
🏹🏹🏹🏹🏹
"Kau!" Anggara telah melayangkan tangan ke atas kepalanya. Pria paruh baya arogan itu naik pitam. Sebab, ini pertama kalinya Bagas berteriak sekaligus melotot padanya. Apalagi ini ia lakukan di depan orang lain. Anggara seketika merasa harga dirinya jatuh ke dasar bumi.
Bagas mengeraskan rahangnya, ia tidak akan menunduk kali ini. Baginya, sang papa susah kelewatan. Tidak sedikit pun mentolerir kegagalan yang bukan ia lakukan secara sengaja. Memang, kehilangan dua relasi bisnis besar itu termasuk rugi karena perusahaan telah kehilangan kesempatan. Tapi, apakah seluruh kesalahan itu pantas di bebankan ke bahunya. Dirinya sakit sungguhan bukan karena di sengaja, atau di buat-buat.
"Kau, sebegitu marahnya. Tanpa tau apa yang sebenarnya tengah aku rasa dan alami. Pukul saja aku, Pa! Jika memang itu semua dapat membuatmu merasa puas hati!" tantang Bagas, dengan rahang yang menahan geram.
__ADS_1
Sebab, Anggara selalu mengkaitkan kejadian itu dan menyalahkan perilaku hidup Bagas akhir-akhir ini. Apalagi, pria itu beberapa kali memergoki Bagas mengkonsumsi makanan pinggir jalan. Makin murka saja dirinya. Anggara beranggapan jika, putranya itu sama sekali tidak memikirkan bagaimana nasib perusahaan ke depan. Karena kerja sama yang gagal beberapa hari lalu dapat menjamin kesejahteraan perusahaan selama sepuluh tahun ke depan.
"Kau tidak pantas menjadi CEO, yang memimpin banyak anak buah dan juga karyawan. Kau tidak tegas dan berintegritas. Kau lemah, Bagas Gustavano! Bahkan, kau mempercayai hal yang tidak mungkin terjadi pada laki-laki sejati!" seru Anggara masih menampik kenyataan bahwa yang Bagas alami adalah akibat dari Couvage syndrome. Meskipun, Anggara mencurigai kehamilan Alexa akan tetapi ia menampik persepsi dan penjelasan non-medis itu. Baginya, antara kehamilan perempuan tidak akan bisa di sangkut-pautkan dengan keadaan hati dan juga tubuh seorang pria.
"Kalau begitu, lepaskan aku! Urus saja perusahaan mu ini sendiri!" seru Bagas menanggapi ucapan Anggara yang semakin jadi dalam mengecilkan dirinya.
"Hah, kau sombong pada waktu dan orang yang salah! Apa kau telah berpikir dengan benar atas perkataan mu barusan! Apa akibatnya jika berani menantang ku!" hardik Anggara. Walaupun ia tidak puas akan kinerja Bagas selama ini, bukan berarti juga ia akan menendang sang putra satu-satunya dari kerajaan bisnisnya itu.
__ADS_1
"Aku hanya ingin mewujudkan keinginanmu saja, Pa! Bukankah kau sudah muak melihat ku yang mengacau segalanya!" seru Bagas lagi. Membuat Anggara mengadu geraham menahan emosi. Berani sekali putranya saat ini. Pertama kalinya Bagas menentang dengan sorot mata yang tak kalah tajam darinya. Inilah yang ia takutkan jika sang putra terlalu bucin. Otaknya mendadak tumpul dan bodoh.
"Jangan congkak kau anak muda! Apa yang bisa kau perbuat tanpa kekayaan keluarga Gustavano! Kau tau bagaimana kekayaan serta kekuasaan keluarga kita berkembang pesat. Semua tidak akan terjadi jika aku cengeng dan juga lemah sepertimu! Bahkan, aku tidak peduli ketika ibumu meninggalkan diriku dengan seorang bayi merah hanya demi laki-laki lain! Seharusnya kau kuat! Itulah gunanya aku mendidikmu dengan keras selama ini, Bagas Gustavano! Pikirkanlah, berapa kerugian yang kau dapatkan gara-gara rasa cinta mu kepada seorang perempuan!" tutur Anggara penuh penekanan. Tak lama kemudian ia pun berlalu dari ruang kerja putra satu-satunya itu.
Selepas Anggara pergi, Bagas segera menghempaskan tubuhnya di sofa. Ia terlihat memijat pelipisnya yang berdenyut-denyut. Bahkan, tengkuknya kembali terasa berat. Bagaimana ia tidak memikirkan keadaan Alexa. Apalagi jika ia tau bahwa kemungkinan besar Alexa kini tengah hamil anaknya, keturunannya yang berasal dari benih yang secara tidak sengaja semburkan malam itupun.
Sementara itu di negara yang lain. Alexa benar-benar bed-rest total. Semua itu karena dokter kandungan telah mendiagnosis bahwa Alexa mengalami plasenta previa. Diman kondisi ini adalah, ketika posisi plasenta menutupi leher rahim. Sehingga hal itu menyebabkan pendarahan ringan bahkan kadang berat. Sebab itukah, dokter pribadi yang telah di persiapkan secara khusus oleh Azriel, selalu mengontrol perkembangan janin dan keadaan Alexa sendiri.
__ADS_1
"Kak, aku bosan. Aku hanya ingin memasak sebentar saja. Tapi, Mey-Mey selalu melarang ku," rengek Alexa yang mana hal itu membuat Mey-Mey dan juga Azriel melongo.
...Bersambung ...