Terpaksa Menggoda Suami Orang

Terpaksa Menggoda Suami Orang
TMSO. Bab 55. Kekecewaan Mendalam.


__ADS_3

🏹🏹🏹🏹🏹


Bagas menghela napasnya. Tidak menyangka jika sang papa kecolongan juga seperti ini. Tidak mengira jika pendamping yang di anggap setia dan berdedikasi seperti Lou ternyata adalah seorang penghianat. Lou sungguh bermain dengan epik dan cerdas sehingga Anggara baru dapat mencium gelagatnya baru-baru ini.


"Buka file dalam berkas yang berada di bawah kursimu!" Anggara memberi petunjuk pada Bagas. Ada satu lagi bukti yang harus di ketahui oleh putranya itu mengenai Yukia. Bagas pun menuruti perintah Anggara. Ia menarik secarik amplop coklat lalu membukanya dengan cepat.


"Ini ... astaga! Shitt! Kau benar-benar ******, Yukia!" Bagas menggeram kesal. Namun, hal itu tertahan dalam dadanya yang kemudian mencipta gemuruh. Ketika, satu dari beberapa bukti kuat menunjukkan betapa jagat dan bejat, wanita yang selama ini ia berikan cinta tulus dan penuh itu. Sakit? Tentu saja sangat sakit. Kecewa? Jangan ditanya lagi bagaimana rasanya. Ketika bukan satu dua kesalahan yang pernah dilakukan Yukia padanya selama beberapa tahun kebersamaan mereka.


"Enak kan, di sakiti dan di kecewakan segitu dalamnya oleh perempuan!" cibir Anggara, seakan tak ada empatinya sama sekali atas apa yang Bagas alami dan derita. Dadanya bagaikan tertusuk sembilu beracun. Sesak sekaligus perih. Apalagi bukti itu berimbas kepada status Theo putra menggemaskan yang selalu menjadi penghilang lelahnya. Dulu, Bagas selalu mampu bertahan akan sikap Yukia yang abai di sebabkan kehadiran Theo yang membuat dirinya menjadi lelaki sempurna. Bagaimanapun Yukia berkali- kali menorehkan kecewa di hatinya. Bagas selalu dapat menyembuhkan luka berkat kehadiran Theo. Kini, dirinya telah tau siapa benih dan darah yang mengalir di tubuh putranya itu.


"Huh, apa aku masih bisa menganggapnya putraku!" Bagas mengeratkan rahang serta mengepalkan buku-buku jarinya. "Aaarrrggghh!" teriaknya seraya melempar laptop yang berada di atas pangkuannya. Sedangkan, berkas-berkas itu, telah ia robek-robek Sedemikian rupa.


"Bodoh!"


"Kita berdua pantas di cap sebagai laki-laki bodoh. Heh, bukan kita. Hanya kau!" tunjuk Anggara dengan raut kesal yang begitu kentara di wajah tuanya. Rahang tegas itu bergemeletak menahan emosi yang ingin sekali meledak. Kemudian, terlihat Anggara menerima panggilan melalui benda yang tersemat di telinganya.


"Jangan habisi dia sekarang. Bawa ketempat biasa!" titah Anggara tegas dengan senyum sinis nya. Sebuah pembalasan bagi sang penghianat telah ia siapkan dengan epik.

__ADS_1


"Aku ikut, Pa!" ucap Bagas dengan wajah kusut akibat kesal bukan main. Sekarang dia mengerti kenapa Anggara memperlakukan Theo seperti itu. Kini, bahkan hatinya pun ragu. Akankah, perasaannya masih sama? Ketika dia telah mengetahui darah siapa yang mengaliri di dalam tubuh putra yang selama ini dia sayangi sepenuh jiwa. Tanpa sadar, cairan sebening kristal itu menumpuk di sudut pelupuk matanya.


"Apa yang harus aku lakukan padanya, Pa?" tanya Bagas tanpa melihat kearah Anggara. Seorang Daddy itu hanya bisa menatap ke bawah diantara pijakan kedua kakinya.


"Entahlah! Papa belum bisa berpikir sebelum melihat pria itu memohon ampun sambil meregang nyawa!" ucap Anggara geram.


______


"Theo sudah tidur?" tanya Mey-Mey pelan pada Alexa. Menanggapi pertanyaan dari sahabatnya itu, Alexa hanya dapat mengangguk dengan lemas. Hatinya juga ikut terluka melihat Theo sesedih itu.


"Aku pun turut sedih, Lex. Bagaimana nasib Theo selanjutnya? Bagaimana anak itu menghadapi kenyataan di masa depannya nanti. Kenapa orang-orang itu tidak berpikir sebelum menjadikan anak itu senjata. Bagaimanapun, bocah itu punya hati dan pikiran. Apalagi, Theo lebih pintar dibandingkan anak seusianya. Kita tidak akan mudah membohongi dia." Mey-Mey pun nampak ikut cemas dan prihatin. Siapapun akan langsung jatuh cinta dan menyayangi Theo dengan tulus. Ketika, kau memandang wajahnya serta melihat tingkah lakunya yang menggemaskan.


Heran, memang. Ketika yang sedarah dengan bocah itu justru tidak memiliki perikemanusiaan. Ataukah sejatinya mereka itu memang hanya casing berwujud manusia akan tetapi hatinya adalah iblis jahanam.


"Aku akan membawanya pergi sejauh mungkin, hingga tak ada lagi manusia yang mempu menyakitinya!" geram Alexa seraya meneguk kamar air putih hingga tandas segelas dalam waktu sepersekian detik.


"Apa yang ingin kau lakukan, Lex? Apa rencana mu?" cecar Mey-Mey khawatir. Ia melihat gelagat tak beres dari raut wajah sahabatnya ini. Alexa adalah orang yang nekat dan berani. Ia memiliki hati yang sangat baik dan tidak tegaan terhadap orang lain. Apalagi jika hal itu menyangkut anak-anak.

__ADS_1


"Anggara benar. Perjanjian kami berdua sudah selesai. Saatnya aku pergi dari kehidupan para milyarder ini. Tempat kita bukanlah di sini lagi, Mey. Tapi itu terserah padamu, aku akan pergi bersama Theo," ucap Alexa yakin dengan tekadnya yang sudah bulat itu. Perasaannya mengatakan, kedepannya urusan Theo akan semakin pelik. Dirinya tidak mau mental Theo yang akan mendapat imbasnya.


"Aku ikut!" seru Mey-Mey.


"Kau kan, di pekerjakan Bagas di perusahaannya. Aku tidak akan melibatkan mu, percayalah," ucap Alexa menolak keikutsertaan Mey-Mey pada aksinya yang akan beresiko itu.


"Aku tidak mau. Aku akan terus bersama sahabat ku. Bukankah, itu arti hubungan kita sebenarnya." Mey-Mey menaikkan sudut bibirnya hingga melengkungkan senyum di wajahnya.


______


Limosin yang membawa Bagas dan Anggara di dalamnya telah berhenti di sebuah bangunan mewah. Mini mansion itu dikelilingi pagar setinggi dua meter. Bagas dan Anggara yang telah turun, segera. menjejakkan kaki dan melangkah dengan pasti. Hingga, kini mereka telah sampai di sebuah ruangan khusus di lantai bawah.


"Siram lukanya dengan larutan cuka!"


"Arrggh!"


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2