yang masih di gunakan putranya itu sehabis mandi. Kerinduannya sangatlah besar ketimbang rasa benci kepada kedua orang tua anak lelaki mengemaskan yang kini berada dalam dekapannya.


"Daddy, tidak marah lagi kan sama Theo?" tanya bocah itu polos. Kedua mata birunya menatap wajah Bagas lekat. Seakan mencari jawaban pasti dari sosok yang teramat ia nantikan kehadirannya ini. Hingga, pada saat melihatnya barusan, Theo bersorak dan berjingkrak kegirangan.


"Daddy, tidak pernah marah padamu, sayang. Daddy hanya bingung, ah sudahlah. Jangan di ingat lagi. Daddy berjanji, mulai saat ini akan selalu ada untukmu juga menjadi pesuruh yang akan menuruti setiap permintaanmu, selamanya," ucap Bagas tak dapat lagi menahan haru yang menyeruak tanpa basa-basi itu.


"Daddy, jangan menangis. Pria sejati tidak boleh cengeng," ucap Theo membuat Bagas langsung menyusut air matanya.


Malam ini, Bagas dan juga Azriel menyambangi kediaman Navier. Bagaimanapun pun juga, secepatnya harus mengungkap paksa. Sebab, Sofie sudah tak tahan lagi dengan sikap santai meskipun ia telah memberi sedikit clue atau petunjuk pada Navier.


"Apa yang ingin kalian ketahui? Jangan menatap, Daddy selayaknya seorang penjahat!" hardik Navier, batinnya telah tertekan sebenarnya. Hanya saja pria itu masih berkeras hati menolak kenyataan yang kini perlahan nampak di depan bayang hidungnya. Sayang, Alexa tidak bisa pergi kemanapun. Karena itulah, Azriel berinisiatif membawa Navier kepada adiknya itu.


"Bukankah, Daddy memang seorang penjahat! Mengakulah!" serang Azriel langsung pada titik vital permasalah. Azriel meletakkan secarik kertas yang menjadi bukti dari kenyataan dan takdir yang sekuat tenaga di tolak oleh pria paruh baya ini. Dimana darah pria itu mengalir dengan jelas di dalam darahnya.


Navier hanya melirik sekilas tanpa berniat sedikitpun untuk meraih atau melihat isi dari kertas itu. Rahangnya beradu, ekspresinya mendadak sekeras dan sekaku beton. Napasnya terlihat mulai memburu, pertanda emosinya mulai tak stabil saat ini. Tuduhan berdasar yang dilemparkan putra satu-satunya itu ke depan wajahnya, membaut Navier, sang pengusaha minyak mentah ini tercekik udara.


Hawa gitarnya seketika menjadi panas, padahal pendingin ruangan di dalam mansion miliknya itu, tentu saja adalah barang yang paling bagus dan mahal. Jadi mana mungkin alat pendinginnya itu rusak bukan?


Apakah, Navier mulai ketakutan dan dikejar dosa? Sementara keseluruhan bukti telah mengarah jelas kepadanya. Mau berkelit seperti apa lagi?


Seketika bayangan ketika Ivanna menatap dirinya penuh permohonan, berharap jika dirinya mengakui bahwa yang terjadi pada ivana saat itu semua adalah berkat kesalahan yang berasal dari paksaan dirinya. Tapi, Navier yang kala itu karirnya belum sebagus sekarang merasa takut. Ia menjadi pengecut sekaligus pecundang. Tanpa berpikir panjang, dirinya membuang wajah di depan ivana yang memasang wajah memelas.


Ivanna, adalah wanita yang sangat baik. Ia paham posisi Navier pada saat itu di dalam keluarga Sofie. Ivanna pasti berpikir lebih baik menanggung segala dosa dan penderitaan itu sendiri. Ketimbang yang membuka semuanya atau membuka kedok Navya dan membuat keluarga itu hancur berantakan. Ivanna, pasti memikirkan nasib serta masa depan dari anak yang diasuhnya, yaitu ... Azriel.


"Jika aku mengakuinya pada saat itu, mungkin kau tidak akan tumbuh menjadi pribadi yang bahagia! Kau, tidak akan pernah bisa menikmati kemewahan dari keberhasilanmu ini Azriel!" ujar Navier dengan suara baritonnya mencoba mencari celah yang dapat membenarkan perbuatannya kala itu.


"Tentu saja, Karena pada saat itu juga aku akan menendangmu dari keluarga besar Basalamah!" pekik Sofie yang berada di undakan tangga terakhir. Tatapan wanita itu amatlah tajam menyorot ke arah suaminya yang sebentar lagi akan ia jadikan sebagai mantan itu.


"Ya, dan putra kita akan tumbuh besar dalam keadaan broken home! Dia akan menjadi pecandu bahkan kriminal!" kilah Navier masih terus mencoba membenarkan keputusannya yang kejam itu.

__ADS_1


"Jika, memang kau memikirkan keadaan anakmu satu-satunya. Memikirkan masa depan serta kebahagiaannya, tentu kau tidak akan memperkosa pengasuh anakmu sendiri!" teriak Sofie tak tahan lagi. Pria yang sangat ia cintai ini ternyata memiliki hati sekeras besi. Tak ada penyesalan tersirat sedikit pun, meskipun seluruh bukti yang ada mengarah padanya. Mungkin, keputusan Sofie akan berubah, jika saja Navier mau mengakui dosa. Bukankah, sejatinya wanita akan luluh dengan sebuah pengakuan disertai permohonan maaf yang tulus?


Akan tetapi, tak ada tanda-tanda penyesalan itu di wajah Navier. Pria yang sempat ia puja, bahkan hampir membuatnya di buang dari keluarga besar. Mau tak mau, Sofie harus bertindak kejam dan tegas kepada rias yang sebentar lagi hanya akan menjadi mantan dalam hidupnya.


"Terserah padamu! Mengaku atau tidak, bukti telah menunjukkan bahwa Alexandria adalah putrimu, adik kandung Azriel!"seru Sofie. Wanita cantik itu pun meletakkan secarik berkas berikut bolpoint ke atas meja. " Tanda tangani ini, setelah itu keluarlah dari mansion juga perusahaan peninggalan ayahku!" ujar Sofie tegas tanpa tersirat keraguan di dalamnya. Seketika, bumi yang di pijak oleh Navier bergoyang. Membuat tubuhnya goyah, lalu terjatuh ke atas sofa.


"Kau, tidak bisa melakukan ini sekaligus padaku, Fie ...," lirih Navier dengan wajah memelas. Akan tetapi, Sofie tidak lagi peduli.


"Tanda tangan, maka kau akan mendapat harta gono-gini. Atau, pergi secara tidak hormat!" ancam Sofie, penuh penekanan.


"Dengan harta itu, kau bisa membeli seratus pelacuur!" pekik Sofie seraya melempar kertas gugatan itu ke wajah pucat Navier.


"Fie, beri aku kesempatan. Tolong mengertilah, aku khilaf kala itu. Az, tolong, Daddy ... bujuk Mommy-mu," ucap Navier kali ini, meminta pertolongan pada sang putra.


"Dad, terimalah konsekuensinya. Jangan membuatku membencimu. Kau telah memisahkan adik dari kakaknya. Kau bahkan tidak mengakui putri mu sendiri! Kau, menelantarkan perempuan sebaik Ivanna. Kau tau, Dad. Jika wanita itu bukan aunty Ivanna, mungkin penculik itu telah melemparku dari atas gedung. Apa kau lupa, pengorbanan Ivanna untukku ...," ucap Azriel menguak kembali kisah pilu yang semakin menekan rasa bersalah di dalam diri Navier. Ternyata, pria itu masih manusia. Ia menangis, bersimpuh memohon pengampunan.


"Kau terlambat! Aku akan menyerahkan seluruh harta, gono-gini itu untuk Alexa, putrimu. Sejatinya, kau tidak berhak sedikitpun dari hartaku!" Keputusan Sofie dan Azriel tidak dapat di ganggu gugat. Navier menyesal, kenapa hatinya tetap bersikeras. Apa salahnya mengakui seorang putri, setidaknya ia tidak akan kehilangan semuanya seperti ini.


"Az, panggil penjaga. Agar, mengantar Daddy-mu ini ke paviliun! Mulai saat ini, suruh penjaga tembak saja jika, Navier menginjakkan kakinya ke dalam mansion!" titah Sofie tak bisa di ganggu gugat lagi.


"Soโ€“Sofieee ...!"


_______


"Bawa dia pulang, dan bahagiakan dia. Aku telah memindahkan seluruh aset milik Daddy untuknya. Ini, cukup sebagai bukti bahwa adikku itu bukan orang sembarangan," ucap Azriel.


"Harta sebanyak ini, ternyata baru bisa membeli penilaian dan pandangan orang," lirih Alexa, seraya tertawa getir. Miris terhadap nasibnya. Seumur hidup tak mengenal dan mengetahui siapa ayahnya. Bahkan, pria itu tidak mau untuk sekedar untuk mengakuinya saja.


"Jangan pikirkan itu. Aku akan mengganti semua air matamu dengan kebahagiaan, Alexa," ucap Bagas seraya menatap kedua bola mata kebiruan itu lekat.


"Kita pulang ya, Aunty. Jadilah, Mommy untuk Theo. Agar aku bisa menjadi kakak untuk adik bayi," ucap Theo sumringah. Ketawanya lebar sekali. Membuat, air mata mengalir deras membasahi wajah tirus Alexa.


"Oke, Aunty akan ikut kalian."

__ADS_1


Theo, seketika memeluk Alexa, begitupun, Bagas.


Azriel melepas meski berat. Ia harus menerima takdir yang akan kembali memisahkan dirinya dan juga sang adik.


"Kau, harus datang di pernikahan ku nanti ya?"


"Sudah pasti. Aku ingin tau mahar apa yang akan diberikan pria itu padamu."


"Aku, sudah menyiapkan sebuah Villa mewah di sebuah pulau. Dimana pulau itu, atas nama, Alexandria. Aku akan melamarnya juga menikahinya di sana."


Bahagianya jadi, Alexa ...๐Ÿ˜


Mereka akhirnya bahagia untuk selamalamalamalamanyaaaa ...!


End happily ever after.


Terimakasih, author ucapkan pada pembaca sekalian.


Akhirnya, kisah penuh liku-liku ini, selesai dengan happy ending.


Penasaran gak, sama kebahagiaan Bagas dan Alexa pasca menikah. Gimana uwwu-nya mereka membesarkan buah hati.


Nantikan itu semua di sekuelnya nanti ya.


So, jangan hapus dulu novel ini dari bernada kalian.


Juga, follow akun author agar tau jika ada novel baru yang rilis.


Akhir kata, love u much ... guys!


See you ... on the next story ...!


...TAMAT...

__ADS_1


__ADS_2