
🏹🏹🏹🏹🏹
"Apa yang kau lakukan padanya!" pekik Mey-Mey dengan kilatan amarah dari sepasang mata sipitnya.
"Aku, tidak sengaja." Bagas menghampiri dan hendak membangunkan Alexa, akan tetapi Mey-Mey menangkis tangan kekarnya.
"Dasar pria kasar! Pergi sana atau ku panggilkan polisi!" usir Mey-Mey kesal.
"Sudahlah Mey, tidak perlu begitu. Lagipula, aku baik-baik saja," tahan Alexa agar tak melampiaskan emosinya pada Bagas. Bisa tambah runyam nanti urusannya.
"Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia terlihat berantakan sekali?" tanya Bagas pada Mey-Mey . Namun gadis berwajah oriental itu meliriknya sinis. Setelah memapah Alexa dan meletakkannya di sofa. Mey-Mey menarik lengan Bagas agar sedikit menjauh dari Alexa.
"Lepaskan tanganmu dariku! Berani sekali kau menyentuh ku!" tepis Bagas cekalan Mey-Mey di lengannya.
"Ck. Saya hanya ingin bicara dengan anda. Karenanya kita harus agak jauh dari Alexa," jelas Mey-Mey sambil sesekali menoleh ke dalam .
"Jika memang penting, cepat katakan! Jangan membuang waktuku atau kau--" Bagas tidak meneruskan kata-katanya ketika ia mendapat bekapan pada mulutnya.
"Jangan kencang-kencang bicaranya," tekan Mey-Mey . Membuat kedua mata Bagas berkilat merah menahan kesal yang teramat. Baru kali ini ada wanita yang berani melakukan ini padanya. Keberaniannya hampir sama dengan Alexa.
"Jauhkan tanganmu dariku." Bagas pun berkata sambil menahan geram pada Mey-Mey. Seraya mencengkeram kuat tangan yang barusan membekap mulutnya. Kemudian ia menepis tangan itu ketika melihat Mey-Mey meringis.
"Anda sangat kasar. Tidak berperikewanitaan!" sarkas Mey-Mey sambil mengerucutkan bibirnya seraya menggerutu.
"Cepat katakan apa yang ingin kau bicarakan padaku!" tagih Bagas dengan geraham beradu.
"Apa yang telah anda lakukan pada Alexa sahabat saya! Kenapa anda merenggut kehormatannya begitu saja. Sekarang namanya pun rusak di mata publik. Sehingga ia mengalami pelecehan dari adik tirinya sendiri," tutur Mey-Mey pelan tapi jelas di telinga Bagas.
"Kejadian antara kami, kurasa bukanlah urusanmu. Katakan siapa yang kau maksud adik tiri dan tentang pelecehan!" Bagas mencengkeram bahu Mey-Mey dan menatap tajam ke arah bola matanya.
" Laki-laki tak bermoral, kau itu sudah punya istri. Apa kau tidak berpikir panjang! Ketika merampas itu dari Alexa!" pekik Mey-Mey tertahan.
__ADS_1
"Itu kesalahanku, aku akan bertanggung jawab padanya. Tapi, sekarang semua rencana ku berubah. Sebab, dirinya sama saja dengan para wanita penjaja raga di luar sana," ucap Bagas dengan cahaya mata berkilat amarah dan kecewa.
"Apa kau mengira Alexa-ku seperti itu? Apa yang telah kau lihat sehingga mengira dirinya begitu rendah di mata mu?" cecar Mey-Mey, pantas saja Bagas sangat marah. Ia takut kecurigaan benar adanya.
"Aku akan menanyakannya pada Alexa langsung." Bagas hendak melewati Mey-Mey, akan tetapi gadis itu kembali menahan tubuh kekarnya sekuat tenaga.
"Jangan coba-coba. Alexa tengah terguncang saat ini," ucap Mey-Mey penuh penekanan.
"Sebenarnya apa yang baru saja terjadi padanya?Bukankah ia baru saja bersenang-senang dengan kekasihnya itu," sindir Bagas dengan senyum miring merutuk.
"Siapa yang kau sebut kekasihnya? Bahkan, Alexa tidak memiliki temen dekat pria kecuali adik tirinya," heran Mey-Mey . Ia terus menelisik maksud dari bos sahabat nya itu.
"Pria yang ada di dalam gambar ini bersamanya." Bagas pun meletakkan ponsel ke tangan Mey-Mey . Kemudian ketika gadis itu membuka gambar yang di maksud, seketika itu juga kedua mata Mey-Mey hampir meloncat keluar dari rongga nya.
"Ini ... kejadian ini, benar-benar sebuah jebakan yang sengaja direkayasa,"
"Apa maksud mu?" Dahi Bagas pun berlipat tanda tak mengerti dengan keterangan yang diutarakan oleh Mey-Mey .
" Jadi, kekasihnya bernama Leo," gumam Bagas yang masih dapat didengar oleh Alexa.
" Adik tiri, bukan pacar! Asal kau tau saja, jika Alexa di culik kemudian diperalat keadaannya," jelas Mey-Mey yang sontak mendapatkan tatapan kaget dari Bagas.
"Jadi, pria ini --" Bagas tak meneruskan kata-katanya. Sebab tak lama kemudian ia merasakan jika ponsel telah bergetar dalam saku.
"Katakan ada apa?"
"Yukia, di kantor?"
"Baiklah, Virnie. Saya akan segera kembali. Layani nyonya dengan baik." Bagas menarik napasnya dalam lalu menghembuskan nya kuat. Setelah itu ia kembali meletakkan ponselnya ke dalam saku celana.
"Jaga Alexa, aku harus kembali kekantor." Tanpa menoleh lagi, Bagas segera berlalu dan menghilang. Seandainya bisa selamanya dari alur hidup sahabatnya itu. Pikir Mey-Mey.
__ADS_1
______
"Apa tuan tidak bilang sedang pergi kemana? Kenapa lama sekali?" cecar Yukia yang sejak tadi macam cacing kepanasan. Ia berjalan mondar-mandir di depan meja sekretaris yang bernama Virni itu.
"Maaf, Nyonya. Sebaiknya anda tunggu di ruangan tuan Bagas saja," ucap Virni memberi saran.
"Saya bosan di dalam sendirian. Tapi baiklah, kau buatkan saya kopi latte cepat!" titah Yukia, membuat Virni segera memisahkan bokongnya dari kursi empuk di depan meja kerjanya.
"Baik, Nyonya. Silakan tunggu di dalam," ucap Virni kemudian segera berlalu ke pantry.
Tak lama kemudian Bagas tiba, setelah Virni menutup pintu ruangannya.
"Apa nyonya di dalam?" tanya Bagas dengan raut wajah tak tenang.
"Iya, Tuan. Nyonya di dalam dan terlihat seperti orang kesal," jelas Virni.
"Baiklah, tunda meeting ku siang ini." Setelah memberi pesan kepada sekretarisnya, Bagas pun masuk ke dalam ruangannya. Bagaimanapun, dia harus menghadapi kemarahan Yukia. Entah, siapa yang mengirim foto ketika Bagas mabuk dan pulang ke apartemen Alexa.
"Kau kembali." Bagas berkata dengan dingin. Tak ada lagi aksen lembut dan antusias dalam menyambut kepulangan istrinya kali ini.
"Tentu saja aku kembali. Sebab aku merindukan suamiku tercinta," sahut Yukia dengan nada sindiran.
"Benarkah kau masih menganggap jika aku ini suamimu?" sarkas Bagas. Ia menatap Yukia tajam dari arah kursi singgasananya.
"Tergantung, bagaimana kau menganggap ku," balas Yukia. Pasangan suami istri ini sekarang saling menyindir dan menyudutkan. Tak ada lagi kehangatan diantara mereka seperti yang biasa terjadi ketika kepulangan Yukia ke tanah air.
Bagas telah mengetahui segala kebusukan Yukia, di luar negeri. Bagiamana bebasnya kehidupan istrinya itu disana. Sementara dia disini selalu berusaha menjaga hati dan juga raganya. Diantara godaan yang datang menghampiri, Bagas tetap mengedepankan rasa cinta dan sakral pernikahannya.
"Jangan melempar kesalahanmu yang telah berkali-kali, bahkan bertahun-tahun mendustaiku. Kau bahkan tau bagaimana cinta dan hormat ku pada mu, dan pada pernikahan kita. Tapi, apa yang kau lakukan diluar sana? Kau bahkan tidak menghargai ku sama sekali. Kau telah menodai pernikahan suci kita. Kau yang memulainya Yukia, bahkan sejak awal!" bentak Bagas yang kali ini sudah tak lagi dapat menahan gejolak amarah dalam dadanya.
...Bersambung...
__ADS_1