Terpaksa Menggoda Suami Orang

Terpaksa Menggoda Suami Orang
TMSO. Bab 63. Kesengsaraan Bagas.


__ADS_3

🏹🏹🏹🏹🏹


Bagas yang telah mengerahkan semua orangnya untuk memantau setiap bandara, stasiun serta terminal. Menemukan satu petunjuk jejak dari Alexa. Orang-orangnya bahkan menemukan seorang saksi, yaitu supir Van yang mengantar Alexa ke kota M. Sang supir pun menghadap Bagas, karena di depannya terdapat koper dengan sejumlah uang. Membuat mulut dan lidah sopir itu lancar sekali dalam bercerita. Kedua matanya berbinar melihat gepokan uang yang seumur hidup belum pernah ia lihat apalagi menyentuhnya.


Pada saat itu, sang sopir pun mengatakan sebuah informasi mahal. Tentang seorang pria yang menemui Alexa di sana. Hingga, mereka berpindah kendaraan saat itu. Hanya saja, sang sopir tidak melihat pria itu, akan tetapi ia ingat satu nama yang Alexa sebutkan.


"Azriel? Apa mungkin, dia Azriel Bawazier?" gumam Bagas, mengingat nama salah satu partner bisnisnya. "Bagaimana mereka bisa bertemu di sana? Ataukah, Alexa memang janjian dengan pria Arab itu!" kesal Bagas.


Brakk!


Ia memukul meja dengan kedua kepalan tangannya.


Bukan Arab Gas! Tapi Mesir ! Udah beda benua itu!


"Kau! Cari tau apakah Azriel Bawazier masih ada di negara ini atau tidak!" titah Bagas pada bawahannya. Kepalanya mulai berdenyut kembali dan ulu hatinya seakan di remas kencang. Tanpa ba-bi-bu lagi, Bagas berlari ke dalam toilet dalam ruangan kerjanya itu.


Huweerrrkk!


Lagi-lagi ia muntah pagi ini. Entah, sudah yang keberapa kali sejak ia bangun tidur tadi. Setiap habis mengeluarkan isi perutnya maka, Bagas akan merasa semua sendi pada tubuhnya lemas. Kepalanya sakit dan pandangannya berkunang-kunang. Ia berpegangan erat pada sisi wastafel. Menjaga keseimbangan pada tubuhnya agar tidak jatuh.

__ADS_1


Virnie yang beberapa kali mengetuk pintu ruangan tapi tak ada sahutan akhirnya memaksa masuk, ia pun mendengar suara Bagas yang sedang memuntahkan sesuatu dari dalam perutnya. Virnie yang khawatir karena sudah setengah jam Bagas tidak keluar dari kamar mandi. Terpaksa menggebrak pintu dan memanggil- manggil bos-nya itu.


Brak. Brak. Brakk!


"Tuan! Tuan!" Virnie memanggil bos-nya itu dengan kencang. Menggebrak pintu beberapa kali. Hingga akhirnya ia memanggil scurity.


"Tolong, Pak buka pintunya. Saya takut jika tuan kenapa-kenapa," lirih Virnie yang sangat khawatir terhadap keadaan Bagas.


"Bagaimana kalau tuan ada di belakang pintunya. Kita harus mendobrak. Percuma pakai kunci cadangan!" ujar salah satu pihak keamanan perusahaan tersebut.


"Tuan, apakah anda di sana!" Panggil Virnie, berharap sang bos masih dalam keadaan sadar. Hingga ia mendapatkan sahutan lemah.


"Baik, Pak. Kalian bisa dobrak pintunya," titah Virnie.


Dug. Dug. Druugghhh!


BRUAAKK!


Akhirnya pintu tersebut terbuka juga. Menampilkan sosok gagah yang memimpin perusahaan tengah tergeletak. Untung saja, pintu toilet dalam ruangan Bagas tidak menggunakan teknologi sidik jari untuk membuka pintunya. Jika ia, maka akan membutuhkan seorang teknisi dan pastinya perlu waktu lama untuk membukanya.

__ADS_1


Bagas mereka temukan dalam keadaan lemah. Bagas dehidrasi parah. Ia pun di rawat selama 24 jam saja. Karena, Bagas bersikeras ingin pulang. Ia harus memimpin rapat dengan koleganya yang berasal dari Jepang dan juga Korea.


"Kami dengar, kabar anda sempat di rawat di rumah sakit. Apa sekarang anda sudah baik-baik saja?" tanya salah satu kolega bisnis Bagas yang berasa dari Jepang. Mereka berbicara menggunakan bahasa Jepang tentu saja.


"Saya baik, seperti yang kalian lihat pada saat ini. Mari kita mulai sa--" Belum sempat Bagas menyelesaikan ucapannya. Lagi-lagi, rasa mual yang begitu hebat menyerangnya. Bagas pun mengangkat tangan sebagai permintaan ijinnya meninggalkan ruangan. Virnie segera mengikuti bos-nya itu, yang kini berada di dalam toilet.


"Apa anda masih bisa melanjutkan rapat dalam keadaan seperti ini, Tuan?" tanya Virnie penuh kekhawatiran. Karena atas permintaan Bagas ia pun ikut masuk dan melihat bagaimana Bagas mengeluarkan cairan kuning dari dalam perutnya dengan begitu tersiksa.


"Vir, hanya kau ... yang melihat keadaan kacau-ku seperti ini," ucap Bagas tersengal-sengal. Kepalanya kembali pusing dan pandangannya kabur. Bagas memejamkan matanya sebentar. Sambil tetap berdiri di depan wastafel.


"Tidak apa, Tuan. Saya sangat sedih melihat Anda seperti ini. Sebenernya anda sakit apa? Kenapa gejalanya seperti yang pernah saya alami tahun lalu," tanya Virnie memberanikan diri. Sektretaris bertubuh agak gemuk itu sambil mengoleskan fresker ke leher dan tengkuk Bagas. Kemudian memijatnya pelan. Hanya Virnie yang Bagas percaya, karena sekretarisnya ini tidak akan bertindak macam-macam. Virnie sudah menikah. Virnie pun hanya ada rasa kasihan pada Bosnya. Itulah yang membuat Bagas sangat menghargai Virnie. Dia bukan wanita nakal yang matre.


"Tahun lalu, memang kau sakit apa?" tanya Bagas yang mulai dapat kembali mengatur napasnya. Ia meneguk minuman jahe buatan Virnie secara perlahan. Perutnya merasa baikan sekarang. Tidak di aduk-aduk seperti tadi. Entah apa tanggapan pada koleganya nanti.


"Vir tidak sakit, Tuan. Kala itu, saya sedang hamil. Jadis selama dua bulan saya mengidam persis seperti yang anda alami. Mual dan muntah dari lagi sampai siang. Tuan ingat tidak? Pada saat itu, saya sempat mengajukan cuti selama dua bulan," tutur Virnie yang mana sontak membuat kedua mata Bagas membola.


"Apa maksudmu, Vir? Kenapa kau samakan gejala. yang kurasakan saat ini dengan mengidam yang kau alami dulu?" cecar Bagas menatap tajam, membuat sang sekretaris menelan ludahnya.


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2