Terpaksa Menggoda Suami Orang

Terpaksa Menggoda Suami Orang
TMSO Bab 29. Perhatian Atau?


__ADS_3

🏹🏹🏹🏹🏹


'Apa yang dia lakukan? Kenapa dia mengusap keningku. Lalu, kenapa hatiku berdebar. Tidak! Ini pasti karena kaget saja.' Dalam hari Alexa berusaha terus membantah perasaannya.


Seketika sadar, Bagas pun menarik tangannya. Jemarinya yang besar itu kembali mencengkeram kemudi. Kemudian mobil yang dikendarainya melaju untuk membelah arus lalu lintas pagi menjelang siang itu.


"Ini bukan jalan menuju kantor?" heran Alexa seraya kembali menoleh demi menangkap maksud Bagas dari ekspresi pria gletser Antartika itu. Sayang, Alexa tak mampu menelisik maksud dari Bagas. Ekspresi pria itu sangatlah rata. Bahkan, landasan di bandara kalah tuh datarnya.


"Bicara sama orang tapi kayak bicara sama tembok!" omel Alexa menggerutu dengan suara kecil. Namun, itu masih dapat di dengar oleh Bagas. Akan tetapi pria itu acuh saja. Ia tetap menjalankan kendaraan roda empat itu. Hingga akhirnya, Alexa kembali melongo dibuat oleh Bagas.


"Ngapain kita ke restoran, Tuan?" tanya Alexa, tapi menyesal karena percuma juga bertanya. Bagas tidak akan menjawab.


"Jangan menanyakan hal yang sudah kau tau jawabannya. Buang-buang tenaga." Itulah kalimat manis yang keluar dari mulut tipis Bagas. Setelah keduanya memutuskan untuk duduk di pojok pinggir jendela. Agar mereka tidak menjadi pusat perhatian karena berada di paling ujung restoran.


Alexa pun mendengus kecil mendapat jawaban begitu dari bos-nya. Ia menyeret kursinya kasar demi mengeluarkan jengkelnya. Sehingga tatapan tajam dari pria di hadapannya itu Alexa telan mentah-mentah.


'Apa!' Seandainya bisa ia ucapkan begitu sambil melotot juga. Tapi sayangnya hanya berani dalam hati saja. Ia tak mau cari ribut, ia lelah dan perih. Luka di lengannya ini telah membuatnya merasa tak nyaman.


"Silakan dinikmati, Tuan dan Nyonya," ucap ramah sang pramusaji pria tersebut. Sebelum akhirnya ia berlalu dengan mundur terlebih dahulu.


Alexa memandangi makanan yang ada dihadapannya. Kenapa juga dia harus pesan steak ayam crispy. Sudah tau tangan kanannya diperban. Alexa tidak biasa menggunakan pisau dengan tangan kiri, jika garpu saja ia masih bisa.


Ketika Alexa masih berpikir bagaimana caranya makan. Tau-tau ada tangan besar yang menarik piringnya. Tanpa bicara, pria di hadapannya yang tak lain adalah bos-nya sendiri kini tengah memotong-motong steak miliknya. Kemudian, Bagas kembali mendorong piring miliki Alexa ke tempat semula.

__ADS_1


GLEK.


'Apa-apaan dia? Sok perhatian sama aku? Apa dia merasa bersalah karena telah menuduhku yang tidak-tidak?' Batin Alexa. Berbagai pertanyaan berputar di kepalanya. Ia tak tau apa yang harus ia lakukan saat ini. Maksudnya, untuk menanggapi perlakuan Bagas padanya saat ini. 'Apa aku harus mengatakan--'


"Terimakasih," ucap Alexa, seketika kata-kata yang barusan terangkai di kepalanya meluncur begitu saja. Sedikit menyesal sih, karena Bagas tetap pada ekspresi ratanya.


"Terpenting sudah kukatakan. Terserah mau diterima atau tidak," oceh Alexa pelan, seraya mengunyah potongan steak ayam yang baru saja masuk ke mulutnya menggunakan garpu.


"Wanita terpelajar tapi tidak tau aturan makan!" celetuk Bagas. Lagi-lagi tanpa melihat ke arah lawan bicaranya. Bentuk meja mereka yang bulat dan jarak mereka yang dekat. Membuat Bagas dengan mudah menjulurkan tangannya yang baru saja menarik secarik tissue dari kotaknya.


"Jangan kotor begini juga, ingat jaga image-mu!" seru Bagas seraya menyeka pinggir bibir Alexa yang terkena saus. Ternyata makan menggunakan tangan kiri memang merepotkan dan agak berantakan.


Sementara, Alexa yang di perlakukan seperti itu justru langsung sontak menghentikan makannya. Ia menjadi kikuk dan bingung bagaimana bersikap dengan Bos dinginnya itu. Dia ajak akrab, ya bos-nya jarang bicara. Di cuekin, ya masa sih sombongnya harus melampaui bos-nya sendiri.


"Sudah makan, jangan banyak bicara. Setelah ini kita ke apartemen mu." Bagas memotong kalimat yang hendak dilontarkan Alexa kepada Bagas. Membuat Alexa menelan lagi sisa kalimatnya itu.


Kini mereka makan dalam diam, meski terlihat sesekali Bagas yang mencuri pandang pada Alexa. Beberapa perhatian kecil Bagas tunjukkan pada Alexa, entah dirinya sadar atau tidak. Seperti menyodorkan gelas minuman milik Alexa. Setelah sebelumnya ia mengaduk minuman itu. Mendekatkan kotak tissue, agar Alexa mudah membersihkan mulutnya.


Alexa hanya menyimpan kebingungannya dalam hati. Ia pura-pura seakan semua terjadi biasa saja.


'Cerita tidak ya, kalau istrinya hampir saja mencelakai ku? Apa dia tidak tau, jika Yukia masuk rumah sakit? Kenapa malah di sini bersamaku.' Batin Alexa, dengan segudang tanya. Tentu saja dia bingung. Pasalnya, istri sah hampir saja menyiramnya dengan air keras. Akan tetapi sang suami justru tengah menemaninya makan siang sambil sesekali melayaninya.


'Haihh, makin di cap pelakor deh kalo begini.' Batin Alexa lesu. Ini bukan kemauannya. Bukanlah niatnya. Meskipun, Alexa tau motiv di balik rencana Anggara. Walaupun, Alexa tau istri seperti apa Yukia itu sebenarnya. Akan tetapi, posisinya akan tetap salah dimata orang lain.

__ADS_1


Drrrrttt ...


Terdengar sebuah notifikasi pesan dari ponsel milik Bagas. Pria itu hanya meliriknya sekilas, lalu menatap Alexa sebentar. Setelahnya, ia mengeluarkan kartu debitnya. Sambil melambaikan tangan guna memanggil pelayan restoran tersebut.


"Totalnya, delapan ratus sembilan puluh tujuh ribu, sembilan ratus sembilan puluh sembilan, Tuan." Sang pelayan menyebut harga dari makanan dan minuman yang di pesan. Membuat Alexa sontak tersedak, kentang goreng.


"Buatkan lagi nona ini kentang goreng seperti itu," pesan Bagas pada pelayang tersebut. Terus diangguki dan pelayan itu pergi. Namun Alexa segera menahan langkah kaki pelayan tersebut.


"Tidak perlu. Saya sudah kenyang!" teriak Alexa.


'Aku tersedak bukan karena masih lapar. Tapi karena kaget dengan harga makanan di sini. Hanya makan steak saja hampir satu juta. Gila!' umpat Alexa dalam hatinya.


Kemudian pelayan itu pun Menundukkan tubuhnya, dan berlalu.


"Istirahat saja sampai tanganmu sembuh. Aku akan mencari orang untuk menggantikan mu sementara. Karena, aku harus ke Jepang besok," ucap Bagas sambil memegangi pintu mobil yang ia buka untuk Alexa. Satu hal lagi yang membuat Alexa kembali tak enak hati. Padahal ia masih bisa membuat pintu itu tanpa bantuan dari Bagas.


"Terimakasih atas pengertian anda, Tuan." Alexa membungkukkan sedikit tubuhnya. Maafkan kelakuan istriku. Aku akan bertanggung jawab hingga kau sembuh. Kau jangan sampai menuntutnya dan membawa kasus ini ke yang berwajib. Karena aku tak ingin menyakiti Theo jika wanita yang ia kira mommy-nya itu di penjara." Sontak kalimat peringatan dari Bagas membuat kedua mata Alexa membola sempurna.


Ternyata Bagas tau kejadian yang sebenarnya. Alexa sudah takut saja jika ia yang akan di salahkan nantinya. Karena, ia pikir bagaimana pun Bagas sangat mencintai Yukia.


Satu hal lagi yang membuat Alexa menatap Bagas tak percaya, jika Theo ternyata--


__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2