Terpaksa Menggoda Suami Orang

Terpaksa Menggoda Suami Orang
TMSO Bab 19. Mahkota Yang Terkoyak


__ADS_3

๐Ÿน๐Ÿน๐Ÿน๐Ÿน๐Ÿน


"Saya hanya bermaksud melindungi pegawai andalan perusahaan. Dasar apa yang membuat anda keberatan?" sarkas Bagas sinis. Ia mulai jengah dan gerah akan kelakuan Azriel.


Alexa hanya bisa tersenyum sungkan pada Azriel. Membiarkan apa yang Bagas lakukan karena itu telah menjadi salah tugas dari misinya.


Bagas ternyata memperkenalkan Alexa pada para pengusaha hebat lainnya. Yang pasti kebanyakan dari mereka adalah para pengusaha di usia senja. Setidaknya mereka tidak akan menggoda Alexa, begitu pikirnya.


"Wah, anda sangat berwawasan Nona. Ternyata bukan hanya cantik, anda juga sangatlah jeli pada bisnis dan juga tekhnologi digital," ucap pria berwajah chubby dengan raut wajah khas tionghoa itu. Ia adalah salah satu owner dari beberapa stasiun televisi swasta dan juga raja bisnis tekhnologi digital.


" Anda, terlalu berlebihan Tuan Herry." Alexa menundukkan kepalanya tanda hormat. Kemudian ia mengangkat kepalanya dan tersenyum ramah.


"Karir anda akan cemerlang lima tahun ke depan. Akan banyak perusahaan yang merekrut anda. Itu juga seandainya, Tuan Gustavano melepaskan aset berharga ini." Salah satu pengusaha menunjuk Alexa dengan tatapan penuh kekaguman.


"Tolong, jangan terlalu memuji saya. Di sini, saya masih dalam tahap belajar. Mohon bimbingannya." Lagi-lagi, Alexa menunduk sebagai tanda hormat dan ucapan terimakasih. Inilah salah satu nilai plus bagi Alexa. Attitude dan kesahajaannya lah yang menjadi daya tarik sendiri dari dirinya, karena di era ini sangatlah jarang attitude bagus di temui pada diri wanita yang memiliki banyak kelebihan seperti Alexa.


๐˜›๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜จ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข.


๐˜”๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด.


๐˜š๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ-๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฐ๐˜ฃ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ข๐˜ญ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช.


Batin Alexa, bangga pada dirinya sendiri. Setidaknya kerja kerasnya membaca buku setebal delapan centimeter ada gunanya juga.


Sementara itu, pria di sebelahnya hanya memasang senyum tipis pada setiap pengusaha yang memuji Alexa. Bukannya ia tak bangga, hanya saja hatinya merasa tak rela karena Bagas sadar ada rayuan di balik pujian. Ia juga takut jika Alexa besar kepala, lalu meninggalkan perusahaannya.


๐˜š๐˜ช๐˜ข๐˜ญ!


๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜น๐˜ข.


๐˜‰๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ด๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜น๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด.


Batin, Bagas risau. Ia pun berpikir keras mencari alasan, agar dapat membawa Alexa keluar dari kerumunan pengusaha yang kebanyakan tengah puber kedua itu.


"Maaf semua, tanpa mengurangi hormat saya. Sepertinya, asisten saya sejak tadi belum mengisi lambungnya. Saya sebagai bos-nya merasa berkewajiban untuk memperhatikan pola makannya," jelas Bagas, mencari alasan untuk membubarkan diri.


"Lho, di sini saja. Biar saya panggil asisten untuk menyiapkan makan bagi Nona Alexa," ujar pengusaha terkaya yang masuk dalam jajaran dua puluh besar di negeri ini.


Alexa menoleh ke arah Bagas bermaksud meminta pendapat. Hanya melalui tatapan Bagas, Alexa bisa memahami maksud dari bos-nya itu.

__ADS_1


"Maaf sekali, Tuan Herry. Saya, tidak nyaman makan di antara orang-orang hebat seperti anda semua. Terimakasih atas pelajaran dan ilmunya, semoga kita memiliki kesempatan untuk bertemu kembali," tutur Alexa seraya membungkukkan tubuhnya.


"Ah, baiklah. Sesungguhnya kami tidak bermaksud memaksa," balas Herry dengan senyum ramahnya.


Bagas pun tak luput melakukan penghormatan kepada para pengusaha seniornya itu. Seharusnya sang Papa, Anggara Gustavano ikutan hadir. Tapi sayangnya, orang tua satu-satunya itu tengah tergila-gila dengan seorang wanita. Hingga, Anggara menghabiskan waktu di akhir pekan bersama dengan kekasih hatinya.


_______


"Rupanya ada senang karena banjir pujian," sindir Bagas. Membuat Alexa menarik gelas yang tengah di genggam bos-nya itu.


"Sudah cukup, Tuan. Anda sudah mulai mabuk." Alexa menyingkirkan botol alkohol itu dari jangkauan Bagas.


"Kenapa? Apa kau tidak suka bau mulutku?" tanya Bagas ambigu.


"Mendekatlah Alexa!" pinta Bagas pada asisten cantiknya itu.


๐˜”๐˜ข๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข?


Benar saja. Ternyata kekhawatiran Alexa menjadi kenyataan sebelum ia membungkam kata batinnya. Karena, bibir seksinya kembali di bungkam oleh Bagas.


"Hentikan! Anda sudah kelewat batas, Tuan Gustavano!" pekik Alexa setelah ia melepas paksa pagutan dari bos-nya itu.


"Sudah hentikan!" Alexa menyambar gelas minuman yang kembali menempel pada bibir bos-nya itu.


๐˜๐˜ข๐˜ช๐˜ฉ๐˜ฉ, ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข-๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ต ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช.


Decak kesal Alexa dalam hatinya.


"Kurang ajar kau! Beraninya kau mempermainkan perasaanku!" hardik Bagas, sepertinya ia kembali salah sasaran kerena mabuk.


"Haiihh, mabuk lah tu." Alexa berdecak ketika tangannya dihempaskan keras oleh Bagas.


๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฉ.


๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ด๐˜ฆ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช.


Alexa yang menemani Bagas minum di salah satu ruang VVIP sebuah klab. Merasakan bahwa dirinya kembali terancam, karena tatapan Bagas begitu nyalang pada tubuhnya.


Alexa pun membawa Bagas ke apartemennya. Setidaknya ia harus memanfaatkan momen ini untuk membuat bukti perselingkuhan Bagas dengan dirinya. Agar nanti Yukia semakin gerah.

__ADS_1


Bagas yang setengah sadar diam saja, kala Alexa membuka atasannya. Lalu gadis itu mengambil foto kebersamaan keduanya.


๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ช๐˜ซ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช?


๐˜š๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข.


Alexa hendak turun dari tempat tidur, akan tetapi sebuah tangan dan teriakan menghentikan niatnya itu.


"Mau kemana kau !" Bagas berteriak seraya menarik tangan Alexa hingga tubuh gadis itu terjatuh ke sofa bed. Segera ia mengungkung dengan raga tegapnya. Mabuk alkohol membuat mata dan hatinya buta. Tenaga Bagas pun menjadi teramat kuat lantaran mabuk dan emosi.


"Aโ€“anda masih sadar?!" kaget Alexa. Ia pikir Bagas terlalu mabuk dan pingsan


"Tentu saja aku sadar. Jika kau tengah memanfaatkan diriku. Juga, agar dapat menikmati tubuhku ini!" ucap Bagas dengan suara seraknya. Kedua matanya semakin berkabut lantaran hasrat membuncah.


Alexa segera menyilangkan tangan menutupi dadanya. Ia tak menyangka jika Bagas akan melihat dirinya dalam keadaan hampir telanjang seperti ini.


"Tuan, apa yang anda pikirkan itu tidaklah benar! Anda salah paham!" jelas Alexa setengah berteriak lantaran panik. Namun, Bagas yang masih dalam pengaruh Alkohol tentu tidak dapat mencerna penjelasan darinya.


"Bantu aku melepas amarah ini. Aku menyukai mu Alexa." Bagas telah memajukan wajahnya dan merampas bibir ranum Alexa. Seketika tubuh Alexa yang berada di bawah kungkungan Bagas gemetar.


๐˜›๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ!


๐˜‰๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ.


๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ด๐˜ช.


๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜จ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช.


Alexa terus berupaya menahan ciuman Bagas yang mulai turun ke dadanya. Karena Alexa hanya mengenakan piyama tidur dengan tali spaghetti.


"Hentikan, Tuan! Apa yang anda lakukan ini sudah kelewatan!" jerit Alexa berusaha mendorong, akan tetapi Bagas menahan kedua tangannya.


"Jangan munafik! Bukankah kau ingin aku terjerumus pesona mu? Maka, terimalah. Aku yang sudah tenggelam ke dalamnya." Pengaruh alkohol telah menutup pikiran sehat seorang Bagas. Ditambah kekecewaan dan emosi yang tertahan selama beberapa hari ini.


๐˜‘๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข.


Batin Bagas buta karena amarah dan dendam pada istrinya. Tanpa ia sadari bahwa kini dirinya tengah melukai seseorang.


"Tidakk ....!" jerit Alexa, ketika sesuatu yang paling berharga dalam dirinya koyak di kamarnya sendiri.

__ADS_1


Bersambung>>>>


__ADS_2