Terpaksa Menggoda Suami Orang

Terpaksa Menggoda Suami Orang
TMSO. Bab 76. Terungkap


__ADS_3

🏹🏹🏹🏹🏹


" Dia, adikku. Itu berarti aku kakaknya!" ujar Azriel, dengan senyum miring, meledek. Dan, benar saja. Bagas memasang kening berkerutnya juga tatapan tak percaya. Pada saat itulah, Azriel meletakkan hasil tes DNA ke dada Bagas.


"Read!" titah Azriel dengan tatapan memberi perintah. Ia kembali menghampiri Alexa dan bermaksud menyuapinya salad buah. Tapi, hal itu di tolak Alexa dengan senyum. Ia ingin, Bagas yang memperhatikannya bukan Azriel. Azriel yang paham hanya menganggukkan kepala.


"Bagaimana ini bisa terjadi!" Bagas menghela napas, dirinya tak habis pikir. Kenapa, dunia sempit sekali? Pria yang menyukai serta mengagumi Alexa, bahkan membantu kabur darinya, ternyata adalah saudara satu ayah.


Seketika, rasa bersalah menguap dari dalam dirinya. Ia tidak mau lagi kehilangan Alexa, wanita langka dengan kepribadiannya yang jarang ditemui pada wanita lain. Sosok yang sudah membuatnya blingsatan, mati degan hidup tak mau. Bagaimanapun, Bagas harus membangun hubungan baik dengan Azriel mulai dari sekarang. Dalam waktu dekat ini, ia akan meminta Alexa untuk di persunting sebagai istrinya. Tak tak peduli meskipun ia akan mendapat penolakan dari sang papah yang tak lain adalah Anggara.


Bagas langsung menghadap ke arah Azriel dan juga Alexa. " Kalau begitu, maafkan aku," ucap Bagas tulus seraya mengulurkan tangannya sebagai permohonan maaf. Ia mengajak Azriel berjabat tangan. Dengan hati lapang, Azriel bangun untuk meraih uluran tangan Bagas. Bukan hanya itu, ia juga menarik tubuh kekar di hadapannya dan kemudian memeluk ala pria.


"Jika kau ingin menikahinya. Tunggu, Hingg Alexa memiliki level yang sama dengan keluargamu. Tunggu, sampai tak ada lagi orang yang lantas dan patut menghinanya lantaran ia miskin, dan tak memiliki identitas jelas. Daddy-ku, akan memberi marga kami padanya. Kau bersabarlah sedikit lagi," jelas Azriel begitu bijak dan dewasa. Sambil menepuk pelan bahu Bagas demi memberi semangat dan dukungan. Sungguh, pria berhati besar. Alexa semakin mengagumi kepribadian dari seorang Azriel yang tak lain adalah kakaknya sendiri.

__ADS_1


"Aku, tidak pernah bermimpi sekalipun untuk memiliki seorang kakak, apalagi jika dia seorang laki-laki yang hebat. Tapi, ternyata, Tuhan berkehendak lain. Ia menghadirkan sosok itu di saat keadaanku benar-benar terombang-ambing kebingungan. Aku bagaikan musafir yang menemukan sebuah oase. Aku sangat bangga dan bersyukur telah memilikimu, Kak Az," ucap Alexa penuh rona bahagia. Azriel pun tersenyum bahagia seraya memberi usapan di kepala adik cantiknya itu.


"Ku sadari sekarang, kenapa aku begitu tertarik padamu. Ingin tau siapa kamu dan ingin kau berada di dekatku. Ingin memastikan segala sesuatunya tidak salah untukmu. Termasuk, laki-laki, yang mendekatimu. " Sebentar Azriel melirik ke arah Bagas, membuat yang di lirik menggaruk tengkuknya. " Mungkin, itu hanya naluri seorang saudara kepada saudarinya." tambah Azriel lagi seraya terkekeh sesudahnya.


"Aku, akan melihat Theo. Aku akan mengatakan padanya bahwa sang papa yang sangat ia rindukan setiap menit sekarang ada di sini. Tapi, tenanglah ... aku memberi kalian waktu sekitar tiga puluh menit, untuk saling melepas rindu!" ucap Azriel penekanan mengandung pesan. Apalagi, sebelum pergi ia sempat menekan bahu Bagas.


"Kau, harus menyiapkan dispensasi yang tidak sedikit. Lantaran, telah mencoblos lebih dulu sebelum waktunya," bisik Azriel membuat Bagas seketika merinding. Alexa, punya bekingan yang cukup disegani saat ini. Mana, mungkin papa menolaknya. Begitulah yang kini ada dalam pikiran Bagas.


"Makanlah, yang banyak. Kau dan bayi kita harus sehat," ucap Bagas seraya mengambil mangkuk berisikan salad buah. Alexa pun seketika memasang senyumnya. Apalagi ketika Bagas menyodorkan sendok ke depan bibirnya, Alexa lantas membukanya dengan lebar.


"Kau, akan kehilangan segalanya," ucap Alexa lemah dan lirih. Ia merasa bersalah. Padahal ini bukan karenanya. Mungkin, semua sebab pengaruh hormon kehamilan. Alexa menjadi lebih sensitif mengenai apapun.


"Tidak, itu semua bukan karenamu. Seharusnya, sudah sejak dulu aku keluar dari sana. Meninggalkan gelimang harta yang justru mengekang langkahku. Status yang mengikat tangan dan juga kakiku. Semua yang kulakukan selalu salah di matanya. Jadi, untuk apa lagi aku bertahan? Aku akan membawa Theo bersama kita. Tak perduli, benih siapa yang mengalir dalam darahnya. Setidaknya keringat dan air mataku pernah menyiram tubuh bocah itu. Aku merindukannya Alexa, aku merasa bersalah padanya," ucap Bagas mengadukan perasaan sesungguhnya laksana seorang anak mengadu pada ibu mereka.

__ADS_1


"Theo juga sangat merindukanmu. Anak itu sebenarnya tersiksa ketika harus jauh darimu. Hanya saja ia mampu memendam rasa itu sendirian," jelas Alexa menghentikan sendok kesekian yang disodorkan ke arahnya.


"Kau ingin makanan yang lain?" tanya Bagas, tapi di jawab gelengan oleh Alexa. "Lalu, apa yang harus aku lakukan? Apa kau ingin aku memijatmu? Boleh ya?" Bagas meminta ijin untuk menyentuh kaki jenjang Alexa. Kali ini, Alexa mengangguk tapi pelan. Sebab, ia merasa sedikit sungkan. Tapi kapan lagi memanfaatkan kehadiran ayah dari calon bayinya ini.


"Apa ini terlalu kencang?" tanya Bagas seraya memijat dengan hati-hati.


"Em, sudah pas. Kau, bisa jadi tukang pijat nanti kalau sudah keluar dari klan Gustavano," gelak Alexa puas. Sekian lama, baru kali ini ia bisa tertawa sekencang ini. Sampai-sampai Alexa memegangi bawah perutnya. Kejadian ini pun mampu membuat Bagas terpana dan ...


GREP!


"Maafkan aku, telah mendatangkan penderitaan begitu banyak kepadamu," lirih Bagas di samping telinga Alexa.


"Daddy ...,"

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2