
🏹🏹🏹🏹🏹
"Apa yang terjadi? Kenapa tanganmu bisa mendapat luka bakar seperti ini?" tanya pria berwajah Asia yang kini duduk di depan brangkar sambil memandangi tangan Alexa yang tengah di balut perban oleh perawat.
"Tidak apa, Lian. Aku hanya tidak sengaja menumpahkan air panas ke tanganku," jawab Alexa menutupi kejadian sebenarnya.
"Tapi, Nona. Tangan anda bukan terbakar karena air pa--" ucapan perawat di klinik tersebut terpotong karena mendapat tatapan tajam penuh arti dari Alexa.
Lian memperhatikan semuanya. Ia paham jika Alexa tengah menyembunyikan sesuatu darinya. Belum lama ia menyelamatkan Alexa dari pelecehan yang hampir menghancurkan diri wanita itu. Sekarang ia menemukan Alexa di pinggir jalan dalam keadaan tangan yang terdapat luka bakar serius.
"Aku akan mengantar mu pulang." ucap Lian sambil membukakan pintu klinik untuk Alexa. Pria itu tak sedetikpun melepaskan pandangannya dari wanita yang sudah dua kali ditolongnya. Ia hendak menuntun akan tetapi Alexa menolak.
"Aku harus kekantor. Sudah dua hari aku tidak bekerja, nanti bos-ku marah," tolak Alexa. Ia telah menghubungi Bagas akan tetapi pria malah mematikan teleponnya secara sepihak. Tentu setelah Alexa mengatakan di mana dirinya saat ini. Ia menghubungi Bagas ketika berada dalam ruangan pemeriksaan, dan Lian Feng tidak mengetahui hal itu.
"Katakan saja keadaanmu. Masa lagi sakit begini mau bekerja. Kau pasti akan kesulitan," ujar Lian Feng. Menanggapi keras kepalanya Alexa.
"Biar saja. Aku bisa mengerjakan tugas dengan satu tangan. Terimakasih karena telah membawa ku kesini," ucap Alexa dengan senyum manisnya kepada Lian.
'Kau manis sekali Alexa. Apakah aku bisa memilikimu.' Batin Lian Feng, seraya membalas senyum Alexa dengan hati senang dan gembira. Padahal baru dapat senyum saja.
'Apa-apaan ini!' Bagas mengeratkan gerahamnya tatkala kedua mata tajamnya menangkap satu pemandangan yang mengusik hatinya.
"Ekhem!" Bagas berdehem agar dua orang di hadapannya menyadari keberadaan dirinya.
"Bagas! Ehm, maksudku ... Tuan!" kaget Alexa, hingga ia menangkup dadanya.
__ADS_1
"Kenapa anda kesini? Sebenarnya itu tidak perlu," ucap Alexa tak enak hati. Padahal ia tak menyuruh Bagas untuk menjemput nya. Ia hanya memvisualisasikan lokasi agar Bagas percaya. Siapa sangka jika bos gletsernya itu tiba-tiba muncul.
"Memang sepertinya aku tidak perlu datang!" sarkas Bagas seraya menatap penuh selidik ke arah Lian.
"Karena aku sudah di sini. Maka tanggung jawab itu telah berpindah otomatis kepadaku," ucap Bagas mengarah pada Lian.
Lian yang paham posisi dirinya hanya bisa tersenyum getir dan sedikit menunduk kan kepala untuk mohon pamit undur diri.
"Sampai ketemu lagi Alexa. Jaga dirimu baik-baik," ucap Lian Feng pelan sebelum ia benar-benar berlalu. "Oke!" Alexa menjawab hanya dengan gerakan bibirnya dan kode dari jarinya. Yang mana hal itu justru membuat Bagas mendengus. Ia merasa tak di hargai saat ini. Sepertinya Bagas menyesal meninggalkan Yukia dan malah mendatangi asistennya itu. Akan tetapi ia tak dapat menyangkal hati kecilnya yang seketika khawatir akan keadaan Alexa.
"Kau ini. Semua pria kau beri sikap yang manis. Bagaimana mereka tidak berani dan salah paham padamu. Bahkan adik tiri sendiri berniat memakan mu," omel Bagas yang mana membuat kening Alexa seketika mengkerut.
"Anda kenapa sepertinya sedang protes pada saya? Apa kah perilaku saya selama ini ada yang salah? Apa maksud Tuan dari kata-kata menjadi berani dan salah paham?" cecar Alexa. Ia yang tengah merasakan cenat-cenut pada lengannya menjadi naik pitam seketika.
"Kau. Lain kali tidak perlu bersikap terlalu manis pada pria. Karena itu bisa membuat mereka salah paham!" ujar Bagas menegaskan.
"Senyummu itu! Apa kau tidak sadar kalau kau itu suka sembarangan menebar senyum pada setiap laki-laki!" ucap Bagas kali ini dengan nada yang cukup tinggi membuat Alexa semakin jengkel di dalam hati.
"Ada masalah apa memang dengan saya yang tersenyum? Itu hanya sebatas attitude dan tanda sopan. Apa anda tengah mempermasalahkan senyum saya pada Lian?" ketus Alexa tak habis pikir.
"Tidak perlu menyebutkan namanya. Aku tau siapa bocah itu!" balas Bagas dengan nada yang ketus juga.
"Haih, saya hanya menyampaikan rasa terima kasih saya saja. Apakah itu salah?" kesal Alexa. Kali ini mau tak mau ia memiringkan tubuhnya agar dapat menghadap ke arah Bagas. Ia tak paham kenapa Bagas mempermasalahkan hal sekecil ini.
"Senyummu itu mengandung arti. Pria manapun akan salah paham dan menganggap hal lain padamu," ucap Bagas tetap tak mau mengalah.
__ADS_1
"Tentu saja mengandung arti." Mendengar kalimat yang di ucapkan Alexa barusan. Membuat, Bagas sontak menginjak pedal rem tiba-tiba.
Dugh!
"Aw!"
"Apa yang anda lakukan! Apa luka di tangan saya ini kurang parah? Sampai anda juga mau melukai kepala saya!" pekik Alexa protes dimana keningnya kini berdenyut nyeri karena membentur dashboard mobil.
"Apa maksud mu dengan senyum mengandung arti? Apa hubunganmu dengan anak boyband itu?" cecar Bagas tanpa mau tau keadaan Alexa yang tengah mengelus dahinya. Membuat Alexa menganga karena sikap Bagas yang seenaknya saja ini.
"Ini sakit lho, Tuan. Apa anda tidak ada niat meminta maaf pada saya?" ucap Alexa mengingatkan Bagas bahwa dirinya baru saja menganiaya orang lain.
Tanpa disangka, Bagas mengulurkan tangannya untuk mengusap dahi Alexa. Meski pandangan pria itu tetap ke depan.
Sekali lagi, Alexa dibuat melongo karena sikapnya yang aneh.
Sambil nungguin update novel ini.
Mampir juga kuy, ke novel mak chibi yang lainnya.
Fav, Like dan Komen ya gais.
__ADS_1
...Makasih...
...Bersambung...